Ini ‘Pongtiku’ dari Pangala’ yang Hidup di Pedalaman Papua

0
2339
Murid-murid SD YPK Po-Epe saat mengikuti proses belajar mengajar dari Frederik Sitau.

kabarpemuda-id.com, RANTEPAO – Frederik Sitau yang akrab disapa Fredy, sejak kecil bercita-cita ingin menjadi seorang guru, karena tidak memiliki seragam sekolah, ia pun bersekongkol dengan neneknya menjual beras tanpa sepengetahuan kakeknya. Di pedalaman Propinsi Papua Kabupaten Merauke tepatnya di Desa Po-Epe, Kecamatan Ngguti, pemekaran dari Okaba, Ia berjuang sendiri mengajar 6 kelas sekaligus, bertindak sebagai guru, Kepala Sekolah serta Bujang Sekolah dan hampir dibunuh dengan panah oleh orang tua murid gara-gara dituduh menganiaya anaknya.

Fredy lahir di Pangala’, 28 Februari 1972, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Markus Bunga’ Allo sedangkan ibunya bernama Alce Palese. Sejak kecil Fredy diasuh dan tinggal bersama Kakek dan Neneknya di Pangala’ karena kedua orangnya tuanya telah lama cerai. Ayahnya merantau ke Palu sedangkan ibunya merantau ke Malaysia. Fredy baru mengetahui nama ayah dan ibu saat baru pertama kali masuk sekolah karena semua siswa diberikan kesempatan untuk memperkenalkan nama kedua orang tuanya. Gurunya menyampaikan bahwa nama yang disebutkan tadi adalah nama Kakek dan Neneknya, bukan nama kedua orang tuanya. Ia sendiri baru pertama kali bertemu dengan ayahnya saat duduk dibangku kelas 3 SD, empat bulan kemudian bertemu denga ibunya serta saudara kandungnya dan saat itu juga baru mengetahui bahwa dia mempunyai saudara perempuan.

Frederik Sitau

SEJAK KECIL SUDAH HIDUP MANDIRI.

Masa kecil Fredy tidak seindah dengan teman sebaya pada umumnya. Sejak duduk dibangku SD Negeri 12 Pangala, SMP Negeri Pangala hingga SPG, ia mulai hidup mandiri. Untuk membiayai sekolahnya, ia harus bekerja keras membantu Kakek dan Neneknya, membajak sawah, gembala kerbau, dan memelihara kebun kopi miliknya sendiri, lalu menjualnya ke PT Toarco Jaya sebagai penada kopi yang berada di Pangala’ dan terkadang juga bekerja pada orang lain seperti yang pernah di lakukan di Wisma Sando membersihkan kamar, semuanya itu dilakukan karena faktor ekonomi.

Fredy tergolong anak yang pandai, meskipun ia jarang masuk sekolah karena harus berjuang menjalani kehidupan, nilainya cukup memuaskan. Pernah suatu ketika saat duduk di bangku kelas 2 SMP, gurunya tidak percaya karena nilai ulangan Biologi sangat tinggi jika dibandingkan dengan teman-temannya yang rajin masuk kelas. Dikiranya Fredy menyontek atau membuat konsep. Karena tidak percaya, ia dipanggil kembali oleh guru  untuk mengerjakan ulang soal-soal. Setelah mengerjakan soal-soal dan diperiksa oleh Bapak Gurunya, lalu berdiri dan berkata ”kok bisa?, kamu ini jarang masuk kelas, malahan bertambah lagi benarnya jika dibandingkan dengan soal-soal yang pertama tadi, bagaimana caranya?,” Fredy mengatakan, “setiap malam saya mendengarkan teman yang ada disebelah rumah saat belajar, dia membacanya bukan dalam hati melainkan suaranya jelas  sekali kedengaran, saat itulah saya mengambil kesempatan untuk mendengarkan  baik-baik, lalu mengingatnya, jika ada yang penting, saya mencatatnya,” Pak Guru mengangguk-angguk sambil tersenyum lalu mengatakan “bagus juga, akan tetapi kehadiran kamu kurang sekali, beruntung saja Kepala Sekolah tidak mengeluarkan kamu dari sekolah ini, berharap ke depan kamu rajin masuk,”

Saat duduk di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Rantepao, untuk membiayai sekolah dan kehidupannya, Fredy mengerjakan apa saja yang penting bisa hidup dan bisa membayar uang sekolah. Pernah menjadi tukang becak dan hampir membunuh seorang ibu hamil akibat becak yang dikendarai terbalik sebab penumpang lebih berat dari pada dirinya. Saat itu juga Fredy memutuskan berhenti menjadi tukang becak dan mencari pekerjaan lain seperti mencuci mobil, kondektur, dan buruh harian.

Karena tidak mampu membayar SPP, dirinya hampir tidak lanjut sekolah padahal waktu itu tinggal 4 bulan ujian, beruntung saat itu kepala sekolah menemuinya dirumah kost dan mengajak kembali masuk sekolah. Berkat dukungan dan dorongan dari kepala sekolahnya, Fredy pun berhasil menyelesaikan studinya di Sekolah Pendidikan Guru.

