Sosok Nico Bandaso’ Pasaka Yang Berjasa Mengembangkan Pariwisata Nasional

0
996

NICO BANDASO’ PASAKA

Semasa hidupnya lebih banyak diperuntuhkan bagi kemajuan pariwisata Nasional. Atas jasa dan gebrakkannya, Pariwisata Nasional sangat diminati wisatawan Internasional termasuk pariwisata Toraja pernah menduduki tujuan wisata ke-2 setelah Bali.

***

Nico Bandaso’ Pasaka lahir di Rantepao, 01 Nopember 1947. Putra ke-8 dari Alm. (Pur) Kombes Pol. J.S. Pasaka. Pada usia ke 69 Tahun tanggal 05 Juli 2016 pukul 08.30 WITA menghembuskan napas terakhirnya di Makassar. Suami dari Ingrid Margaret Pasaka ini memiliki tiga anak yakni; Miryam Adinda Pasaka, Elizabeth Nura’ Pasaka dan Ishak Ricardo Pasaka.

Tahun 1960 Tamat SD Negeri di Denpasar Bali, kemudian melanjutkan sekolahnya di kampung kelahirannya di Toraja. Tamat SMP Negeri Rantepao 1963 dan SMA Negeri Rantepao 1967.

Nico sempat mengenyam pendidikan di IPB Bogor sejak tahun 1967-1969 hanya saja tidak melanjutkannya dan lebih memilih kuliah di bidang pariwisata. Tahun 1970-1973 ke Jogjakarta masuk di Akademi Pariwisata dan berhasil menyelesaikan studinya, kemudian melanjutkan S1-nya di Swiss jurusan Pariwisata & Hotel pada tahun 1973-1974.

Setelah sekian lama 29 tahun kemudian Nico Pasaka melanjutkan dan menyelesaikan study S2-nya, tahun 2003 mendapat gelar MMC (Master Of Management Conference) di Politeknik Negeri Jakarta dan tahun itu juga mendapat Certificate PCO SACEOS (Sengapore Association of Convention and Exhibition Organisers and Suppliers & INCCA).

Dan ketika Nico tamat SMA sempat mengenyam pendidikan di IPB Bogor,  hanya saja baru 2 tahun kuliah di IPB Bogor, ia keluar dan lebih memilih kuliah yang berhubungan dengan dunia pariwisata, Nico masuk di Akademi Pariwisata Jogjakarta.

Foto Nico Pasaka Bersama Istri, Anak dan Cucu.

HIDUP UNTUK PARIWISATA

Lahir dari keluarga polisi tidak membuat Nico mengikuti jejak ayahnya, ia lebih memilih berkecimbung di dunia pariwisata ketimbang menjadi seorang polisi. Kecintaan terhadap dunia pariwisata sudah ada sejak tinggal di Bali. Saat duduk dibangku SMA Nico sudah menjadi guide (pemandu wisata) termasuk pernah menjadi guide Duta Besar Swiss untuk Indonesia yang saat itu berkunjung ke Tana Toraja.

Perkenalannya dengan Duta Besar Swiss membuat dirinya termotivasi tetap fokus pada dunia pariwisata,  hal itulah yang membuat Nico memutuskan kuliah di IPB dan memilih kuliah yang berkaitan dengan pariwasat. Tamat D3 di Akademi Pariwisata Jogjakarta kemudian melanjutkan pendidikan S1-nya di Swiss mengambil jurusan Pariwisata dan Perhotelan. Tamat dari Swiss, Nico kembali ke Indonesia dan langsung bekerja pada Host Committee PATA di Jakarta, sejak tahun 1974-1975 di tempat bekerja mulai mengadakan pengenalan para Buyer dan Travel Writer tentang apa yang diinginkan “demand” oleh segmen market dunia tentang destinasi Indonesia.

Nico Pasaka Bersama Istri saat berkunjung ke Jerusalem

Di Era orde baru, pada masa pemerintahan Presiden RI ke-2 Soeharto, Nico sudah mulai bergaul dan berkenalan dengan para petinggi negeri terlebih khusus mereka-mereka yang bekerja pada Kementrian Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi.

