Sosok Cornelis Yang Berani Menjadi Garam dan Terang Dunia di Kota Keraton

0
988
Cornelis Guling

CORNELIS GULING

Saat anak pertamanya lahir yang bernama George, Ia terpaksa menggadaikan cincin perkawinannya untuk dipakai membiayai persalinan istrinya dan perawatan anaknya. Cornel berprinsip selagi masih mampu dan selagi masih ada jalan keluar, ia tidak mau memberatkan beban orang tuanya dan juga orang lain.

***

Nama lengkapnya adalah Cornelis Guling, SE., MM., Akt., CA., BKP anak ke 5 dari 9 bersaudara.  Istri bernama Dra. Restituta Sri Widiastuti asli jawa dan dikarunia 3  Orang anak: George Budi Setiawan Guling Putra, Vincent Hendra Setiawan Guling putra dan alm. Cornelia Grace Maharani Guling Putri. Ayahnya bernama Andreas Guling dari Bala’ba Rantetayo seorang PNS kepala kantor kas negara sedangkan ibunya bernama Maria Sina dari Marinding-Mengkendek seorang ibu rumah tangga.

lahir di Makassar tanggal 06 Desember 1965, oleh keluarga dan sahabat-sahabatnya dipanggil Cornel.

Memiliki ayah yang berstatus PNS membuat kehidupan Cornel berpindah-pindah  dari satu daerah ke daerah yang lain. Dari sini Cornel banyak belajar dan mengenal dunia luar, perbedaan ras, agama, etnis dan suku.

Ketika ayahnya yang bernama Andreas Guling ditugaskan di Kabupaten Majene propinsi Sulawesi Barat, kala itu masih berada dalam  lingkup propinsi Sulawesi Selatan. Cornel masuk di SD Negeri 2 Majene lulus tahun 1979, kemudian SMP Negeri 2 Majene lulus tahun 1982, masuk SMA Katolik Makale lulus tahun 1985, tahun 1992  mendapat gelar sarjana ekonomi dari Universitas Atma Jaya Jogjakarta. Tahun 2003 mendapat gelar Magister Managemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mitra Indonesia Jogjakarta. Untuk menunjang profesinya sebagai seorang akuntan, Cornel kembali mengambil gelar sarjananya dalam bidang akuntansi di STIE Widya Wiwaha Jogjakarta lulus tahun 2007, kemudian mengambil profesi akuntansi di Universitas Gajah Mada Jogjakarta lulus tahun 2009, terakhir dalam menghadapi pasar bebas (MEA) Cornel kembali mengambil gelar CA (Chartered Accountan) yang artinya sudah mendapat pengakuan sebagai akuntan profesioal berstandar Internasional, dengan demikian ia bisa membuka kantor dan mencari klien di luar Indonesia.

Cornelis Guling bersama Istri, Anak dan Cucu

Cornel termasuk anak yang beruntung karena memiliki ayah yang patut diteladani, ayahnya yang bernama Andreas termasuk orang jujur dan berpendirian teguh. Beliau meninggalkan harta yang tak ternilai bagi anak-anaknya  berupa pembentukan karakter, moral serta nilai-nilai agama. Saat menjabat kepala kantor kas negara, hanya mengandalkan gaji, beliau tidak pernah berpikir untuk mengambil keuntungan  padahal jika Andreas mau tentu dengan mudahnya dapat memperkaya diri sendiri. Saat pensiun ayahnya hanya mampu membeli mobil bekas yang di dom dan meninggalkan rumah yang sederhana bagi anak-anaknya.

