Kisah Laskar Pelangi dari Buntu Sesean

0
1355
Marthen Sattu Sambo, saat bersama anak anak sekolah dipedalaman Papua.

MARTHEN SATTU SAMBO

Karena tidak memiliki biaya hidup, Ia harus mengajar private, kemudian tidak makan hampir dua hari, hanya minum air putih dan makan kerupuk, setelah menemukan uang recehan sebesar 500 Rupiah. hingga masuk rumah sakit dan diopname.

Marthen Sattu Sambo Biasa dipanggil Marthen lahir di Batutumonga, 28 Maret 1987. Setelah lulus di SDN 29 Batutumonga tahun 1999, Marthen melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 7 Lempo, lulus tahun 2002 lalu melanjutkan SMA di SMAN 2 Rantepao lulus tahun 2005. Atas kegigihan dan keuletannya, beliau berhasil menyelesaikan study di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga pada tahun 2010.

Mathen beranjak dari keluarga kurang mampu dan memiliki 9 orang saudara. Ayahnya bernama Yunus Sambo tidak pernah mengenyam pendidikan sedangkan, ibunya bernama Ludia Lisu pernah bersekolah hanya saja tidak tamat SD. Masa keciln Mathen dihabiskan di lereng gunung Sesean sebagai gembala kerbau dan membantu orang tuanya menggarap sawah dan ladang. Berkat didikan kedua orang tuanya, sejak kecil Marthen sudah menunjukkan sikap dan karakter hidup mandiri, tekun dan beliau memiliki kemauan keras untuk bersekolah.

SEPEDA RAKITAN

Sewaktu duduk di bangku SMP, cuma satu cita-cita yang dinginkan Marthen yaitu memiliki sepada. Marthen berpikir, sepeda ini sangat membantu dirinya ke sekolah, karena jarak yang ia harus tempuh sejauh 14 kilometer, pergi dan pulang sekolah. Tak jarang ia tiba di sekolah dengan kondisi basah kuyup meskipun sudah berusaha melindungi badan dengan daun pisang. Untuk mewujudkan cita-citanya, sehabis pulang sekolah Marthen mulai bekerja di penggilingan padi dekat rumahnya milik salah seorang pengusaha dari Rantepao, karena ia berpikir meminta uang di orang tuanya tidak mungkin, bahkan untuk makan saja susah.

Dari setiap upah yang ditabungnya, Awalnya Marthen membeli rangka sepeda bekas rusak dari sahabatnya kemudian memberikan pilox hitam dirangka sepeda tersebut agar kelihatan baru, beberapa hari kemudian setelah tabungannya cukup, ia membeli ban, rem, dan merakit Sepeda sendiri karena tabungannya tidak cukup membeli sepeda baru. Sepeda kesayangannya ini masih digunakan hingga lulus SMP.

Marthen Sattu Sambo (Tengah), bersama Kedua Orangtuanya.

AYAH ANAK BEDA WARNA

Setelah lulus di bangku SMP. Ia berkeinginan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Kali ini Marthen mendapat tantangan, karena Kedua orang tuanya menginginkan Marthen masuk di sekolah kejuruan sama halnya dengan tiga saudara Marthen sebelumnya. Marthen sangat paham keinginan orang tuanya selain keluarga besar mereka juga hidup pas-pasan, kelak setelah menyelesaikan sekolah kejuruan dapat langsung bekerja. Namun Marthen berbeda pandangan dengan kedua orang tuanya, Marthen lebih memilih masuk di SMA. Meski tanpa restu dan dukungan dari orang tua nya, Marthen mendaftarkan diri di SMA Negeri 2 Rantepao.

Setelah dinyatakan lulus masuk di SMA Negeri 2 Rantepao, kesempatan ini tidak disia-siakan Marthen untuk menunjukkan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya mampu bersaing, selama duduk di bangku SMA, Marthen mendapat peringkat 2 besar kelas unggulan IPA. Marthen juga pernah membawah nama baik sekolahnya yaitu Juara 2 olimpiade Biologi se-Kabupaten Tana Toraja.

