Sosok Yusuf Rombe Dari Cleaning Service, Karyawan Hingga Menjadi Pengusaha dan Kontraktor

3
7483

YUSUF ROMBE

Tahun 1997 ketika mengerjakan proyek pengadaan 1.200 ekor anak babi , nama Yusuf Rombe terkenal di Banda Hasanudin Makassar, saat akan mengangkut 80 ekor babi ke Timika, pihak kargo maupun maskapai plin-plan mengangkutnya, akhirnya diganti menggunakan pesawat herkules. Saat akan diangkut, 1 peti berisi 10 ekor terbongkar. Babi berlarian sehingga terjadi kejar-kejaran di Bandara Hasanuddin.

***

Yusuf Rombe akrab disapa Papa’ Lika lahir di Bori-Toraja Utara, pada tanggal 15 Maret 1968. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara dari pasangan Yakob Ruru Rombe-Ludia Nanna. Suami dari Erda Darius  pernah menempuh pendidikan di SD Parinding. Setelah lulus pada tahun 1980 melanjutkan pendidikannya di SMP Bori lulus  tahun 1983,  lalu lanjut pendidikan di STM Tagari lulus tahun 1986.

Yusuf Rombe bersama istri dan ke-4 anaknya

MENJADI CLEANING SERVICE

Niat Yusuf Rombe menjadi seorang mahasiswa kandas  di tengah jalan, setelah dinyatakan tidak lulus di Universitas Hasanuddin Makassar, ia memutuskan merantau ke Timika lalu menuju ke Tembagapura dan langsung memasukkan lamaran kerja di PT. Freeport Indonesia, sayangnya lamaran kerja ditolak. Di Tembagapura, untuk mengisi waktu luangnya, Yusuf Rombe membantu tantenya membuka usaha warung makan khas Toraja, yang menyediakan daging Rw dan B2 (masakan khas Toraja), ayam dan bebek.

Tugas utama Yusuf Rombe adalah setiap harinya potong daging. Sambil bekerja sebagai tukang potong daging, Yusuf Rombe juga bekerja sebagai tukang cuci mobil, sekaligus cleaning service di kantor Nur Alam di Tembagapura. Nur Alam adalah salah seorang petinggi di PT. Inamco Varia Jasa, sebuah perusahaan yang menyalurkan tenaga kerja ke PT. Freeport Indonesia. Sebagai tukang cuci, praktis Yusuf Rombe harus bangun pagi-pagi di tengah dinginnya udara kota Tembagapura. Rangkap tugas ini dilakoni selama tiga bulan.  Berkat ketekunannya sebagai cleaning service, Nur Alam kemudian mengangkatnya menjadi tenaga honor di PT. Inamco Varia Jasa dan ditempatkan dibagian administrasi. Setelah bekerja selama 1,5 tahun di Inamco, Yusuf Rombe kemudian berhenti dan pindah menjadi karyawan ware-hause PT. Freeport Indonesia dilokasi tambang Grassberg, merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu, beliau memilih berhenti dan kembali ke Toraja, selama 2 bulan di Toraja, Yusuf Rombe memanfaatkan waktu untuk latihan mengendarai mobil. Hal itu dilakukan karena mantan pimpinannya menginginkan kembali ke PT. Inamco.

Yusuf Rombe saat menjadi karyawan pada PT. Inamco Varia Jasa

DARI CLEANING SERVICE, KARYAWAN HINGGA MENJADI PENGUSAHA DAN KONTRAKTOR

Yusuf Rombe adalah seorang pekerja ulet, ulung dan tidak malu melakukannya, awal mulanya beliau bekerja sebagai cleaning service, karyawan hingga menjadi seorang pengusaha dan kontraktor. Melihat hasil kerjanya yang cukup memuaskan, setelah kembali dari Toraja, Nur Alam menempatkan kembali Yusuf Rombe di bagian Administrasi. Dari sinilah awal mulanya memulai karier usahanya. Sambil bekerja sebagai karyawan, Yusuf Rombe membuka peluang bisnis kecil-kecilan, yaitu jasa mengantarkan surat-surat dari kantor ke barak-barak karyawan yang jaraknya sekitar 2 Km. setiap mengantar surat beliau selalu mendapatkan tip dari karyawan, hasil dari tip ini ditabung. Selain itu juga, ketika cuti dan pulang kampung, Yusuf Rombe membeli baju dan celana lalu di jual ke sesama karyawan.

Kota kecil Tembapura tempat Yusuf Rombe memulai usahanya.

Tak puas dengan bisnis sampingannya, sambil bekerja sebagai karyawan Inamco, Yusuf Rombe membuka kios di barak N no 136. Awalnya, Yusuf Rombe hanya menjual rokok, kue dan minuman ringan. Kemudian berkembang dengan menjual pakaian.  Di Tembagapura, semua karyawan yang bekerja di areal tambang PT. Freeport Indonesia tinggal di barak, setiap barak terdiri dari beberapa kamar dan setiap kamar ditempati 4 karyawan. Sayangnya kamar yang ditempati Yusuf Rombe kurang strategis sebagai tempat usaha kios. Kamar yang ditempati  terletak paling pojok,  Yusuf Rombe mencari akal bagaimana caranya supaya mendapatkan kamar yang sangat stategis. Kamar yang sangat strategis terlatak pada nomor N-129.

