Sosok Samuel Kadang, Nasi Sisa Menjadi Kapal Dolarosa

2
8635

SAMUEL KADANG

Markus, dari pada nasi sisa itu kamu buang, bolehkah besok jangan kamu buang, bolehkah saya makan dulu sebelum kamu buang kata Samuel Kadang.

 ***

Suami dari Debora Pasule ini lahir di Se’pon Maruang, Rantepao Toraja Utara pada tanggal 28 April 1952. Merupakan anak pertama dari pasangan Le’ Sappe dan Ne’ Burun dari 4 bersaudara.  Ia hanya tamat sekolah rakyat sederajat SD. Sempat mengenyam pendidikan di ST sederajat SMP namun tidak tamat. Karena kondisi ekonomi sangat memprihatinkan, Samuel Kadang memilih tidak lanjut sekolah dan membantu orang tua mencari uang, ia berjualan di pasar seperti tembakau, sabun, gula dll. Apapun dilakukan, baginya yang penting menghasilkan uang dan halal. Kini Samuel Kadang memiliki 5 anak yakni Yosia Rinto Kadang, Kristian kadang, Ria Kadang, Alfian Kadang dan Natalia Kadang.

Samuel Kadang Bersama Istri dan Anak Pertama Yang Bernama Yosia Rinto Kandang Yang Kini Menjabat Wakil Bupati Toraja Utara

HUJAN AIR MATA DI NEGERI ORANG

Setelah dewasa, tahun 1977 Samuel Kadang memutuskan merantau ke Merauke. Saat itu ada seorang guru yang bernama Yan yang bertugas di pedalaman Merauke sedang cuti pulang ke Toraja, karena ayah dari Samuel Kadang sangat dekat dengan ayah dari Yan lalu mengajak Samuel Kadang  merantau ke Irian Jaya (kini Papua) bermodalkan ijazah SD. Di sana Samuel Kadang menumpang hidup di rumah orang lain, mengingat saat itu Yan juga bertugas di daerah pedalaman Merauke. untuk mempertahankan hidup Samuel Kadang tidak malu mengemis kepada orang lain, kadang kala tidak makan dalam satu hari, apapun dia kerjakan asalkan halal mulai dari penjaga kios, menjual botol bekas, membantu orang mengupas bawang, membuatkan kopi orang dengan harapan dapat diberikan makanan. Profesi ini dilakukan cukup lama.

Suatu hari ketika Samuel Kadang benar-benar lapar, ia berjalan menyusuri desa Merauke, ia melihat tumpukan botol bekas dirumah Agus Biu’ yang merupakan salah satu pejabat di Merauke. Botol itu dicuci lalu dijual dan dipakai untuk membeli sebungkus nasi. Dengan maksud yang sama keesokan harinya Samuel Kadang kembali ke rumah Agus Biu’, ia melihat seorang pembantu yang bernama Markus orang asli Papua sedang membuang nasi sisa, Samuel Kadang menjumpainya dan meminta nasi sisa itu lalu dimakannya. Samuel Kadang berpesan “Markus dari pada nasi sisa itu kamu buang bolehkah besok jangan kamu buang, bolehkah saya makan dulu sebelum kamu buang” kata Markus “ya boleh om” jawab Markus.

Agus Biu’ Yang Sedang Menggunakan Topi Koboi Hitam Adalah Sosok Yang Sangat Berjasa Dalam Hidup Samuel Kadang

BERTEMU AGUS BIU’

Hampir seminggu Samuel Kadang makan nasi sisa di rumah Agus Biu’. Suatu ketika Agus Biu’ mendapati Samuel Kadang dirumahnya, beliau memanggil Samuel Kadang yang sedang menenteng botol bekas, Samuel Kadang berpikir pemilik rumah ini marah besar karena telah mengambil botol miliknya. Dengan nada takut Samuel Kadang mengatakan “saya minta maaf pak, mungkin saya sudah mencuri”. “Tidak kamu kesini” tegas Agus Biu. Hati Agus Biu’ terharu dan tergugah setelah diceritakan pembantunya bahwa sehari-harinya Samuel Kadang makan nasi sisa.  Semenjak itu, Agus Biu’’ mempersilahkan Samuel Kadang tinggal di rumahnya dan melarang lagi makan nasi sisa.

