Sosok Jonathan Para’pak Anak Desa yang Memajukan Pertelekomunikasian Indonesia

0
3672
Prof. DR (HC) Jonathan L. Para’pak, M.Eng.Sc,

JONATHAN LIMBONG PARA’PAK

Jonathan Limbong Para’pak adalah seorang pengajar dan mantan Direktur Utama PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat). Saat ini ia menjabat sebagai rektor Universitas Pelita Harapan, Tangerang, menggantikan rektor sebelumnya, Yohanes Oentoro. Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi pada 1991-1998. Tahun 2000, ia mengajukan pensiun dini ke Menteri Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya sebagai Sekretaris Jenderal dan memilih mengabdi di bidang pendidikan. Ia bergabung dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) sebagai penasehat pada 2001 dan diangkat menjadi Rektor Universitas Pelita Harapan pada 2006.

***

Prof. DR (HC) Jonathan L. Para’pak, M.Eng.Sc, dilahirkan pada 12 Juli 1942 di Desa La’bo, Toraja Utara, ayahnya adalah seorang pegawai Dinas Kehutanan yang selalu berpindah tempat tinggal mengikuti penempatan tugas sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Ayahnya bernama Kanaka’ Palinggi sedangkan ibunya bernama Sule Palinggi.

Ia adalah lulusan dari University of Tasmania, Australia dan dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dari Ouachita Baptist University.

Jonathan Para’pak Bersama Istri Anne Berniece Atkinson Saat Memimpin Ibadah di UPH (Sumber Foto @Novatri Gayang Pakan)

TUMBUH DAN BESAR DI DESA KECIL

Sewaktu kecil ia dipanggil Limbong, dalam bahasa Toraja, limbong adalah tempat genangan air yang biasanya terdapat dibagian hulu sungai. Limbong juga berarti sumber mata air yang tidak pernah kering yang dapat memberikan penghidupan segar kepada alam dan manusia. Mungkin filosofi ini ayahnya memberikan nama Jonathan Limbong Parapak, kelak kemudian menjadi berkat dan teladan bagi orang banyak. Sebelum ia di lahirkan, orang tuanya sempat memeluk agama asli suku Toraja yang disebut Alukta (Aluk Todolo). Kemudian ayah dan ibunya memutuskan untuk masuk agama Kristen, Limbong sendiri baru dibaptis pada 1949, dan diberi nama baptis Jonathan.

Bagi ayahnya, sekolah adalah segala-galanya, rotan dan kayu siap menghampiri diriya, ayahnya tidak segan-segan memukul Jonathan jika tidak bersekolah. Bagi Jonathan, sekolah merupakan perjuangan berat karena jarak yang harus ditempuh, faktor ekonomi dan keamanan, baik di desa maupun sesudah pindah ke kota kecil Rantepao. Seusai jam sekolah ia giat menggembalakan kerbau, ikut bekerja di sawah, dan juga melaksanakan berbagai tugas dalam keluarga. ia mulai sekolah pada umur 7 tahun di Desa Ulusalu Sekolah Rakyar (kini Sekolah Dasar), kemudian pindah ke Desa La’bo’. Kemudian ke kota kecil Rantepao.  Pembelajaran di sekolah dilaluinya dengan penuh keprihatinan akibat dukungan ekonomi yang terbatas, situasi keamanan dan kualitas pengajaran yang jauh dari memadai. Ia belajar praktis tanpa buku, tanpa lampu, sampai memasuki Sekolah Menengah Atas di Rantepao. Untuk sedikit meringankan beban ekonomi orang tua, jiwa wiraswastanya mulai muncul saat masih di SMP. Dalam skala amat kecil, ia berdagang ayam, pisang dan gula-gula (permen). Belajar di SMA di Rantepao sampai kelas II. naik kelas III, oleh kakak iparnya ia diantar ke Makassar untuk menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri Bawakaraeng lulus tahun 1961 dengan hasil baik. Jonathan Limbong Para’pak termasuk anak yang cerdas, selepas dari SMA, Jonathan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada waktu yang bersamaan ia mengikuti proses seleksi beasiswa Colombo Plan. Ternyata Jonathan terpilih dan ia bersama beberapa mahasiswa lainnya berangkat ke Australia, November 1961.

