Perjalanan Hidup Putera Terbaik Toraja Frederik Batong

2
8183

FREDERIK BATONG

Saat pertama kali menginjakkan kakinya di pulau Jawa, ia berkata dalam hati ” Saya tidak akan pulang sebelum saya lulus dan ketika pulang saya harus dibiayai oleh negara.”
***

Berbicara soal enterpreneur di kalangan masyarakat Toraja tentu akan tertuju pada sosok Tokoh Nasional dan Putra terbaik asal Toraja, Sulawesi Selatan yang satu ini. Ir. Frederik Batong akrab disapa Fred Batong lahir di Rantepao, 12 Februari 1958, dan meninggal diusia 62 tahun pada hari Senin, 30 Maret 2020 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta.

Frederik Batong saat di Pesawat Kepresidenan.

Ia Lahir dari pasangan Thomas Batong dan Maria Kassa Paranoan. Ayahnya seorang Mantri Kesehatan sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Ia Tamat di SD V Rantepao tahun 1970, kemudian melanjutkan sekolah di SMP Kr. Rantepao lulus pada tahun 1973, masuk SMA Negeri 1 Rantepao lulus pada tahun 1976.

Bukan namanya Fred Batong jika hanya lulus sampai SMA, tidak tanggung-tanggung ia lebih memilih melanjutkan pendidikan di Bogor, kala itu sangat jauh dari daerah Toraja karena harus menempuh perjalan ke Makassar selam 3 hari 2 malam kemudian naik kapal laut ke Pulau Jawa, dan melanjutkan pendidikannya di Institute Pertanian Bogor, hingga selesai pada tahun 1981.

MASA KECIL MASA BERDAGANG

Sejak bayi, Fred Batong tidak tinggal bersama kedua orang tua kandungnya, ia diasuh oleh ayah angkatnya yang bernama Daeng Masita suami dari Lai’ Toban adik dari ayahnya Thomas Batong. Dipanggil Daeng karena orang tua angkatnya beragama Islam. Sehingga pembentukan karakter lebih banyak didapatkan dari ayah angkatnya ketimbang dari ayah kandungnya. Saudara angkatnya cuma satu, waktu SD saudara angkatnya sudah pendidikan tentara di Magelang.

Ayah angkatnya ini salah satu orang terkaya di Toraja pada saat itu, akibat dari perbuatan yang gemar berjudi, satu persatu harta kekayaan habis, hingga pada akhirnya Fred Batong bersama ayah angkatnya mengalami masa-masa yang sangat sulit. Terkadang Fred Batong berpuasa di bulan yang bukan pada waktu puasa. Beruntung ibu angkatnya penyayang, penyabar dan murah hati sehingga hidup berat yang mereka alami ini bisa dijalani walapaun dalam kondisi pahit. Di masa-masa sulit itu, fred Batong bisa saja makan di ayah kandungnya atau dirumah neneknya, tetapi ia tidak melakukannya karena sejak kecil ia bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam kondisi apapun, suka dan duka mereka harus tanggung bersama, Dengan umurnya yang sebenarnya belum siap menerima kenyataan itu, dalam kondisi sulit, Fred Batong memutar otak bagaimana ia bisa membantu orang tuanya. Setiap ada orang main judi, Fred Batong ikut, bukan untuk main judi melainnkan menjual rokok batangan, keuntungannya dipakai membeli beras, sisanya ia pake untuk kebutuhan sekolah. Fred Batong lebih memilih berjualan rokok ketimbang berjualan yang lain, karena menurutnya orang yang main judi nilai uang recehan tidak ada nilainya. Rokok sebatang yang nilainya 1000 perak bisa dijual hingga 5000 perak per batang, jadi keuntungannya sangat besar.