Samuel Kadang Bersama Penduduk Asli Papua

NASI SISA MENJADI KAPAL DOLAROSA

Setelah Samuel Kadang tinggal di rumah Agus Biu’, beliau menyarankan untuk berdagang kecil-kecilan di daerah Okaba sebuah daerah pedalaman Merauke . Samuel Kadang menerima tawaran itu, lalu Agus Biu’ memperkenalkannya ke seorang Cina pemilik toko nasional. Samuel Kadang boleh mengambil barang dagangan di Toko Cina tersebut, setelah barang dagangan laku barulah ia membayarnya. Dari sinilah awal mulanya Samuel Kadang hidup mandiri. Perjalanan menjadi seorang wirausaha jatuh bangun, bangkrut dan bangkit kembali, ia tidak pernah putus asa menjalaninya, mulai dari berjualan pinang, tembakau, sembako, berdagang kopra, berdagang kulit buaya, berdagang burung cendrawasih hingga terjun ke dunia Kontraktor. Semua dilaluinya dengan penuh tantangan, rintangan bahkan pernah hampir dibunuh oleh masyarakat setempat.

Atas kegigihan, keuletan, ketabahan dan penyerahan diri kepada Tuhan, Samuel Kadang berhasil menjadi orang yang sukses. Saat ini dirinya digadang-gadang menjadi kontraktor terbesar dan terbaik di Papua. Ratusan alat berat dimilikinya termasuk beberapa kapal salah satu diantaranya adalah kapal dolarosa.

Kapal Dolarosa Yang Berhasil Menembus Pedalaman Papua Yahukimo

KEPEDULIAN DAN KEIMANAN SAMUEL KADANG DIUJI

Di saat Samuel Kadang memiliki istri dan anak, cobaan silih berganti menghampirinya. Suatu malam ada seorang laki-laki tidak dikenal mengetok pintu, laki-laki itu hendak meminta beras karena  sudah beberapa hari kelaparan. Di saat itu kondisi ekonomi Samuel Kadang masih memprihatinkan.  Istrinya yang bernama Debora Pasule menoleh dan bertanya ke Samuel Kadang “pa, bagaimana ini, beras kita tinggal 1,5 liter, sedang besok tidak ada lagi beras untuk dimasakkan anak-anak, mana lagi uang tidak ada?” Samuel Kadang menjawabnya “kasih saja ma, kasihan dia kelaparan, nanti Tuhan buka jalan”. Istrinya mengambil beras lalu membaginya, 1 litar untuk laki-laki itu sedangkan setengah liternya disimpan untuk keperluan besok.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar ada seorang tukang yang bekerja pada Samuel Kadang datang membawa 1 karung terigu beras. Samuel Kadang dan Istri bertanya, mengapa bisa ada beras 1 karung terigu  padahal sebelumnya mereka tidak pernah  memesan apalagi memintanya. Lalu Samuel Kadang teringat, bahwa Tuhan tidak pernah tidur disaat kita mau berbagi terhadap sesama yang sedang kesusahan.

Tahun 2003 di saat Samuel Kadang tengah membangun Gereja GPI Petra Merauke, sebagian besar pembangunan gereja ditanggung dan dibiayai oleh Samuel Kadang. Dalam kondisi dana tidak ada, meskipun gaji tukang belum dibayar, Samuel Kadang berkomitmen akan tetap melanjutkkan pembangunan Gereja hingga selesai. Dalam kondisi sangat membutuhkan dana untuk membayar tukang bangunan, tiba-tiba saja ada orang datang membawa uang 10 jt rupiah, katanya pernah pinjam uang sebelumnya. Samuel Kadang dan istri berpikir kapan dan dimana mereka pinjam uang, ternyata uang itu sudah lama dipinjam dan sebenarnya mereka berdua sudah lupa. Dengan penuh sukacita dan bersyukur kepada Tuhan, uang 10 jt ini dipakai oleh Samuel Kadang untuk membayar gaji tukang  sehingga pembangunan Gereja GPI Petra berlanjut tanpa ada kendala.