Foto Keluarga Jonathan Para’pak (Sumber Foto @Novatri Gayang Pakan)

MENUJU NEGERI KANGURU

Keberangkatannya ke Australia, tidak pernah menjadi cita-cita apalagi menjadi rencananya. Dengan berbekal tekad untuk sukses dan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas, perlengkapan yang jauh dari memadai, dia menuju arena baru yang secara budaya amat asing baginya. Ia bersama lebih dari 40 mahasiswa Indonesia dipersiapkan selama 2 bulan di Sydney. Kemudian dikirim ke Universitas Tasmania.
dari Toraja hingga Makassar ia hidup dalam rumah yang tidak pernah diterangi listrik, namun memberanikan diri mengambil jurusan listrik arus lemah (telekomunikasi). Kuliah di Fakultas Teknik Universitas Tasmania itu dirasakan cukup berat. Kuliah mulai pukul 09.00 pagi sampai pukul 13.00 setiap hari, disambung dengan praktikum dari pukul 14.00 sampai 17.00, sering sampai malam.  Di samping bahasa Inggris yang masih terbatas, latar belakang tekniknya sebagai anak desa kurang mendukung. Namun tekadnya untuk belajar sebaik mungkin tak pernah surut. ia menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang cukup baik. Saat melanjutkan studi pada strata II, Program Master of Engineering Science, ia pun menyelesaikan tepat waktu. Di samping perkuliahan, ia melibatkan diri dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kemasyarakatan, ia ikut membentuk dirinya dalam kepemimpinan dan bekerja sama dengan berbagai unsur masyarakat. Ia menjadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tasmania. Ia juga menjadi pengurus bahkan menjadi  Ketua Persekutuan Mahasiswa Kristen di universitas. Ia juga sempat menjadi pengurus Gereja setempat.

Salah satu aspek yang menarik dari pembelajaran yang dialaminya di Australia adalah keharusan untuk kerja praktik selama libur di bidang yang sesuai dengan program studi. Kesempatan itu merupakan pengalaman yang amat berharga selama 5 tahun bekerja di berbagai tempat. Seperti bengkel lokomotif, kantor perencanaan sistem komunikasi radio, instalasi sistem komunikasi radio di Tasmania. Perencanaan sistem komunikasi microwave di Tasmania dan di Melbourne, Australia.

Kegiatan PA Keluarga Jonathan Para’pak (Sumber Foto @Novatri Gayang Pakan)

KEMBALI KE INDONESIA

Berbekal ilmu yang diperoleh di Universitas dan pengalaman kerja di berbagai bidang, ia kembali ke Indonesia pada September 1969.

Semula ia berharap untuk mengabdi di lingkungan Perumtel (PT Telkom waktu itu), namun akhirnya ia bergabung tahun itu juga dengan Indosat (PMA), anak perusahaan International Telegraph & Telephone (ITT). Sebuah perusahaan yang dibentuk atas kerjasama AS-RI di bidang telekomunikasi.

Karirnya di lingkungan Indosat, dimulai dari bawah, menarik kabel, memelihara perangkat komunikasi, menginstalasi perangkat telekomunikasi, dan pimpinan proyek stasiun bumi, sistem komunikasi kabel laut. Hingga dalam waktu relatif singkat meningkat ke jajaran manajemen sampai ia menjadi pimpinan Indosat (PMA-ITT) pada usia yang masih sangat muda.

Selama Indosat masih berada di lingkungan ITT dengan Kantor Pusat di New York, Jonathan Para’pak mendapat kesempatan belajar dan membuktikan bahwa ia mampu memimpin perusahaan yang berteknologi canggih, berskala intemasional. Ia ikut merintis pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut ASEAN, Sistem Komunikasi Kabel Laut ke Timur Tengah, Eropa dan Australia.