Selain berjualan di tempat judi, Fred Batong juga berdagang dan memanfaatkan hari-hari pasar serta memberdayakan teman-teman sebayanya yang ada di Kodim Kota Rantepao, Japal dan Pasele. Karena tidak memiliki modal usaha, Fred Batong bekerja sama dengan pemilik toko, ambil barang setelah terjual baru dilunasi dan barang yang tidak laku dikembalikan. Setiap hari pasar, Fred Batong mengumpulkan mereka, barang dagangan yang dari toko dibagikan ke teman-temannya, setelah itu ia masuk sekolah, jam istirahat kembali mengontrol mereka. Boleh dikatakan Fred Batong sejak kecil sudah mahir berdagang tanpa mengorbankan pendidikannya. Secara prestasi Fred Batong selalu juara satu, hanya di SMA saja juara 3 akibat nakal. Waktu kecil tiada hari tanpa berkelahi, sebenarnya waktu kecil muka Fred Batong bopeng-bopeng akibat sering berkelahi.

Fred Batong juga sering jual beli ayam, hari-hari tertentu di daerah To’ Bewak sebelum jembatan Tagari, ia menunggu orang yang membawa ayam dari daerah Panga’, Tondon dan Nanggala. Setiap ayam yang lewat ia beli karena harganya masih murah, ayam jantan yang dibeli dibawah ke Pamannya Ne’ Candu karena jago lihat sisik, bulu dan paha ayam. Biasanya ayam yang bagus harga dijualnya lima kali lipat karena cocok untuk ayam aduan, jadi satu ayam aduan saja sudah bisa kembali modal. Akibat kondisi ekonomi keluarga yang serba sulit, semenjak SD hingga SMP masih telanjang kaki, setelah SMA baru memakai sepatu.

Frederik Batong.

JIWA SOSIAL BELAJAR DARI AYAH KANDUNG DAN AYAH ANGKATNYA 

Fred Batong baru mengetahui ayah kandung sebenarnya saat ia masuk SD, waktu kecil saat ada orang yang mengatakan bahwa ia anaknya Mantri Batong pasti marah besar dan tidak terima, jika orang dewasa yang mengatakan ia melemparinya dengan batu dan jika anak-anak sebayanya pasti berkelahi. Lama kelamaan baru Ia merimanya setelah mengerti saat Ada satu kejadian yang tidak pernah dilupakan Fred Batong, saat itu ia duduk di bangku SD kelas 5 saat selesai bermain. Ia dan dan teman-temannya bermain dibawah jembatan Singki’, Ayah kandungnya lewat diatas jembatan hendak menuju daerah Salu untuk mengobadi orang yang terkena sakit kuning.

Fred Batong berterik supaya ayahnya berhenti untuk ikut sama-sama ke daerah Salu. Kira-kira saat itu jam 11 siang berangkat dan tiba jam 3 sore karena menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sempat dalam perjalan keringat dingin, pucat dan pusing karena perut kosong. Ayahnya bertanya “apa kamu sakit”, Fred Batong menjawab “tidak”, karena jika ia mengatakan sakit, pasti ayahnya menyuruh istirahan dirumah warga lalu melanjutkan perjalanannya. Singkat cerita, ayahnya selesai mengobati. Biasa ayahnya langsung pulang karena tidak mau membenani keluarga. Fred Batong langsung bisik ke ayahnya, “pak, suruh mereka masak karena saya lapar sekali,” dengan terpaksa ayahnya menyuruh tuan rumah untuk masak nasi. Pikirnya Fred Batong memasak hanya sekitar 20 menit seperti yang ia lakukan di kota, ternyata memasak di kampung itu memakan waktu sekitar 1 jam karena menggunakan belangan yang terbuat dari tanah liat itupun cara masaknya diputar-putar. Saat pulang mereka hanya dikasih 1 ekor ayam, dalam hati Fred Batong berpikir “perjalanan begini susah tapi cuma dikasih 1 ekor ayam, tentu ini tidak sepadan, saya saja berjualan dipasar dapat keuntungan yang lebih besar.”

Foto Kenangan Pdt.Sufriadi, M.S, M.Th selaku Ketua DPP GAMKI Bid.Persekutuan dan Kerohanian (Pertama dari Kanan) saat bersama Ir. Frederik Batong (Kedua dari Kanan), Sekda Toraja Utara (Ketiga dari Kanan), Badan Ekonomi Kreatif RI (Keempat dari Kanan), dan Belo Tarran Presiden TFF saat Seminar Nasional Ekonomi Kreatif di Hotel Missliana, Toraja Utara.