Setelah lulus di SMP, Cornel kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA Katolik Makale. Hidup di asrama membuat dirinya terpisah dari kedua orang tua dan saudara(i) nya.  Di mata sahabat-sahabatnya pada dasarnya Cornel adalah anak yang baik dan penuh pergaulan, hanya saja terkadang ia lepas kontrol. Cornel kerap mengajak sahabat-sahabatnya bolos saat mata pelajaran bahasa Indonesia berlangsung dan Ia sangat tidak menyukai mata pelajaran itu, Cornel berpikir “kita sudah menjadi orang Indonesia, sehari-harinya kita berbahasa Indonesia, lantas mengapa kita harus belajar bahasa Indonesia lagi?”, kelak kemudian Cornel menyadari bahwa sebenarnya bahasa Indonesia sangat penting, bukan hanya soal pintar dan lancar menggunakan bahasa Indonesia, tetapi ada nilai dan semangat patriotisme yang terkandung di dalamnya.  Secara akademik ia adalah anak tergolong biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, prinsip hidupnya tidak mau menjadi orang pintar melainkan ingin menjadi orang cerdas dan ini juga diterapkan kepada anak-anaknya. Menurut Cornel “pintar belum tentu cerdas sedangkan cerdas sudah tentu pintar”.

Ketika lulus di SMA Katolik Makale pada tahun 1985, ia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter hanya saja cita-cita itu tidak terwujud. Gagal tes kedokteran di Universitas Hasanuddin Makassar, atas saran dan masukan dari ayahnya, ia kemudian masuk di Universitas Atma Jaya Jogjakarta dan mengambil jurusan ekonomi. Dari sinilah awalnya Cornel  menemukan titik terang dalam menjalani kehidupan sebagai orang yang bergerak dalam akuntan pajak. Sejak awal sudah berpikir “jangan waktu yang mengatur hidup, melainkan manusialah yang harus mengatur waktu”, sehingga ketika lulus dari Universitas, Cornel selalu berpikir bagaimana caranya kelak kemudian hari dapat mengatur waktunya dan memiliki banyak waktu untuk melakukan segala sesuatu.

Kantor Akuntan Pajak – Konsultan Pajak, Cornel & Rekan

MENJADI AKUNTAN PAJAK DAN KONSULTAN PAJAK.

Menjadi seorang akuntan pajak merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan jarang diminati. Saat ini pemerintah saat ini lagi gencar-gencarnya menerapkan wajib pajak dalam segala sektor baik secara organisasi, perusahaan maupun per-orangan. Bagi Cornel menjadi seorang akuntan pajak bukan sesuatu hal yang sulit, ia mengguluti profesi ini bahkan berani berkompetisi ditempat dimana banyak orang yang memiliki skill dan kemampuan tinggi.

Setelah Cornel lulus kuliah di Universitas Atma Jaya Jogjakarta , awalnya bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang akuntan pajak di Harry&Co, kemudian pindah ke perusahaan lain. Selama 5 tahun menjadi karyawan, batinnya tidak tentram dan selalu bergumul. Cornel berpikir “apakah saya harus begini terus?, apakah saya harus  bekerja terus pada orang?  atau apakah orang bekerja pada saya untuk dapat membantu dan melayani mereka?”. Suatu ketika Cornel ke Sendang Sono Jawa Tengah tempat berdoa secara khusus bagi umat Katolik. Di Sana ia meminta petunjuk kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Secara rasional orang berpikir, mengapa Cornel melakukan itu, padahal saat itu ia telah ditawari di beberapa perusahaan besar dengan posisi dan gaji yang cukup tinggi.

Sekitar 2 minggu kemudian, ada beberapa orang datang kepadanya meminta bantuan dibuatkan laporan perpajakannya, sontak Cornel berpikir ini mungkin jawaban Tuhan. Ia pun membuka kantor akuntan pajak dan konsultan pajak di Jogjakarta. Awal rumah pribadinya dijadikan kantor sementara dengan memanfaatkan ruang tamu, pagi sampai sore dimanfaatkan sebagai kantor, malamnya dimanfaatkan sebagai ruang keluarga. Setelah klien bertambah dari hari ke hari, mulailah merekrut karyawan.

Dalam pelayanannya, Cornel membantu perusahaan atau per-orangan secara spesialisai bagaimana cara membuat laporan perpajakan. Mulai dari laporan bulanan hingga laporan tahunan, sehingga Sistem kerjasama yang dibangun Cornel dengan Kliennya adalah bukan berdasarkan satuan kerja proyek melainkan berdasarkan bulan dan tahunan.