Marthen Sattu Sambo (Tengah, Saat di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Propinsi Jawa Tengah)

TERTAWA DAN MENANGIS DI UKSW

Impian Marthen lulus di SMA Negeri 2 Rantepao akhirnya tercapai. Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya jika ia bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Saat itu ada kesempatan untuk mengikuti Beasiswa dari LPFI (Lembaga Pengembangan Fisika Indonesia) dari Prof. Yohanes Surya untuk kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Propinsi Jawa Tengah. Niat Marthen untuk mengikuti test beasiswa hampir saja dibatalkan, mengingat saat itu ia harus membayar uang 50 ribu sebagai biaya administrasi. Bagi Marthen uang 50 ribu saat itu cukup besar, beruntung ada seorang guru fisika yang bernama Bertha Todingan memberikan ia uang untuk membayar biaya administrasi test. Kesempatan emas ini tidak dibuang sia-sia, alhasil Marthen dinyatakan lulus dan berhasil mendapatkan beasiswa dari LPFI. Di Salatiga Marthen tinggal di kost, untuk menyambung hidup yang serba seadanya, terkadang ia harus mengajar les dan menjaga toko teman.

Marthen Sattu Sambo, saat mengajar kepada anak anak sekolah dipedalaman Papua.

Ada pula kisah dimana Marthen tidak memiliki biaya hidup, dia tidak makan hampir 2 hari, hanya minum air putih dan makan kerupuk setelah menemukan uang recehan sebesar 500 rupiah dan akhirnya harus masuk rumah sakit dan di opname karena lemas. Marthen tidak memberitahu keluarganya karena tidak ingin memberatkan beban orang tua. Dia sadar betul akan kondisi ekonomi mereka. Saat Wisuda di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Marthen berhasil mendapat IPK tertinggi di Fakultas Sains dan Matematika dan dinyatakan sebagai wisudawan terbaik.

Marthen Sattu Sambo, saat bersama anak anak dipedalaman Papua.

MENGABDIKAN DIRI DI DAERAH PEDALAMAN PAPUA

Pada umumnya menjadi wisudawan terbaik yang memiliki IPK terbaik pastinya akan bercita-cita bekerja pada sebuah perusahaan besar atau instansi pemerintah. Beda halnya dengan Marthen, dia lebih memilih mengabdikan dirinya di daerah pedalaman Papua. Marthen bergabung dalam program Guru Bantu oleh Surya Institute selama kurang lebih 2 tahun di Kabupaten Mamberamo Tengah Papua. Lalu tahun 2012 kemudian bergabung dengan salah satu organisasi kemanusiaan Kristen Wahana Visi Indonesia (WVI) sebagai staff di bidang Monitoring, Evaluasi dan Learning sektor pendidikan dasar untuk Cluster Jayawijaya (Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya dan Tolikara) Propinsi Papua. Keputusan mengabdi di daerah pedalaman dan bergabung di organisasi kemanusian semata-mata dilakukan untuk menolong sesama khususnya anak-anak Papua. Marthen beranggapan bahwa dirinya sewaktu kecil tidak jauh berbeda dengan anak-anak Papua pada umumnya, mereka kurang beruntung dalam hal mengenyam pendidikan yang layak. Selain itu, semasa hidupnya Marthen banyak mendapat pertolongan dari orang-orang sekitarnya, atas dasar inilah beliau mengabdikan diri kepada bangsa di sektor pendidikan.

Marthen Sattu Sambo, saat bersama anak anak sekolah dipedalaman Papua.

Tahun 2014, Marthen Sambo diundang oleh Andy F. Noya. Untuk tampil di acara Kick Andy show Metro TV dengan tema Mengejar Mimpi, tentu suatu kehormatan karena tidak semua orang bisa seperti marthen, karena hanya orang-orang yang dianggap menjadi inspirasi untuk orang banyak yang bisa tampil diprogram TV tersebut.

PRESTASI

1. Mendapat nilai UAN tertinggi di SDN 29 Batutumonga
2. Juara 2 Olimpiade Biologi se-Kabupaten Toraja
3. Juara pada lomba Paduan Suara Internasional di Takarazuka, Jepang bersama Paduan Suara Mahasiswa UKSW.
4. Wisudawan Terbaik dengan IPK tertinggi di Fakultas Sains & Matematia Universitas Kristen Satya Wacana.

MENJADI INSPIRASI

Marthen Sattu Sambo dapat dijadikan insipirasi khususnya bagi generasi muda berkat kegigihan dan keuletannya dalam menggapai sebuah mimpi.

Sumber : KNPI Toraja Utara 2020 / BT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here