Fred Batong baru menyadari setelah beranjak dewasa ternyata ayahnya ini adalah orang yang mimiliki jiwa sosial yang tinggi sama persis dengan ayah angkatnya. Dari situlah Fred Batong belajar mengikuti jejak ke dua orang tuanya itu.  Saat sudah kenal dan akrab dengan ayah kandungnya, Fred Batong rutin berkunjung ke rumahnya yang ada di Malango. Ia selalu mendapati orang datang berobat hingga jam 10 malam, kadang melihat ayahnya memberikan obat secara gratis.

Tahun 2008 ada sebuah peristiwa yang ada kaitannya dengan profesi ayahnya yang sering mengobati orang yang sakit dari kampung ke kampung. Saat itu Fred Batong ke rumahnya Ne’ Bulan yang ada di kampung Bori’, ia ke sana untuk meninjau orang yang sedang membangun Tongkonan, karena Fred Batong ternyata masih ada ikatan satu Tongkonan dengan Ne’ Bulan. Saat tiba Cuma 2 orang yang ada disitu, lalu menyiapkan tikar dan duduk di lumbung, lalu 2 orang itu pergi.

Dalam hati fred Batong berpikir “jangan-jangan saya ini salah masuk Tongkonan karena ditinggalkan, jika 15 menit mereka tidak datang saya pulang,” Tidak lama kemudian, banyak sekali orang datang dan membawah buah langsat karena kebetulan saat itu musim buah langsat. Kemudian ada seorang nenek bertanya “yang mana Fred Batong?”, “Aku mo Nek,” Jawabnya. Lalu Nenek itu memeluk Fred Batong sambil menangis. Dalam hati Fred Batong mengatakan “Nenek ini menangis mungkin karena saya datang mau bangun Tongkonan” ternyata tidak, Nenek itu menangis karena mereka masih hidup dan berkata “seandainya tidak ada bapakmu yang tidak mengenal lelah siang dan malam datang kalau kami sakit, kami ini mungkin sudah mati,” nenek itu melampiaskan harunya terhadap Fred Batong.

MEMBANGUN RUANG KELAS DARI BAMBU

Jiwa sosial Fred Batong sudah mulai nampak saat duduk di SMA. Saat itu Fred Batong menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Rantepao, ia melihat begitu banyak anak-anak yang baru mendaftar tetapi tidak diterima oleh pihak sekolah dengan alasan kapasitas kelas tidak memadai. Informasi ini didapatkan dari guru-gurunya, kemudian Fred Batong bertemu Kepala Sekolah yang saat itu dijabat oleh Pak Nente. Di hadapan Kepala Sekolah ia mengatakan kasihan anak-anak tidak sekolah dan harus mencari sekolah yang lain yang jaraknya sangat jauh. Di hadapan Kepala Sekolah Fred Batong menawarkan bagaimana kalau bangun kelas baru, mengenai pembangunannya ia yang akan bertanggungjawab asalkan pihak sekolah mau menerima anak-anak itu, persoalan meja dan kursi dibebankan ke orang tua murid.

Kepala Sekolah mengatakan “itu tidak mungkin karena membangun kelas baru meskipun dari bambu membutuhkan biaya yang cukup besar,” Pada masa itu masih tergolong susah, Fred Batong mengatakan “tidak ada biaya, saya ini tukang kayu, bambu saya banyak, serahkan semuanya ke saya, saya yang akan bertanggung jawab, dengan catatan Pak Kepsek setelah kami istirahat tidak boleh masuk lagi, saya dan teman-teman akan pergi mencari bambu,” Tawaran diterima meskipun Kepala Sekolah ragu dengan keputusan Fred Batong. Setelah ruang kelas jadi, barulah Kepala Sekolah percaya.
Sejak saat itu, Fred Batong hingga akhir hayatnya banyak membantu orang yang dalam kesusahan, ia banyak belajar dari ayah angkat dan ayah kandungnya mengenai nilai-nilai Sosial.