Ia segera mendapat kesempatan mewakili perusahaan di berbagai pertemuan dan konferensi internasional, seperti di International Telecommunication Union (ITU), di Intelsat (International Satellite System), Inmarsat (International Maritime Satellite System). Ia pun menjadi figur internasional yang diperhitungkan dan diundang sebagai pembicara di berbagai konferensi dan seminar.

Tidak lama ia menduduki posisi puncak di Indosat (ITT), pada tahun 1980 pemerintah memutuskan untuk membeli seluruh saham Indosat. Keputusan Pemerintah Indonesia ini sangat mengejutkan ITT, karena kontraknya seharusnya sampai tahun 1989. Sebagai Pimpinan Puncak (Managing Director), Jonathan Parapak menghadapi dilema, kepentingan nasional atau kelanjutan kontrak (perjanjian) yang sah. Jonathan Para’pak mengambil posisi bahwa kepentingan nasional harus didahulukan, pembelian seyogianya dilaksanakan dengan dasar win-win agar citra bangsa tetap terpelihara. Jonatahn Parapak sangat terlibat dalam seluruh proses negosiasi yang akhirnya dapat mempengaruhi manajemen ITT untuk menerima keputusan Pemerintah. Jonathan Parapak bekerja keras siang malam, antara Jakarta dan New York. Akhirnya dalam waktu singkat dicapai kesepakatan harga yang dinilai adil untuk kedua belah pihak.

Jonathan Para’pak saat menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Depparpostel)

JADIKAN INDOSAT BUMN

Pada akhir 1980, resmilah Indosat menjadi BUMN penyelenggara telekomunikasi internasional. Pada akhir kesepakatan antara ITT dan Pemerintah Indonesia, Parapak ditawari jabatan penting di ITT, dan pada waktu yang sama diminta oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menjadi Direktur Utama Indosat (BUMN) yang pertama.

Jonathan Parapak tanpa ragu-ragu memilih untuk menjadi Dirut Indosat (BUMN), walaupun gaji dan remunerasi yang ditawarkan jauh lebih rendah. Di bawah kepemimpinannya, Indosat mengalami transformasi manajemen, kultur perusahaan, pengembangan sumber daya manusia. Indosat maju pesat dan mendapat perhatian para pengamat dan para ahli manajemen, telekomunikasi nasional dan internasional. Sehingga dalam waktu singkat Indosat menjadi salah satu BUMN terbaik di Indonesia dan berulangkali memperoleh penghargaan nasional dan intemasional.

Melalui Indosat, ia ikut berperan dalam pemilihan, penerapan dan pengembangan teknologi terkini dan tepat guna baik dalam mengembangkan dan memodernisasi layanan telekomunikasi maupun dalam manajemen perusahaan. Selama memimpin Indosat, JonathanParapak juga ikut berperan pada berbagai organisasi internasional seperti International Telecommunication Union (ITU), Intelsat, Inmarsat, ASEAN, APEC dan lain-lain.

Jonathan Para’pak mendapat kehormatan menjadi anggota Dewan Gubernur Intelsat mewakili ASEAN. Bahkan terpilih sebagai Wakil Ketua dan Ketua Dewan Gubernur Intelsat pada tahun 1989-1990. Jonathan Parapak sering diundang sebagai pembicara pada berbagai konferensi dan seminar internasional.

Ia bahkan dipilih sebagai pimpinan beberapa kegiatan global seperti Ketua World Plan, Asia & Oceania, Pimpinan/Ketua Konferensi Global Mobile Personal Communication Satellite System, yang menghasilkan kesepakatan dunia untuk memulai sistem komunikasi bergerak melalui Satelit.
Atas saran berbagai tokoh telekomunikasi dunia, Jonathan Para’pak dicalonkan Pemerintah Republik Indonesia untuk menjadi orang nomor satu di pertelekomunikasian dunia, sebagai Sekretaris Jenderal pada periode 1998-2003. Namun, krisis multidimensi melanda Indonesia, sehingga citra Indonesia pada saat pemilihan ikut mempengaruhi suasana pemilihan. Sehingga yang terpilih adalah calon dari Jepang.