MERANTAU KE PAPUA.

Fredy sempat mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Universitas Kristen Toraja di Kakondongan Jurusan Bahasa Indonesia, hanya saja baru satu semester dilaluinya terpaksa berhenti karena tidak mampu membiayai uang kuliahnya. Ia kembali  ke Pangala’, selang beberapa hari ada kabar bahwa tetangganya akan merantau ke Merauke, ia pun memutuskan untuk ikut merantau. Berbekalkan tiket kapal laut dan pemberian uang sebesar 150 rb oleh mantan kepala sekolahnya di SPG, ia nekad merantau dan yakin ilmu yang didapatkan di Sekolah Pendidikan Guru akan bermanfaat bagi masyarakat Papua kelak.

Frederik Sitau saat bersama murid-murid SD YPK Po-Epe

MENJADI GURU DI PEDALAMAN PAPUA

Berbekalkan ijazah SPG setingkat SMA, ia diterima menjadi guru sebagai SATIGU (Satuan Bhakti Guru) tahun 1993 dan ditempatkan di Desa Po-Epe yang waktu itu masih termasuk wilayah Kecamatan Okaba. Saat ini Desa Po-Epe masuk dalam wilayah Kecamatan Ngguti pemekaran dari Kecamatan Okaba. Perjalanan dari Okaba menuju kampung Po-Epe memakan waktu kurang lebih 1 minggu berjalan kaki, itupun tergantung kondisi cuaca, jika musim hujan maka harus menghentikan perjalanan dan harus membuat bevak darurat. Saat ujian tiba, guru-guru yang ada di Po-Epe selalu mendampingi murid-murid ke Okaba dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1 minggu, menggunakan perahu dayung melewati sungai, rawa, kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki. Ini sudah menjadi rutinitas yang dilalukan kurang lebih 27 tahun sejak terangkat menjadi guru tahun 1993.

Kurang lebih 18 tahun terangkat menjadi guru, barulah tahun 2011 Fredy dapat melanjutkan kembali kuliahnya di Universitas Terbuka (UT) Jurusan S1 PGSD Pokjar Merauke. Kuliah sambil mengajar di daerah pedalaman membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang baik. Walapun kebanyakan orang mengatakan bahwa kuliah di UT itu enak dan gampang karena hanya waktu-waktu tertentu saja. Tetapi bagi seorang guru yang mengabdi di daerah pedalaman harus berjuang menempuh perjalanan yang sangat jauh. Bagi Fredy semua tantangan dan kendala itu tidak mengurungkan niat untuk melanjutkan dan menyelesaikan kuliah. Desember 2015 ia berhasil menyelesaikan studi dan mendapat gelar Sarjana Pendidikan.

Menjadi guru kurang lebih 27 tahun di SD YPK Po-Epe ia banyak menghadapi kendala dan tantangan. Tidak sedikit orang tua membawa anak-anak ke kampung-kampung atau ke dalam hutan dengan berbagai alasan, ada yang mengatakan bahwa tidak ada makanan lagi, ada pula yang beralasan tidak mau meninggalkan anaknya sendiri di rumah karena takut Suanggi (dukun yang menekuni ilmu hitam), dan yang paling sering terjadi adalah memintakan izin hanya 2 atau 3 hari saja, tetapi kenyataannya izinnya sampai 1 bulan baru kembali. Memang tidak bisa dipungkiri, pola kehidupan masyarakat pedalaman Papua berbeda dengan yang lain. Umumnya tinggal dikampung seakan-akan hanya dijadikan tempat istirahat, jarang ada yang berkebun didekat perkampungan. Saat kehabisan makanan, mereka pasti masuk hutan dan ke kampung-kampung yang jauh dari pemukiman. Hal ini sering dialami Fredy bersama dengan guru lainnya, jika kehabisan bahan makanan, terpaksa mereka merebus daud ubi tanpa garam lalu dimakan. Sedangkan yang lainnya menikmati kelapa muda dan kelapa tombong. Fredy dan guru lainnya baru bisa menikmati sagu setelah sebagian masyarakat kembali dari kampung-kampung dan memberikan sebagian sagu mereka. Selain menjadi guru kadang kala Fredy menjadi tenaga perawat. Merawat masyarakat yang terluka atau sakit dengan memberikan obat seadanya yang memang dia persiapkan untuk dirinya dan juga untuk murid-muridnya. Walapun kenyataan ini sering dihadapi, tidak mengurungkan niat seorang Fredy untuk tetap mengabdi menjadi seorang guru di pedalaman Papua.

Suasana di SD YPK Po-Epe, Kecamatan Ngguti, Kabupaten Merauke, Propinsi Papua.