Frederik Batong (1958-2020).

KULIAH DI IPB 

Saat duduk di bangku kelas 2 SMA, ada tawaran dari Institute Pertanian Bogor (IPB), anak-anak yang berprestasi diminta mengirim nilai-nilai ke IPB. Fred Batong mengirim nilai secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua angkatnya, ia hanya berdiskusi dengan orang tua kandungnya. Setelah dinyatakan diterima di IPB Fakultas Pertanian Jurusan Agrobisnis, ayah kandungnya ngotot supaya kuliah di Unhas dengan pertimbangan terlalu jauh, tidak ada keluarga yang awasi, bahkan ayahnya sudah membeli sepeda untuk digunakan kuliah di Unhas. Fred Batong tetap ngotot dan bersikukuh untuk kuliah di IPB, bahkan dihadapan ayahnya mengatakan cukup 1 tahun saja membiayai kuliahnya selebihnya ia yang akan bertanggung jawab.

Di Bogor, Fred Batong tinggal bersama pamannya yang bernama Yan Nari seorang dokter hewan. Janji dihadapan ayah kandungnya ia buktikan, saat kuliah di IPB, tahun ke 2 sudah tidak meminta lagi uang ke orang tuanya. Fred Batong menjadi asisten dosen, dan saat masih berstatus mahasiswa sudah menjadi Pimpro Pengolahan Data di Perusahan Indo Konsultan, sebuah perusahaan terbesar di Indonesia milik Sumitro. Karena semua anak buahnya bertitle Insyur (Ir), saat turun kelapangan ke daerah-daerah, Fred Batong sudah menggunakan title Ir, meskipun kenyataannya beliau masih berstatus mahasiswa. Pada saat itu tahun 1979, gaji Fred Batong sehari ke lapangan dengan upah Rp. 27.500,- jika dibandingkan dengan gaji Ayahnya hanya 7.000,- perbulan. Pada saat itu harga kerbau sekitar Rp 75.000,- hanya 3 hari kerja Fred Batong sudah mampu membeli seekor kerbau.

Masih berstatus mahasiswa Fred Batong sudah mengirimkan uang ke Ayahnya lewat Pos, kiriman pertama Rp. 100.000,- Kebetulan saat itu yang jadi Kepala Pos Rantepao adalah sahabat ayahnya, saat menerima kartu pos, ayahnya tidak percaya bahkan kartu pos tersebut ia bolak-balik sambil berkata ini Rp. 10.000,- atau Rp. 100.000,- karena tidak percaya terhadap tulisan yang tertera di kartu Pos, kepala Pos mengatakan “begini saja kalau pak Batong tidak percaya, kartu pos itu saya beli Rp. 50.000,-  Ayahnya pun mengatakan “ini anak kerja apa?, kok bisa kirim uang sebanyak ini, jangan-jangan dia merampok disana, soalnya anak ini sering berkelahi?,” Semenjak saat itu Fred Batong sering mengirim uang ke ayahnya dan banyak membantu saudara(i) nya.

Fred Batong Bersama-sama pengurus PMTI, Pemda Tana Toraja dan Toraja Utara bertemu dengan Wapres RI Jusuf Kalla.

MEMIMPIN PUSKUD HINGA MENJADI SEORANG ENTERPRENEUR

Setelah lulus di IPB, Fred Batong ditawari bekerja di Bulog oleh Bustanil Arifin Kepala Bulog sekaligus Menteri Koperasi Dalam Kabinet Pembangunan III. Fred Batong cukup akrab dengan Bustanil saat masih mahasiswa saat menjadi ketua tenaga untuk membantu petani-petani di Karawang, Indramayu dan Bekasi. Sebenarnya tawaran ini adalah tawaran yang sangat menggiurkan, selain gajinya besar, Bustanil juga akan membuatkan 1 bidang khusus yang ia kembangkan dan tempat itu langsung dipimpin oleh Fred Batong, hanya saja ia menolaknya. Fred Batong malah meminta dirinya untuk bekerja di Koperasi yang gajinya tidak jelas. Saat itu Bustanil sempat tidak percaya karena barusan bertemu dengan orang yang justru meminta tempat bekerja yang tidak jelas gajinya.