Kantor Indosat

MENJADI SEKJEN DI DUA KEMENTRIAN

Jonathan Para’pak menjadi pimpinan puncak di Indosat sampai tahun 1991, pada saat itu ia diminta oleh Pemerintah melalui Menteri Susilo Soedarman menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Depparpostel).  Kembali Jonathan Para’pak tanpa ragu menerima tawaran tersebut walaupun gaji dan remunerasi sangat kecil dibanding apa yang diperoleh sebagai Dirut Indosat. Ia pun tidak mempersoalkan golongan yang diberikan, hanya III D, walaupun diberi pangkat lokal IV D. Semua itu ia syukuri dan terima sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Jonathan Para’pak menjadi Sekjen Depparpostel hampir 8 tahun, suatu periode yang cukup lama, mendampingi empat Menteri, yaitu almarhum Susilo Soedarman, Joop Ave, A. Latief dan Marzuki Usman. Ia meninggalkan Indosat sebagai Direktur Utama, dengan gedung Indosat yang megah, kinerja perusahaan dan sumber daya manusia yang cukup membanggakan, maka di Departemen Parpostel ia mulai pula dengan partisipasi dalam pembaruan dan modernisasi.

Selama jabatannya, Depparpostel akhirnya memiliki kantor yang paling bergengsi di Merdeka Barat, pengembangan sumber daya manusia yang profesional melalui kerja sama dengan Bank Dunia, mendukung Menteri memajukan pariwisata Indonesia pada pentas dunia. Ia juga mengembangkan konsep-konsep baru untuk reformasi sektor telekomunikasi dan pos serta membina Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956) koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai. Selama menjabat sebagai Sekjen, Jonathan Para’pak juga dipercaya sebagai Presiden Komisaris PT Indosat dan PT Inti. ia termasuk salah satu insan telekomunikasi dan teknologi informasi yang dikaruniai kesempatan mengabdi dan berperan pada seluruh tatanan pembinaan dan pengelolaan telekomunikasi di Indonesia. Tak mengherankan apabila sampai saat ini namanya masih sangat terkait dengan modemisasi pertelekomunikasian di Indonesia.

Sebagai putra terbaik negeri, ia dipercaya menjabat Sekjen di Departemen Pariwisata Seni dan Budaya. Di sektor Pariwisata, anak desa ini sangat terlibat dalam pengembangan berbagai konsep dan pemikiran yang terkait dengan kepariwisataan nasional. Antara lain gagasan bebas visa, Pariwisata Inti Rakyat, dan High Touch & High Tech Tourism. Tahun 2000, ia mengajukan pensiun dini ke Menteri Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya sebagai Sekretaris Jenderal dan memilih mengabdi di bidang pendidikan. Ia bergabung dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) sebagai penasehat pada 2001 dan diangkat menjadi Rektor Universitas Pelita Harapan pada 2006 hingga sekarang.

Selepas menjabat Sekjen Depparsenibud, ia masih berkiprah sebagai chairman dan Preskom di beberapa perusahaan lingkungan Lippo – AcrossAsia Multimedia (Indonesia). Antara lain di PT Broadband Multimedia (Kabelvision), PT AsiaNet Multimedia, PT Natrindo Selular (Lippo Telecom).

Gedung Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Depparpostel) Kini Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI

BERJASA MENGEMBANGKAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN NASIONAL