Samuel Kadang Saat Memulai Usahanya di Bidang Kontraktor

KONTRAKTOR BERHATI GEMBALA

Kesuksesan Samuel Kadang dalam dunia kontraktor tidak membuat dirinya lupa daratan, tahun 2004 ketika terjadi kelaparan di Yahukimo, hati Samuel Kadang terpanggil untuk membantu masyarakat Yahukimo. Samuel Kadang mengirimkan beras 20 ton beserta kebutuhan lainnya dengan menggunakan kapal Dolarosa miliknya. Kerap kemudian kapal Dolarosa ini berjasa dalam menurunkan harga semua kebutuhan pokok terutama harga semen, kini harganya sekitar 120 rb persak yang sebelumnya mencapai harga 1 jt rupiah. Mengapa tidak, kapal inilah yang telah merintis jalan sehingga kapal-kapal lainnya berani berlabuh menelusuri sungai menuju Kabupaten Yahukimo.

Menjelang paskah, Tahun 2008. Ada dua orang pendeta datang bertemu dan bercerita panjang lebar tentang nasib.  Mereka berdua sudah hampir purna tugas, tetapi belum mempunyai rumah. Mereka minta untuk dibantu dibangunkan rumah dan kelak mereka akan mencicil kepada Samuel kadang.

Hati Samuel Kadang benar-benar tergugah. Muncullah ide untuk membangunkan rumah. Samuel Kadang berpikir “mengapa hanya 2 unit rumah, sementara masih banyak hamba Tuhan yang belum memiliki rumah. Toh, saat saya pertama kali datang di Merauke, saya tidak mempunyai apa-apa, bahkan hidup saya lebih susah dari pada mereka”.

Akhirnya, Samuel Kadang memanfaatkan tanahnya yang kosong untuk membangun 22 unit rumah. 21 unit untuk Pendeta dan 1 unit untuk rumah keuskupan. Tipe rumah yang dibangun adalah tipe 90. Semua rumah yang dibangun diperuntuhkan bagi pendeta tanpa dipugut biaya, semuanya gratis, bukan hanya gratis tetapi jalan raya dan fasilitas listrik dan air disediakan oleh Samuel Kadang.

Kompleks Perumahan Yang Di Bangun Khusus Untuk Para Pendeta dan Pastor

 PENGHARGAAN

Samuel Kadang mendapatkan penghargaan penguasaha terbaik dan berpengaruh oleh surat kabar umum Sorot News tahun 2015.

MENJADI INSPIRASI

  1. Samuel kadang dapat dijadikan inspirasi, berkat kegigihan dan keuletannya. Beliau membantu pemerintah dalam hal membangun dan membuka lapangan pekerjaan. Saat ini Samuel Kadang mempekerjaan ratusan karyawan.
  2. Samuel Kadang berhasil menanamkan semangat kebersamaan antar umat beragama di Kabupaten Merauke. Bersama dengan beberapa pendeta dan pengusaha lainnya yang ada di Kabupaten Merauke, Samuel Kadang membantu pembangunan mesjid yang ada di Kabupaten Merauke  salah satunya masjid Raya Al-Aqsha. Apa yang telah dilakukan Samuel Kadang telah mendobrak kekakuan semangat kebersamaan antar umat beragama. Samuel Kadang telah menciptakan kebersamaan yang sesungguhnya dan menghilangkan permusuhan antar umat beragama.
  3. Samuel Kadang memiliki kepedulian sosial yang tinggi baik bagi masyarakat  Toraja maupun masyarakat yang ada di Papua.
  4. Samuel Kadang memberdayakan putra-putri Papua lewat kesempatan bekerja di perusahaan miliknya.
  5. Sebagai orang kaya, Samuel Kadang tidak pernah memilih-milih dalam bergaul, penampilan sederhana dan tidak pernah mempersoalkan masalah makanan, kendaraan yang ditumpangi dan tempat tinggal.
  6. Samuel Kadang bercita-cita menjadikan Toraja menjadi istana damai.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Wawancara Langsung dan Referensi Buku Berkeringat dan Tersenyum Karya Sili Suli.

 

2 KOMENTAR

  1. Inspiratif yang menginspirasi. Sebuah tapak indah yang sarat makna bagi siapa saja yang mau membaca dan mempelajarinya.
    Teruslah menebar benih semoga tumbuh dan berbuah walau bukan kita yang nikmati buahnya, jangan berhenti menebarnya karena yang kita miliki dan lakukan semata anugrah TUHAN; mamasena PUANG.
    Sarooo’

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here