Fred Batong mengatakan dihadapan Bustanil “saya lebih memilih tempat bekerja yang belum stabil, karena saya lebih suka bekerja yang memiliki tantangan dan bisa bertarung,”
Selain itu Fred Batong juga ingin memenuhi janjinya karena saat pertama kali menginjakkan kakinya di Pulau Jawa ia berjanji bahwa “saya tidak akan pulang sebelum saya lulus dan saat pulang saya harus dibiayai oleh Negara,” Inilah yang membuat Fred Batong meminta kepada Bustanil Arifin untuk bekerja di PUSKUD Sulsel.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat Menerima Persatuan Masyarakat Toraja yang dipimpin ketua umum Frederik Batong di Kantor Wapres, pada Januari 2015.

Akhirnya Fred Batong menepati janjinya pulang ke Sulawesi setelah lulus kuliah dan dibiayai oleh Negara. Selama 9 tahun bekerja dan membenahi PUSKUD Sulawesi Selatan dari tahun 1981-1990. Ada pilihan yang membuat diri Fred Batong sulit mengambil keputusan, saat selesai jabatan di PUSKUD Sulsel. Apakah dirinya kembali ke Jakarta atau tetap di Sulawesi Selatan. Waktu itu Fred Batong Aktif di Hikmi Sulsel, sahabat-sahabatnya seperti Ahman HT, Johan, Alim Kalla, Silo Harahap, mereka mengatakan “Fred ini harus dibuatkan perusahaan supaya tetap tinggal di Makassar, karena kalau kembali ke Jakarta hilang kawan kita satu,” dibuatkanlah satu perusahaan dan menjadi Dirut diperusahaan tersebut.

Setelah bergumul panjang, Fred Batong memutuskan kembali ke Jakarta, ia mengatakan jika ia hanya berputar-putar di Makassar, maka dirinya akan seperti ini terus. di Jakarta ternyata jabatan sudah menunggu banyak mulai dari Dirut Puskud Sulawesi Utara, Dirut Puskud Sumatra Utara, Dirut Puskud Jawa Tengah, Dirut Puskud DKI dan Dirut INCUB. Tetapi dari semua tawaran jabatan tersebut, Fred Batong lebih memilih bergabung dengan Tomy Soeharto di BPJR. Selama bekerja dan bergabung dengan perusahaan Tomy Soeharto, Fred Batong banyak belajar termasuk membangun link dan jaringan, hingga pada akhirnya Fred Batong secara mandiri membangun bisnis dan usahanya. Sosok Fred Batong dapat disandingkan sama dengan Ciputra seorang Pengusaha Nasional.

Frederik Batong juga pernah menjadi anggota MPR Utusan Daerah Sulawesi Selatan periode 1999-2004, juga pernah menjadi Dirut Inkud menjelang Orde Baru tumbang dan setelah sebelumnya sukses memimpin dan mengantarkan Puskud Hasanuddin, Ujungpandang (kini Makassar) sebagai Puskud terbaik nasional pada 1990-an. Ia juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila Periode 2015-2019.

Terakhir Fred Batong membangun dan merintis usahanya yang bergerak dalam Properti salah satunya membangun perumahan dengan nama Royal Spring, Ia juga menjadi Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI).

Ir. Frederik Batong saat Rapat Kerja Khusus PMTI.

PESAN UNTUK GENERASI MUDA

Sebelum Fred Batong meninggalkan kita semua khususnya generasi Muda Toraja, dalam wawancara khusus beliau berpesan:

1. Inisiatif, Kekurangan generasi muda khususnya Generasi Muda Toraja rata-rata menunggu, itu harus diubah, untuk menjadi orang yang sukses inisiatif harus diubah jika Sense Of Belonging sudah memiliki maka secara otomati bergerak tanpa harus menunggu.