Hanya dalam waktu yang relatif singkat yaitu 2 tahun ia berhasil membuka kantor baru akuntan pajak, Cornel berhasil membangun kantor secara permanen yang terpisah dari rumahnya. Saat ini kantor milik Cornel & Rekan boleh dikatakan masuk salah satu kantor akuntan pajak besar di wilayah Jogjakarta dan telah mendapatkan register negara akuntan (NRA) no: 15061 dan sertifikat konsultan pajak no:SI-1774/PJ/2010.

Saat ini Cornel mempekerjakan kurang lebih 30 orang dan memiliki cukup banyak yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

Selain berhasil mewujudkan cita-citanya, Cornel juga masih dipercayakkan di beberapa perusahan besar menjadi tax accounting manager di antaranya adalah: tax accounting manager PT. Borneo Melintan Buana di Jogjakarta tahun 2005 – sekarang; tax accounting manager PT. Lifom Indonesia di Solo tahun 2008 – sekarang; tax accounting manager PT. Java Glove Indonesia di Jogjakarta tahun 2010 – sekarang dan tax accounting manager PT. Marvel Sport Internasional tahun 2015 – sekarang.

Cornelis Guling bersama staff dan karyawan

BERANI MENJADI GARAM DAN TERANG

ketika saya (penulis) berkunjung ke kantor miliknya, saya sangat kaget karena langsung diperhadapkkan dengan salib besar  dan beberapa foto-foto Yesus Kristus dan Bunda Maria juga terdapat ornamen-ornamen Toraja berupa ukiran-ukiran dan assesoris Toraja lainnya. Tentu menggunakan atribut-atribut seperti itu akan berdampak terhadap klien-klien yang berbeda keyakinan dengan Cornel. Kekuatiran saya ternyata berbanding terbalik, ternyata 90 % lebih kliennya justru berasal dari perusaha-perusahan yang nota benenya berbeda keyakinan dengan Cornel. Ia mengatakan rahasianya cuma satu, memegang teguh prinsip profesionalisme, karena dengan memegang prinsip profesionalisme orang tidak akan melihat dan memandang anda dari sudut ras, suku dan agama.

Dalam menjalankan profesi ini, ia justru mempekerjakan 70 % lebih karyawannya berbeda keyakinan dengan dia.

Ketika saya mewawancari beberapa karyawan yang berbeda keyakinan dengan Cornel, saya bertanya apakah kalian merasah risih dan terganggu dengan situasi kantor seperti ini, mereka menjawabnya Tidak, justru kami senang karena disinilah kami mengenal Indonesia yang sesungguhnya, semangat kekeluargaan dan profesionalisme sangat dijunjung tinggi, segala kebutuhan dan hak-hak karyawan dipenuhi. Setiap karyawannya diwajibkan menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya, bagi yang beragama muslim dibuatkan tempat Sholat dan diberikan kebebasan, dan bagi yang beragama Kristen dan Katolik setiap pagi berdoa dan beribadah sebelum melakukan pekerjaan.