GURU RANGKAP KEPALA SEKOLAH HAMPIR MATI DIPANAH

Baru beberapa tahun setelah mengajar di SD YPK Po-Epe, dua orang rekan guru secara berurutan pindah dengan alasan mengabdikan diri dikampung mereka sendiri. Secara otomatis hanya Kepala Sekolah dan Fredy yang mengajar di SD YPK Po-Epe, dengan terpaksa 1 orang mengajar 3 kelas. Awalnya sangat kewalahan, tetapi lama-kelamaan mereka berdua terbiasa. Tiba-tiba pada  Tahun 1997 Kepala Sekolah SD YPK Po-Epe dimutasi ke SD Alatep. Sejak saat itu Fredy tinggal seorang diri. Secara otomatis Ia mengajar 6 kelas sekaligus dalam sehari. Untuk memaksimalkan proses belajar mengajar, ia mengambil keputusan dengan menggabungkan siswa(i) sesuai tingkatan kemampuan siswa, sebagai contoh pelajaran bahasa Indonesia, yang belum mampu membaca dan menulis dengan benar, dari kelas 3,4 dan 5 digabungkan masuk ke kelas 1 dan kelas 2. Metode ini cukup berhasil karena sangat membantu dalam proses belajar mengajar.  Meskipun sangat melelahkan, Fredy tidak gentar dan mundur sedikit pun. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana anak-anak Papua ini bisa sekolah, tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk mau meninggalkan sekolah itu.

Fredy hampir saja dipanah dan dibunuh oleh orang tua murid, gara-gara salah satu dari anak muridnya perempuan yang duduk dibangku kelas 4 mengadu ke orang tuanya, bahwa dia dianiaya oleh Fredy. Padahal kenyataannya, Fredy hanya menampar pipi anak itu sebagai pembelajaran, karena telah berbohong berkali-kali. Saat jam istirahat anak perempuan itu bolos dan tidak kembali lagi ke sekolah. Keesokan harinya Fredy menginterogasi alasan mengapa anak itu bolos. Jawab anak itu, “Saya pulang ke rumah karena lapar pak,” tetapi Kenyataannya tidak demikian, anak itu bolos karena bertemu dengan pacarnya, diperkuat atas keterangan murid-murid lain dan juga seorang nenek datang mengadu ke sekolah karena salah satu siswa membawah perahunya dan tidak mengembalikan ke tempatnya, ternyata perahu tersebut dipakai anak perempuan itu untuk menemui pacarnya diseberang sungai. Saat Fredy mengajar di kelas lain, tiba-tiba murid panik dan berhamburan keluar kelas, ia bertanya apa yang terjadi?, mereka menjawabnya “ada seorang bapak yang datang marah-marah diluar kelas sambil menarik panah,” Ternyata yang mengamuk adalah orang tua dari anak perempuan tadi. Hampir saja nyawa Fredy melayang karena anak panah itu sudah diarahkan pada dirinya. Beruntung Fredy dapat menjelaskan mengapa anak itu dihukum.

Beberapa hari saat peristiwa itu, Fredy mendapat kabar bahwa akan ada Kepala Sekolah baru yang bernama Yohanis Kwaito, tentu Fredy sangat senang karena akan ada yang membantunya mengajar lagi, tetapi sayangnya hanya beberapa bulan saja kemudian pindah lagi. Enam bulan kemudian Fredy mendapat kabar lagi, bahwa akan ada rekan guru yang kebetulan satu suku dengannya yang bernama Herman Karembeng, lalu mendapat kabar lagi bahwa Kepala Sekolah yang baru bernama Baltasar Samkakai akan datang. Hanya beberapa bulan saja menjadi Kepala Sekolah Baltasar Samkakai meminta pindah lagi karena tidak cocok dengan masyarakat. Seringnya gonta-ganti Kepala Sekolah, maka pada tahun 2003 Frederik Sitau dilantik menjadi Kepala Sekolah. Sejak saat itu SD YPK Po-Epe tidak lagi gonta-ganti Kepala Sekolah. Selang beberapa tahun kemudian Herman Karembeng dimutasikan ke SD Kwemsid untuk mengisi kekosongan guru disana. Maka Fredy tinggallah seorang diri lagi merangkap Guru, Kepala Sekolah sekaligus merangkap bujang sekolah.

Atas dedikasinya menjadi guru di pedalaman yang tak kenal lelah dan pantang menyerah, akhirnya pada tahun 2007 mendapat penghargaan Award Indonesia Prestasi dari Exelcomindo Pratama kategori bidang Pendidikan. Kemudian tahun 2008 Ia mendapat kesempatan tampil di program Kick Andy Metro TV.

LAYAK MENJADI INSPIRASI

Frederik Sitau layak dijadikan inspirasi khususnya bagi guru-guru, karena ia adalah sosok yang konsisten terhadap tugas dan tanggung jawab. Menjadi guru di Pedalaman Papua selama 27 tahun bukanlah hal yang muda, perlu kesiapan mental dan fisik. Bagi Fredy Hidup adalah Pengabdian tanpa batas ruang dan waktu.

Sumber : KNPI Toraja Utara 2020 / BT

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here