2. Displin, Kalau kita sudah janji orang, harus dipenuhi dan tepat waktu, bagaimana mungkin kita menghargai orang jika waktu saja kita tidak penuhi.

3. Tanggap, Kekurangan itu hanya sekali atau dua kali, kalau ketiga kali itu fatal.

4. Harga Diri, penilaian seseorang terhadap harga diri, umumnya penilain kita orang Toraja hebat jika memakai dasi dan memakai jasa. Hidup itu tidak boleh gengsi yang harus kita malu kalau kita tidak bisa melakukan apa-apa. Sekarang saya melihat umumnya anak muda malu kalau mau pergi beli ikan dan beli sayur di pasar, harusnya yang malu itu kalau pergi beli ikan dan sayur baru tidak ada uang, mengapa tidak ada uang, ya karena tidak kerja, mengapa tidak kerja karena tidak tahu apa-apa atau malas baru menyalahkan orang lain lagi.

5. Rasa Percaya Diri, Umumnya kita ini penakut, jika sesama orang Toraja rasa-rasanya mau baku tikam, saat menghadapi orang lain sudah susah. Saat merantau yang dicari adalah yang bernama Markus, Lukas, Yohanes dll, jarang sekali yang mencari nama Muhammad, Abdullah, Idam, Siti dll. Ini yang harus di ubah harus bergaul dengan semua orang.

Satu lagi persoalan Toraja adalah kungkungan Kultural, terlalu membangga-banggakan leluhur. Kalau itu positif harus menjadi pendorong. Tetapi kalau tidak, jangan. Kebiasaan terlalu membangga-banggakan leluhur sampi ke dasar bumi, nenek saya jago, di tanya apakah kamu jago, tidak. harusnya kita malu kalau nenek kita jago baru kita tidak jago, Nenek kita sekolah harusnya malu kalau kita tidak sekolah.

LAYAK MENJADI INSPIRASI

Sebagai tokoh Nasional Fred Batong layak dijadikan inspirasi:

1. Fred Batong mengajarkan dan memiliki kepedulian sosial, sepanjang itu dalam kepentingan orang banyak, Fred Batong banyak berkorban, beliau banyak menghibahkan tanahnya untuk dijadikan jalan, Perkantoran Pemerintah, Sekolah dll.

2. Beliau secara tidak langsung mengajarkan kepada kita bahwa bergaul itu harus keluar, jangan menutup diri.

3. Berbicara kegiatan-kegiatan anak muda, pasti selalu disupport, karena menurut beliau anak muda adalah generasi penerus.

4. Sosok yang berani, tegas dan murah hati. Bergaul tidak memandang usia. Jika bertemu anak-anak, ia memposisikan dirinya sebagai teman dan sahabat bermainnya, jika bertemu anak muda, pasti memposisikan dirikan sebagai motivator dan jika bertemua dengan orang banyak memposisikan dirinya sebagai Leader.

Sumber KNPI Toraja Utara (Wawancara khusus)

2 KOMENTAR

  1. Pak Fred adalah salah satu Tokoh org Toraja yg unik penuh talenta dengan kecerdasan yg dimiliki.
    Kepedulian dan loyalitasnya bagi siapapun .
    Motivator …pemimpin yg tidak memposisikan dirinya pimpinan.
    Sifat mengayominya sangat dirasakan bila bertemu.
    Sosok leader yg pemberi solusi dalam berbagai hal.
    Gigih dalam berjuang dan utk menghadapi tantangan luarbiasa.
    Hidupnya nyata dalam Dedikasihnya khususnya bagi masyarakat Toraja.
    Semoga muncul Fred Fred yg seperti Figurmu Kanda Fred.
    Kami mencintaimu sepanjang masa….
    Tenanglah bersama Bapa di surga.. karyamu akan dikenang selalu…
    Sedih dan sedih tapi ya Tuhan sdh menyatakan karyanya…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here