Tahun 1979, atas saran dan petunjuk Joop Ave, saat itu Joop Ave masih menjabat Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, Nico ke Papua dan mengadakan survey ke Baliem Valley dan Asmat dalam rangka pengembangan Special Interest Tours (minat khusus), hasil survey inilah yang menjadikan cikal bakal Kawan Timur Indonesia (KTI) berkembang menjadi Adventure Program. Sejak tahun 1986, Nico fokus mengembangkan pariwisata di Kawasan Timur Indonesia mulai dari Sulawesi hingga Papua. Di Jayapura, Nico membuka kantor cabang usaha pariwisata dan bekerjasama dengan pengusaha lokal untuk mengembangkan destinasi Wisata Papua.

Sejak tahun 1981, Nico sudah mulai membina dan merekrut tenaga-tenaga  SDM khususnya di Kawasan Timur Indonesia, SDM yang telah dibina ini telah menjadi cikal bakal pendobrak destinasi wisata di Papua, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi  dan Kalimantan Timur.

Tahun 1985, Nico kembali melakukan pengembangan usaha-usaha dibidang Pariwisata yakni disamping tour operator juga mendirikan usaha-usaha lainnya dibidang hotel, restaurant, diving, whitewater rafting dll serta mengadakan rekrutment tenaga asing sebagai konsultan dan advice to manager sesuai aturan kepariwisataan dan kompetensi bidang masing-masing.

Enam tahun setelah lulus di Swiss, sejak tahun 1980, Nico sangat aktif mengadakan promosi ke luar negeri dan menghadirkan even/bursa pariwisata dunia diantaranya; PATA TRAVEL MART, ITB BERLIN, FITUR MADRID, GARUDA ROADSHOW, WTM LONDON, ATF ASEAN, MADI PRAHA dll.

Di era tahun 1980-an hingga tahun 1990-an pariwisata Nasional memasuki puncak kejayaan dan khusus pariwisata Toraja menduduki urutan ke-2 setelah pariwisata Bali.

Nico juga banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah Republik Indonesia tentang perencanaan dan pengembangan pariwisata nasional. Atas jasa-jasanya menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi yang saat itu di jabat oleh Joop Ave memberikan penghargaan Adikarya Pariwisata sebuah penghargaan bergengsi  di dunia Pariwisata.

Khusus untuk daerah Sulawesi Selatan, tahun 1998, Nico membentuk INCCA/AKKINDO dengan tujuan mengembangkan wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference & Exhibition) dan akhirnya kota Makassar diakui sebagai MICE destinaatioan dan sejak tahun 2003 kota Makassar berada pada posisi ke-6 tujuan MICE Indonesia.  Sebagai cikal bakalnya di Makassar dibangunlah CCC (Celebes Convention Center).

Tahun 2003, Nico melakukan lobby ke pemerintah pusat dan Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) agar promosi pasar wisata Indonesia  dapat diadakan di luar Jakarta dan ternyata disetujui, sehingga tahun 2004-2005 diadakan di Jogjakarta dengan tujuan sebagai wahana pembelajaran bagi daerah untuk penanganan event pariwisata internasional kemudian atas perjuangan bersama stake holder tahun 2006 dan 2008 Makassar dipilih sebagai pelaksanan.

Tahun 2004, Nico kembali mencetuskan suatu gagasan yakni Celebes Cruise yang diajukan pada Badan Kerjasama Regional pengembangan Sulawesi (BKRPRS) dan telah disetujui oleh 5 Gubernur pada saat itu (Gubernur Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Sulawesi Utara) untuk penanaman modal bersama dengan kerjasama Pelayaranan Nasional Indonesia (PELNI) serta pengusaha se-Sulawesi, namum hingga akhir hayat beliau, perjuangan ini juga belum dilaksanakan walaupun sudah ada penanda tanganan kesepakatan bersama.