Sejak mengikuti Kursus Reguler Lemhannas 1984, Jonathan Para’pak sudah memulai dan mengampanyekan dikembangkannya Sistem Informasi Manajemen Nasional (Simnas), yang seharusnya sudah merupakan cikal bakal dari e-government di era internet. Jonathan Para’pak meyakini bahwa untuk dapat memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, diperlukan kader-kader birokrat yang kompeten, ahli dan termotivasi, yang didukung oleh teknologi terkini dan tepat guna. Reformasi birokrasi memerlukan reformasi paradigma, reformasi organisasi, profesionalisasi para pelaku birokrasi, dukungan sistem informasi dan komunikasi yang andal, terkini dan tepat guna. Kalau masyarakat kita marak memperbincangkan Indonesia baru yang ingin diwujudkan melalui reformasi total, Jonathan Para’pak, walaupun sadar akan pentingnya reformasi di sektor politik, hukum, ekonomi, dan pemerintahan, meyakini bahwa semua itu tidak dapat dilepaskan dari SDM berkualitas yang profesional di segala bidang. Karena itu, ia gigih memperjuangkan diberinya kesempatan kepada sebanyak mungkin anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan formal, magang, dan pelatihan, agar hadir tenaga-tenaga profesional yang andal dan berkualifikasi internasional. Di Indosat, Jonathan Para’pak memberi perhatian khusus pada pelatihan profesional, pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Di Departemen Parpostel ia mencari tenaga profesional dari ITB, UI dan lain-lain, kemudian disekolahkan ke luar dan dalam negeri. Ia memulai program magang di PT Indosat dan banyak melibatkan diri dalam pelatihan profesional bagi tenaga-tenaga muda.

BERJASA DALAM PERAN STRATEGIS TEKNOLOGI TELEMATIKA

Jonathan Limbong Para’pak adalah sosok pelaku teknologi yang visinya sangat jelas dalam kaitan dengan peranan teknologi untuk pembangunan bangsa dan negara serta peningkatan kesejahteraan manusia. Dalam berbagai makalah, ia berulang kali menegaskan peran strategis teknologi, khususnya teknologi telekomunikasi dan informasi untuk pembangunan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.

Ia meyakini peran yang sangat vital dari sistem komunikasi satelit untuk mempercepat persatuan Indonesia. Ia menjadi penggagas visi Nusantara 21, visi bangsa Indonesia di sektor telekomunikasi dan informasi dalam memasuki abad ke- 21. Untuk meyakinkan bangsa Indonesia bahwa kemajuan, kesejahteraan, daya saing dan kejayaan Indonesia di abad ke-21 sangat ditentukan oleh kesiapan dan kemampuan mewujudkan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, melalui pemanfaatan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Ia pula salah satu pemula konsep pembangunan Telematika di Indonesia, dan menjadi pimpinan berbagai kelompok yang sangat peduli dengan peran telematika dalam mewujudkan knowledge based society di Indonesia.  Sebagai pelaku teknologi pada berbagai tataran, baik tingkat kebijaksanaan maupun regulasi operasi dan industri, Jonathan Para’pak telah memberikan berbagai gagasan segar dan baru, bagaimana memanfaatkan dan mengembangkan teknologi untuk kesejahteraan manusia. Ia telah berperan dalam reformasi sektor telekomunikasi di Indonesia.

Ia juga telah membuktikan bahwa putra-putri Indonesia tidak kalah dari bangsa manapun di dunia ini. Parapak telah membuktikan bagaimana mengelola usaha  bisnis berteknologi canggih secara profesional, bersih, dan menghasilkan kinerja yang baik.  Ia juga pernah menjadi bagian dari birokrasi melalui jalur yang khas. Ia menjadi Direktur Utama PT Indosat (BUMN) Walau demikian, ia tidak larut dalam birokrasi BUMN dan pemerintahan, melainkan berusaha mengedepankan kultur baru yang berorientasi pada layanan terbaik kepada masyarakat. Selama menjadi bagian dari birokrasi pemerintahan, ia berusaha menciptakan lingkungan kerja, kekaryaan dan pelayanan yang cepat, tidak birokratis dan transparan. Selama bekerja di birokrasi pemerintahan, ia ikut serta dalam berbagai langkah reformasi kebijaksanaan dan regulasi. Seperti deregulasi sektor telekomunikasi yang membuka peluang bagi para pelaku swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan telekomunikasi. Ia ikut mendorong proses yang transparan dalam pemberian izin, seperti diadakannya tender terbuka mitra KSO. Ia ikut mendorong proses desentralisasi dan pemberian kewenangan kepada daerah, dengan mentransfer kewenangan perizinan pariwisata ke daerah tingkat I dan II. Ia ikut memulai partisipasi yang lebih luas dari swasta dan masyarakat dalam penyusunan berbagai kebijakan dan regulasi, misalnya penetapan tarif telepon.

