Jenderal Kelahiran Toraja Ini Pernah Memimpin Kepala Staf Angkatan Laut

0
5394

RUDOLF KASENDA

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi saat meresmikan gedung kantor baru Dinas Potensi Maritim (DISPOTMAR) TNI Angkatan Laut, Rudolf Kasenda, di Kelapa Gading Jakarta Utara, Jumat (11/9/2015) mengatakan  Rudolf Kasenda sebagai Panglima, beliau tidak pernah menyalahkan orang lain, sekalipun kepada Prajurit. Marah atau kalimat salah tidak pernah terucap. Beliau, hingga kadang kala sepanjang hari tidak sempat melihat matahari. Setiap laporan selalu pertanyaan nya alasan kamu apa?, menurut kamu bagaimana?. Tutur kata nya sangat bersahabat, komunikatif, dan selalu memberikan jalan keluar terhadap anak buahnya,”

***

Laksamana Rudolf Kasenda lahir di Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1934, Bapaknya Manado, Ibunya Toraja dari Basse Sangtempe, Ia Lulus sekolah rakyat (SD) dan SMP di Rantepao, kemudian melanjutkan SLA di Makassar lulus tahun 1952, ia merupakan Lulusan terbaik Akademi Angkata Laut tahun 1955. Istrinya bernama Tilly Sumolang dan memiliki 3 anak Decy Kasenda, Deby Kasenda, dan Daniel Kasenda. Ia meninggal pada 11 Juli 2010, disebabkan sakit jantung dan komplikasi. Dan jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

KARIER DI TNI ANGKATAN LAUT

Semasa berkarier di angkatan laut, Rudolf Kasenda banyak mengikuti pendidikan kemiliteran di dalam dan luar negeri, di antaranya adalah:

  1. Long ND Course di India (1961-1962).
  2. Destroyer Course (1963-1964).
  3. Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut/Seskoal (1970-1971).
  4. Pendidikan Senior Defence Management Course (1976) di Amerika Serikat.

Selama 5 tahun (1955-1960) ia banyak menghabiskan waktu sebagai perwira di berbagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI). Kemudian tahun 1960 hingga 1961 menjadi Dansional di Palembang. Ia menjadi Komandan Kapal Frigate dan perusak TNI AL selama kurun waktu tahun 1962 hingga 1964.

Tahun 1964 hingga 1966, Ia ditugaskan di Manado. Karirnya melesat sejak tahun 1966 setelah menjabat sebagai Kepala Staf Komando Maritim X hingga tahun 1968. Rudolf Kasenda kemudian memimpin Skuadron 31 Perusak TNI AL tahun 1968-1973. Arah karir militernya sudah mulai kelihatan ketika ia ditunjuk menjadi PABAN Operasi pada Departemen Pertahanan (1973-1976).  Tahun 1978 hingga 1981 menjadi Aslog Hankam dan tahun 1981 hingga 1985 ia diangkat menjadi Panglima Armada. Ia juga Mantan Wakil Asisten Operasi pada Mabes Angkatan Laut (1976-1978) serta Deputi Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Laut (1985-1986), ia juga pernah menjabat Kepala Staf Komando Penyerbuan Operasi Seroja Tim-Tim. Ditahun 1986 Rudolf Kasenda dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Laut sejak tahun 1986 hingga 1989 oleh Presiden Suharto.

Pascapensiun, ia ditunjuk menjadi Duta Besar Luar Biasa untuk RI di Republik Korea (1990-1993). Di kalangan bisnis di Korea, nama Rudolf sangat dikenal. Ada sebuah sikap respect dari kalangan bisnis di sana tentang sikap kerja sang Laksamana yang menunjuk perkataaan Jozo A. G, seorang mantan Executive PT. Barito Pasifik Timber, “Dia (Rudolf –red) lurus seperti sebuah mistar.”

Rudolf memiliki hubungan historis dengan para pengusaha Korea, karena ia bekas Duta Besar di sana. Itu sebabnya dari tahun 1993 hingga juli 2010  ia masih menjabat sebagai Honorary Chairman of Korea Hwarang – DO Association.