Yusuf Rombe melobi dan menegosiasi pemilik kamar N-129. Bentuk Negosiasi adalah, TV 14 inch milik Yusuf Rombe diberikan kepada pemilik kamar N-129 dan menambah uang sebesar Rp. 500.000,- (satu bulan gaji full) kepada masing-masing yang berjumlah 4 orang.  Saat itu TV masih sangat langkah dan mahal harganya. Setelah negosiasi dan deal dengan pemilik kamar N-129, tantangan berikutnya adalah 3 orang temannya yang berada di kamar N-136 juga harus pindah. Untuk memindahkan mereka, masing-masing diberikan satu bulan gaji full. Yusuf Rombe juga menghubungi pengurus bagian penempatan barak agar bersedia memberikan izin penukaran tempat huni barak dan akhirnya negosiasi berhasil.

Di Tembagapura, karyawan yang bekerja ada yang masuk pukul 04.00, Setiap harinya Yusuf Rombe harus bangun paling lambat 03.30. Usaha kiosnya tidak mengganggu pekerjaan utama, Yusuf Rombe masuk kantor pukul 07.30  sampai pukul 17.00. setelah pulang kerja, Yusuf Rombe menjaga kios baraknya lagi hingga pukul 22.00 WIT. Hanya 2 bulan menempati kios baru, modalnya sudah kembali.

Yusuf Rombe memang lihai membaca peluang bisnis. Segala kebutuhan karyawan disediakan di kiosnya, mulai dari kebutuhan MCK, jasa cuci cetak foto, pakaian, makanan, hingga alat-alat elektonik. Keuntungan dari usaha kios di barak meningkat, rata-rata setiap harinya memperoleh keuntungan bersih minial 500 ribu.

Salah satu lokasi Proyek PT Kurnia Jaya Karya di Timika Papua

Tahun 1996, ketika dia dimutasi ke kota Timika, usaha kiosnya di Tembagapura tetap jalan, pengelolaannya dipercayakan kepada sahabatnya. setahun kemudian, usaha Kiosnya terpaksa ditutup oleh karena kebijakan PT. Freeport Indonesia melarang semua mitra untuk menggunakan barak karyawan sebagai tempat berdagang. Larangan PT. Freeport tersebut, tidak membuatnya patah semangat. Justru dengan matinya usaha kios di barak tersebut, dia makin fokus mengembangkan usahanya. Di kota Timika, Yusuf Rombe merintis usaha baru. Segala jenis usaha dilakoninya, mulai dari toko elektronik, foto copy, juragan becak, pengusaha babi, jasa transportasi hingga mendirikan beberapa perusahaan.

Tahun 2004, Yusuf Rombe memilih berhenti dari tempat kerjanya  sebagai karyawan PT. Inamco dan memilih fokus terhadap usaha dan bisnisnya.

Yusuf Rombe saat berada di pelabuhan Pomako Timika

MEMBANGUN TONGKONAN TORAJA MIMIKA

Dalam tatanan masyarakat Toraja, Tongkonan merupakan pusat sendi kehidupan dimanapun berada. Tongkonan merupakan pemersatu dan lambang kebesaran keluarga. Tahun 2007 Di kabupaten Mimika, masyarakat Toraja yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Mimika memiliki kerinduan untuk membangun sebuah Tongkonan.

Melalui sebuah kombongan kalua’ yang dipimpin oleh ketua IKT Mimika, alm. Thomas Muda Bato’ diputuskan bahwa IKT Mimika akan membangun sebuah Tongkonan. Diputuskan pula pembentukan panitia, saat itu Yusuf Rombe terpilih sebagai ketua panitia. Tugas berat menanti, selain masalah dana, sepetak tanah pun belum dimiliki oleh masyarakat Toraja. Muncul ide dari Yusuf Rombe, tanah milik haji Kose’ sekitar 1 hektar yang terletak di wilayah Sempan-Timika yang awalnya akan dijual ke Yusuf Rombe kini akan diperuntuhkan untuk tanah Tongkonan IKT Mimika. Saat itu harga jual 400 jt rupiah.

Masyarakat Toraja Mimika belum memiliki uang sebesar itu. Kerinduan besar untuk segera memiliki tanah tongkonan membuat Yusuf Rombe bersama dua orang lainnya yakni Yohanes Bassang dan Alex Padua menalangi dana tersebut.