BERJASA DALAM MENGEMBANGKAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA

Salah satu aspek yang selalu mendapat perhatian khusus Jonathan Para’pak adalah pengembangan sumber daya manusia. Tampaknya pengalaman pribadinya sangat berperan dalam memotivasinya untuk memajukan sebanyak mungkin anak bangsa. Di Indosat, masalah pendidikan dan latihan sangat diberi prioritas sehingga profesional muda pun, kalau dinilai siap, diberi tanggung jawab. Ia sendiri menjadi pimpinan puncak pada saat berumur 36 tahun. Di Depparpostel, ia gigih mendukung pembaruan, perluasan dan penyempurnaan pendidikan dan latihan. Ia ikut mendirikan Akademi Pariwisata di Medan dan Makassar. Ia menggagas program beasiswa untuk pendidikan telekomunikasi dan teknologi informasi.

Ia juga menjadi penggagas, penyantun Sekolah Menengah Umum unggulan di desa, dan selalu berusaha mengusahakan beasiswa bagi anak-anak berprestasi yang kurang mampu. Ia pernah mengajar di Universitas Indonesia, Lemhannas, Universitas Pelita Harapan. Ia anggota dan pimpinan Dewan Penyantun dari berbagai lembaga pendidikan. Tampaknya baik dari aspek teknologi, manajemen perusahaan, maupun administrasi pemerintahan, Parapak melihat betapa strategisnya sumber daya manusia profesional. Ia meyakini bahwa manusialah yang teramat penting, menjadi subjek dan objek strategis dalam seluruh upaya pembangunan.

Jonathan Para’pak Saat Memberikan Pandangan Umum Deklarasi Gerakan Integritas di Hotel Heritage, Rantepao, 29 Agustus 2019

KEGIATAN SOSIAL DAN AGAMA

Jonathan Para’pak ikut aktif mendirikan lembaga pendidikan, pemberdayaan, dan pelayanan masyarakat, organisasi kemasyarakatan atau lembaga yang berkaitan dengan kegiatan pelayanan Gereja. Jonathan Para’pak merupakan pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pelayanan Mahasiswa, Perkantas. Ia menjadi pemrakarsa, salah satu pendiri, bahkan menjadi Ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi dan Informatika. Ia pun pemrakarsa, salah satu pendiri bahkan menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Teknik Indonesia yang juga menyelenggarakan beasiswa untuk telekomunikasi dan informatika. Demikian juga pemrakarsa, pendiri dan Ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telematika dan Informatika. Ia salah satu pendiri dan Ketua Yayasan Bina Insan Pembangunan untuk beasiswa. Di bidang kegiatan dan pelayanan Gerejani, ia juga memprakarsai beberapa yayasan, antara lain ia adalah salah satu pendiri dan Ketua Yayasan Damai Sejahtera untuk Pelayanan dan Kesaksian, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pembaca Alkitab. Ia Ketua Dewan Penasihat PIKI (Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia), Ketua Dewan Penyantun STT Jakarta, Ketua Dewan Penyantun STT Rantepao.  Sedangkan di berbagai lembaga kedaerahan ia selalu diminta untuk berperan maksimal, dan peran itu dia terima meskipun kesibukannya selalu penuh. Ia selalu berusaha memegang prinsip dan pedoman hidupnya: mengabdi adalah memberikan yang terbaik. Masih banyak lembaga yang meminta partisipasi dan perannya.  Satu hal yang perlu digaris bawahi tentang Jonathan Para’pak, yakni kemampuannya mengatur waktu sehingga pelayanan, pertisipasi dan bahkan kepemimpinannya dalam berbagai organaisasi atau lembaga selalu maksimal. Itu sebabnya ia merasa heran kalau ada orang yang menolak pelayanan atau tugas dengan alasan sibuk. Ia memang telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang mampu melakukan penatalayanan waktu yang diberikan Tuhan kepadanya secara bertanggung jawab. ia tidak hanya berhasil menuntut ilmu di Negeri Kanguru, tapi ternyata juga akhirnya ia mempersunting gadis dari Australia. Menurut penuturannya, ia berkenalan dengan Anne Atkinson melalui persekutuan Kristen di Universitas Tasmania. Mereka bersama melayani sebagai pengurus di kampus dan dalam pelayanan lainnya. Bibit perkenalan di Australia itu berkembang menjadi cinta. Yaitu setelah beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1970, Anne bertugas sebagai sukarelawati ke Indonesia, dan menjadi dosen sastra Inggris di Universitas Padjadjaran Bandung. Akhirnya mereka menikah 4 Desember 1971, setelah Anne merasa dapat tinggal di Indonesia. Perkawinan itu dikaruniai tiga anak, yaitu Esther, Lise, dan Kathryn. Semua anak sudah menikah.