Hingga tahun Juli 2016 sebelumnya menghembuskan nafas terakhirnya, Nico masih menjabat Executive Director Makassar Tourism Board (BP3M) dan juga menjabat Regional Coordinator Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sulawesi.

Hingga Akhir Hayat Hidupnya, Nico tetap Memberi Diri Untuk Kemajuan Pariwisata Khususnya di Wilayah Indonesia Timur.

 PENGALAMAN DAN JABATAN ORGANISASI

  1. 1972 – 1973 Staff Biro Pariwisata DIY di Jogjakarta
  2. 1974 – 1975 Public Relation PATA Conference
  3. 1975 Mendirikan Biro Perjalanan Pariwisata
  4. 1978 Manager Zeds Hotel Makassar
  5. 1979 Manager Widhana Hotel Makassar
  6. 1979 BP7 Pejambon Jakarta
  7. 1980 – 1986 dan 2003 – 2007 Ketua DPD ASITA Sul-Sel
  8. 1997 Dewan Penyantun AKPAR Makassar
  9. 1998 – 2007 & 2007 – 2012 Ketua DPD INCCA/AKKINDO Sul-Sel
  10. 1999 Ketua Masyarakat Pemerhati Pariwisata Makassar Sul-Sel
  11. 1999 Wakil PD XIX FKPPI dan Wanhat GM FKPPI Sul-Sel
  12. 2002 Sekretaris Wanhat KBPPP (Keluarga Besar Putra Putri Polri) Sul-Sel
  13. 2003 – 2005 Ketua DPC PHRI Tana Toraja
  14. 2003 – 2006 Wakil Ketua BPD PHRI Sul-Sel
  15. 2003 – 2007 Wakil Ketua DPP ASITA Pusat dan Korwil ASITA KTI
  16. 2005 Ketua MPI/MPM (Masyarakat Pariwisata Indonesia) Sul-Sel
  17. 2006 & 2008 Koordinator TIME Makassar
  18. 2006 – 2007 Direktur Utama Perusda Pariwisata, Telekomunikasi dan Perhubungan Sul-Sel
  19. 2007 – 2011 Wakil Ketua DPP ASITA Pusat & Korwil ASITA Sulawesi
  20. 2010 – 2013 Executive Director BP3M/Makassar Tourism Board

PENGHARGAAN

  1. 1989 – The Best Commitment of Tourism, California University.
  2. 1991 – Penghargaan Menteri Parpostel RI – Upaya Pengembangan Kepariwisataan Nasional.
  3. 1996 – Penghargaan Menteri Parpostel RI –  Adikarya Pariwisata.
  4. 1996 – Penghargaan PATA Chapter Indonesia – The Great Commitment to Indonesia Tourism.
  5. 1999 – Penghargaan Menteri Pariwisata, Seni Budaya RI – Maintaining Standard Quality of Services.
  6. 2002 – Penghargaan Kepariwisataan Pemda Kota Makassar – Prestasi Kerja Sebagai Abdi dan Tokoh Masyarakat.
  7. 2005 – Penghargaan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI – Pengembangan Destinasi Wisata
  8. 2005 – Penghargaan BIMP – EAGA – Joint Tourism Development
  9. 2006 – Penghargaan Menteri BAPENAS RI – Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Kawasan Timur Indonesia.
  10. 2007 – Penghargaan Saudara Bugis Makassar – Sebagai Pembahas Temu Usaha Pariwisata.

LAYAK MENJADI INSPIRASI

  1. Nico Bandaso’ Pasaka layak di jadikan inspirasi, di dunia pariwisata semasa hidupnya ia termasuk orang yang paling tekun memperkenalkan dan mempromosikan pariwisata Indonesia termasuk di dalamnya Pariwisata Toraja.
  2. Nico Bandaso’ Pasaka tidak pernah kehilangan akal dalam menciptakan formula baru pengembangan Pariwisata Nasional sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pasar.
  3. Nico Bandaso’ Pasaka termasuk orang yang low profile dan mau berkorban terlebih dahulu baik secara ide maupun secara finansial demi kepentingan orang banyak, Bangsa dan Negara.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Wawancara Langsung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here