Yusuf Rombe menanggung 200 jt rupiah sedangkan Yohanes Bassang dan Alex Padua masing-masing 100 jt rupiah dengan catatan 6 bulan kemudian dana talangan terebut akan diganti oleh masyarakat Toraja yang ada di Kabupaten Mimika. Setahun kemudian masyarakat Toraja hanya mampu mengembalikan dana talangan sebesar 100 jt ke  istri Alex Padua karena beberapa bulan kemudian setelah pembelian tanah Tongkonan Alex Padua meninggal dunia. praktis sesuai kesepakatan bersama, sebagaian tanah akan dimiliki oleh Yusuf Romba dan Yohanes Bassang. Yusuf Rombe bersama Yohanes Bassang tidak berpikir demikian, demi kepentingan orang banyak dan demi Tongkonan Toraja, mereka berdua mengiklaskan dana talangan tersebut.

Saat ini gedung Tongkonan IKT Mimika berdiri kokoh dan memberikan manfaat bagi masyarakat Toraja maupun masyarakat Papua.

Gedung Tongkonan IKT Mimika yang berdiri kokoh di kota Timika

MELAKSAKANAN UPACARA KEMATIAN

Menyandang status sebagai salah satu orang Kaya, tidak membuat Yusuf Rombe lupa daratan. Ketika ayahnya yang bernama Yacob Ruru Rombe meninggal dan akan diupacarakan dalam tatanan adat Toraja, Yusuf Rombe memilih melaksanakan Upacara dalam kategori wajar dan sesuai aturan adat yang berlaku. Tidak berlebihan dan juga tidak melanggar adat.

Ketika ayahnya diupacarakan  dari tanggal 03 s/d 10 Januari 2014, keluarga hanya mengurbankan 30 ekor kerbau, 18 ekor disembelih 12 ekor disumbangkan ke gereja-gereja, lembaga adat, Lembang dll.

Satu dari 12 ekor kebau yang disumbangkan ada jenis kerbau saleko, kerbau ini merupakan kerbau paling mahal di Toraja, harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Kerbau ini khusus diperuntuhkan untuk gereja. saat dilelang kembali, Yusuf Rombe menawarnya dan menukar dengan 3 unit mobil baru dan 3 unit motor baru.

Yusuf Rombe bersama kerbua Saleko, miliknya, di Toraja kerbau ini mahal harganya

PEDULI SOSIAL

Sebagai pengusaha dan kontraktor yang  dikategorikan sukses di Tana Papua, ia tidak lupa akan kepedulian sosialnya terhadap masyarakat Papua. Hampir setiap tahun ia membagi-bagikan pakain bekas dan baru kepada masyarakat pedalaman. Yusuf Rombe juga bekerja sama dengan PT. Freeport Indonesia menyediakan jasa transportasi bagi masyarakat Timika yang ada di 5 desa (Nawaripi, Koperapoka, Ayuka, Tipuka dan Gorong-Gorong). Ia menyediakan 10 bus khusus untuk mengangkut masyarakat 5 desa. Selain Yusuf Rombe, sebelumnya ada 2 orang pengusaha transportasi yang bekerja sama dengan PT. Freeport, hanya saja kedua pengusaha itu mundur dengan alasan tidak mendapatkan keuntungan. Yusuf Rombe tetap bertahan semata-mata membantu masyarakat dalam hal transportasi.

Tahun 2005 – 2013 ia menampung dibelakang rumahnya sebanyak 18 KK masyarakat Papua yang kurang mampu terlebih khusus para janda. Awalnya program ini kerja sama dengan pemerintah, saat pembayaran mau diselesaikan, Yusuf Rombe mengatakan tidak usah dibayar.

Yusuf Rombe juga kerap kali membiayai dan membina generasi muda khususnya dalam bidang olahraga,

 

MENJADI INSPIRASI

  1. Yusuf Rombe dapat dijadikan inspirasi, berkat kegigihan dan keuletannya. Beliau membantu pemerintah dalam hal membangun dan membuka lapangan pekerjaan. Saat ini Yusuf mempekerjaan ratusan karyawan.
  2. Sebagai orang Toraja, jika sukses dalam hal financial, pada umumnya jika kembali ke kampung halaman biasanya melakukan upacara kematian yang luar biasa hanya untuk mengejar status sosial. Yusuf Rombe tidak demikian, Ketika ayahnya yang bernama Yacob Ruru Rombe meninggal dunia dan diupacarakan, keluarga hanya menyiapkan 30 ekor kerbau, 18 ekor disembelih 12 ekor disumbangkan. Kerbau paling mahal tidak disembeli dan disumbangkan untuk gereja.
  3. Yusuf Rombe memiliki kepedulian sosial yang tinggi baik bagi masyarakat Toraja yang di Timika maupun masyarakat asli Papua.
  4. Sebagai orang kaya, Yusuf Rombe tidak pernah memilih-milih dalam bergaul, penampilan sederhana dan tidak pernah mempersoalkan masalah makanan, kendaraan yang ditumpangi dan tempat tinggal.

 

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Wawancara Langsung dan Referensi Buku Berkeringat dan Tersenyum Karya Sili Suli.

3 KOMENTAR

  1. Bagus jika ada buku biografinya utk menjadi sumber inspirasi pemuda Toraja khususnya yg merantau.
    Mantapp

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here