MEMIMPIN PERTEMPURAN LAUT  OPERASI SEROJA TIM-TIM (1975-1979)

Saat operasi seroja Timor-Timur, pertempuran laut pun meletus. Dua kapal perang angkatan laut (AL) Portugal masuk dengan dipersenjatai rudal kaliber tinggi ke wilayah lepas pantai Dili yang jarak kapal tersebut hanya 4 mil atau 7 kilometer dari KRI Ratulangi. Saat itu Rudolf Kasenda menjabat Kolonel Laut, berkumpul di ruang radar KRI Ratulangi, bersama sejumlah pimpinan menyusun strategi perang. Rencananya kapal perang angkatan laut Portugal akan menghalau pendaratan tentara RI lewat laut di Dili.

Menjelang fajar, kedua kapal tersebut tampak samar-samar, ternyata kapal perangnya ditutupi dengan terpal sebagai tanda tidak bermusuhan. Dari analisa ini, Rudolf Kasenda berkesimpulan bahwa kapal perang asing itu tak lebih canggih dari KRI Ratulangi dan hanya bertujuan menakut-nakuti. Akhirnya, TNI-AL menembakkan rudal ke pesisir pantai Dili yang menjadi lokasi pendaratan, kedua kapal perang angkatan laut milik Portugal berhasil dipukul mundur. Di bawah kepemimpinannya TNI-AL berhasil menurunkan moril lawan sekaligus mengangkat moril pasukan pendarat. Kepiawaian tempurnya ini membuat Presiden Soeharto sangat kagum.

Gedung R. Kasenda, Dinas Potensi Maritim (DISPOTMAR) TNI Angkatan Laut.

NAMANYA DIKENANG DI ANGKATAN LAUT

Ia adalah sosok jendral yang sangat di kagumi di jajaran TNI angkatan Laut hingga kini, sebagai penghargaan terhadap beliau Angkatan Laut mengabadikan namanya lewat sebuah gedung di Markas TNI AL, Kelapa Gading Jakarta Utara.

Kepala Dispotmar TNI AL Laksamana Pertama Tommy Basara Natanegara menjelaskan alasan pemilihan nama R. Kasenda menjadi gedung kantor baru Dinas Potensi Maritim (DISPOTMAR) TNI Angkatan Laut, karena beliau merupakan lulusan terbaik Akademi Angkatan Laut tahun 1955, low profile, cerdas, teliti, dan santun, dan berharap TNI AL termotivasi membangun Dispotmar, mendukung berbagai program pemerintah menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Saat peresmian gedung, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi mengatakan bahwa penggunaan nama Laksamana Rudolf Kasenda, sudah melalui proses seleksi dengan berbagai kriteria. Dan penggunaan nama beliau baru kali ini dilakukan di lingkungan TNI Angkatan Laut. Penggunaan nama sudah sesuai dengan karakter, gaya kepemimpinan Almarhum. Pribadi Almarhum sangat saya kenal, karena ketika Letnan Dua, saya pernah mengikuti beliau, hingga diajak ke kampung halaman Ibu Tilly Kasenda (istri Alm) di Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara.

“Kala itu, sekitar tahun 1980, Pak Kasenda menjabat sebagai Panglima Armada TNI Angkatan Laut. Dalam berbagai operasi, sebagai Panglima, beliau tanpa sungkan, dengan lincah menaiki tali temali ketika menaiki Kapal, ataupun menyeberang dari satu kapal ke-kapal yang lain,” tutur Ade Supandi, mengenang Almarhum Rudolf Kasenda.

KSAL juga menceritakan sosok Kasenda yang dikenalnya akrab. Ia meminta perwira AL mencontoh sikap kepemimpinan mantan KSAL yang memimpin TNI AL selama tahun 1986 hingga 1989 itu.

“Sebagai Panglima, beliau tidak pernah menyalahkan orang lain, sekalipun kepada Prajurit. marah atau kalimat salah, tidak pernah terucap. Saya dan Pak Bernard Ken Sondakh, yang juga mantan KASAL, pernah selama 3 bulan mengerjakan tugas khusus dari beliau, hingga kadang kala sepanjang hari tidak sempat melihat matahari. Setiap laporan selalu pertanyaannya alasan kamu apa?, menurut kamu bagaimana?, Tutur kata nya sangat bersahabat, komunikatif, dan selalu memberikan jalan keluar,” kata KSAL saat meresmikan gedung R. Kasenda.