Suasana ruangan Cornel Coffee yang kerap digunakan tempat diskusi

MENJADI KETUA IKAT JOGJAKARTA

Pada umumnya dibeberapa tempat di Indonesia, bahkan sampai keluar negeri. Di mana banyak orang Toraja berkumpul pasti disitu ada organisai masyarakat Toraja, khusus untuk wilayah Jogjakarta diberikan nama Ikatan Keluarga Toraja (IKAT). Saat ini Cornel dipercaya lagi  menjadi ketua IKAT, ini adalah periode yang ke-2 kalinya, sebelumnya sekitar 15 tahun yang lalu jabatan ketua dilepas. Secara berturut-turut posisi ketua IKAT Jogja adalahh Cristover, Benyamin Sampebua, Bert Tallu lembang kemudian kembali lagi ke Cornel. Pada periode pertama saat terpilih menjadi ketua IKAT Jogjakarta, karena tergolong muda, tidak sedikit orang tua  yang meragukan kepemimpinannya  bahkan terkadang mencibirnya. Justru di tangan kepengurusannya, IKAT Jogjakarta berhasil membuat sebuah gebrakan-gebrakan baru. Sering kali kesultanan Jogja mengundang mahasiswa Toraja mengisi acara di Keraton, mereka menampilkan adat dan budaya Toraja. Di masa kepengurusannya juga IKAT berhasil membangun Study Center yang diperuntuhkan bagi pemuda(i) Toraja yang menuntut ilmu di Jogjakarta, ada ribuan mahasiswa Toraja yang menuntut ilmu di Jogjakarta. Cornel bersama pengurus lainnya menghadap bupati Tana Toraja saat itu yang menjabat adalah Amping Situru, awalnya PEMDA menolak ide tersebut, namun pada akhirnya diterima, tentunya setelah melalui sebuah perjuangan yang sangat melelahkan.

Di Jogjakarta, bila ada mahasiswa membutuhkan pertolongan dan diketahui oleh Cornel, ia tak segan-segan membantunya. Jika ada keluarga Toraja atau mahasiswa yang terkena musibah atau ada yang meninggal dunia, IKAT Jogjakarta berinisatif mengumpulkan dana lalu di serahkan kepada keluarga ataupun menanggung biaya pemulangan jenazah.

Cornel Tennis Club (CTC)

DARI GEDUNG OLAHRAGA TENNIS HINGGA WARUNG KOPI TORAJA

Cornel memiliki hobby tennis, ketika menjadi mahasiswa Atma jaya masuk dalam UKM tennis dan sering mewakili kampusnya mengikuti kejuaraan tennis. Sampai hari ini pun mengguluti olahraga itu.

Cornel pernah membangun lapangan tennis dalam sebuah gedung, mungkin satu-satunya orang di Jogja yang memiliki lapangan tennis yang dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Kegiatan sosial ini dilakukan kurang lebih 15 tahun Kemudian mendirikan  club tennis yang disebut Cornel Tennis Club (CTC) dan segala kebutuhannya ditanggung oleh Cornel.

CTC telah banyak menghasilkan atlet-atlet tennis bahkan dari mereka sudah ada yang menjadi atlet nasional. Cornel melakukan semua ini karena kecintaannya terhadap dunia olahraga dan juga ingin berbagi kepada masyarakat Jogja.

Sejak tahun 2018 Gedung CTC diubah menjadi Cornel Coffee tujuannya untuk memperkenalkan kekayaan alam dan kekayaan budaya Toraja. Cornel Coffee bukan hanya tempat menikmati kopi yang asalnya dari Toraja, tetapi juga didesain  tempat belajar, diskusi, menonton dan bedah film.

Selain memiliki Warung Kopi Toraja, Cornel juga membangun Homestay. Terkadang Homestay ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial.

Cornel Coffee yang sebelumnya gedung Tennis

LAYAK MENJADI INSPIRASI.

  1. Cornelis Guling layak dijadikan inspirasi, karena ia mampu membuktikan dirinya dapat bersaing di skala nasional dengan mengedepan nilai-nilai profesionalisme;
  2. Beliau sukses dalam Karier tetapi tidak pernah lupa dalam bidang sosial;
  3. Dalam mencapai kesuksesannya, Cornel mengedepankan nilai-nilai agamanya tanpa  mengabaikan kekebasan orang lain dalam memeluk agamanya, prinsipnya “agamaku adalah agamaku, agamu adalah agamamu”;
  4. Selalu berupaya rendah hati, serta tidak memilih-milih dalam bergaul;
  5. Sebagai orang Toraja, jika sukses dalam hal financial, pada umumnya jika kembali ke kampung halaman biasanya melakukan upacara kematian yang luar biasa hanya untuk mengejar status sosial. Cornel tidak demikian, Ketika ayahnya meninggal dunia dan diupacarakan dalam tata cara adat Toraja, ia bersama keluarganya hanya mengurbankan tidak lebih dari 24 ekor kerbau.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Wawancara Langsung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here