Ia menambahkan, kecendekiaan Kasenda yang suka membaca juga diharapkan jadi teladan para personel TNI AL.

“Sekali waktu saya sempat melihat tumpukan buku-buku diturunkan dari mobil dinas nya Toyota Hardtop. Dalam hati, saya bertanya, kapan waktunya Panglima membaca buku, bila melihat kesibukannya memimpin TNI AL.Ternyata setiap waktu luang beliau selalu sempatkan membaca buku-buku itu,” kenang Laksamana Ade Supandi.

MENJADI LASKAR KRISTUS

Ia sangat disiplin, tegas dan selalu memotivasi bawahannya. Ketika bertindak dan mengambil keputusan ia selalu berusahan berpatokan terhadap ajaran kristen, tentu sebagai manusia biasa, ia tak luput dari kesalahan.  Di lingkungan kerjanya, setiap bawahan jangan coba-coba sekalipun tidak menguasai permasalahan dan mencoba melapor sesuatu hal tanpa menguasai permasalahannya, karena akan didamprat dengan kata-kata “ngawur”. Ia memiliki sifat rasa ingin tahu yang tinggi hingga ke detail masalah serta sangat teliti.

Ia selalu berpikiran positif terhadap orang lain. Ia hanya bicara seperlunya dan langsung ke inti pembicaraan. ia adalah seorang Workaholic. Ia jauh berbeda dari kalangan Top Eksekutif kebanyakan yang biasanya, jarang tampil di kantor, kecuali jika ada rapat-rapat yang penting. Berani mati demi kebenaran dan sangat cinta Bangsanya.

KARIER

  1. Perwira pada beberapa kapal (1955-1960).
  2. Komandan Pangkalan Angkatan Laut Palembang (1960-1961).
  3. Komandan Pelabuhan Manado (1964-1966).
  4. Kepala Staf Angkatan Laut Wilayah X (1966-1968).
  5. Komandan Sukandron Perusak TNI-AL (1968-1973).
  6. Asisten Operasi pada Departemen Pertahanan (1973-1976).
  7. Wakil Asisten Operasi Markas Besar Angkatan Laut (1976-1978).
  8. Panglima Armada (1981-1985).
  9. Deputi Logistik Kepala Staf Angkatan Laut (1985-1986).
  10. Kepala Staf Angkatan Laut (1986-1989).
  11. Duta Besar Indonesia untuk Republik Korea (1990-1993).
  12. Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (1996-2010).
  13. Ketua Asosiasi  Logam Mulia Indonesia (1995-2010).
  14. Ketua Umum PB PORLASI (1981-1985).
  15. Chairman Businesman and Diplomats Association in Republic of Korea (1992-1993).

PENGHARGAAN:

  1. Honorary Chairman Korea Hwarang-Do Association;
  2. Medali Mahaputtra Adipradana, Kesetiaan XXIV Tahun, G.O.MIV, G.O.M VII, Sapta Marga, Satya Dharma, Penegak, Seroja;
  3. Bintang Daryah Kebesaran Kepahlawanan (From Malaysian Armed Forces);
  4. The Legion of Merit (From United States of America);
  5. Nish-Imtiaz (From Pakistan);
  6. Medal From French;
  7. Medal From Thailand;
  8. Medal From Holland;
  9. Medal From Brunei Darussalam;
  10. Medal From Republic of Korea.

MENJADI INSPIRASI

Rudolf Kasenda layak dijadikan inspirasi, meskipun pangkat dan jabatannya sangat tinggi, hubungan pribadi dengan Tuhannya selalu menjadi utama dalam hidupnya. Sosok yang selalu berpikir positif, sangat bersahabat, komunikatif, dan selalu memberikan jalan keluar terhadap anak buahnya. Kepedulian dan rasa memiliki akan identitas tidak diragukan lagi, salah satu contohnya adalah aktif dan terlibat di dalam Ikatan Keluarga Toraja hingga berjasa dalam menghadirkan Tongkonan Toraja yang ada di Jakarta.

KNPI Toraja Utara (dari berbagai sumber)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here