Jonathan Para’pak bangga dengan isterinya yang dapat menyesuaikan diri dengan begitu hebat. Termasuk menjadi Ketua Dharma wanita waktu ia menjadi Dirut Indosat dan Sekjen Depparpostel karena Menterinya tak punya isteri. Latar belakangnya sebagai orang desa yang akhirnya mengarungi dunia intemasional, tidak membuatnya lupa akan keakrabannya dengan alam, sesama maupun Tuhannya. Bahkan, semua pengalaman dan pemahaman itu membuatnya menjadi manusia yang berimbang. Ia mampu membangun sikap yang seimbang terhadap alam dan teknologi, terhadap sesama manusia dan terhadap Tuhan Allahnya.

Penandatangan Gerakan Integritas di Hotel Heritage, Rantepao, 29 Agustus 2019 disaksikan oleh Jonathan Para’pak

PENDIDIKAN KHUSUS

Selain pendidikan formal, Jonathan Para’pak juga mengikuti berbagai pendidikan khusus, di antaranya:

  1. Diploma Management Problem Analysis & Decision Making pada Kepner -Trigoe Australia, 1974. Maret 1975;
  2. Diploma Affective Management Communica- tion pada Tabbot Smith & Association. Mei-Juni 1975;
  3. Diploma Dynamic Management for International Executives di University of Syracuse New York.
  4. Diploma Management Seminar, Oktober 1976 pada Dale Carnegie & Associates. Oktober 1978;
  5. Diploma Pendiri dan Presiden MarkPlus Inc marketing pada ITF -Communications Group New York. Dua tahun setelah itu, ia memperoleh Sertifikat “Manajemen Keuangan” pada SGV Jakarta; Mendapat ranking No.1 Penataran Type A P-4, 1981; Mengikuti Penataran Manggala P-4, 1995;
  6. Sejak 1970, aktif mengikuti berbagai seminar manajemen telekomunikasi, komputer, informasi, dan pariwisata di dalam dan luar negeri.

Jonathan Para’pak Memperhatikan jenjang pendidikan formal dan pendidikan khusus yang pemah digeluti.

KARIER

  • IMC Engineer PT Indosat Jakarta (1969-1970)
  • Station Engineer PT Indosat Jakarta (1971-1972)
  • System Engineer PT Indosat Jakarta (1973- 1975)
  • Manager Operations & Engineering PT Indosat (1975-1977)
  • Director Operation & Engineering PT Indosat (1978 – Januari 1980)
  • Direktur PT Indosat (1976-1980)
  • Direktur Utama PT Indonesian Satellite Corporation (1980-1991)
  • Anggota Dewan Gubernur Intelsat mewakili ASEAN (1985-1990)
  • Komisaris Utama PT Gratika Nusantara (1987-1991)
  • Komisaris PT Aplikanusa Lintasarta (1988-1991)
  • Komisaris Utama PT Indonesian Satellite Corporation (1991-1999)
  • Sekretaris Jenderal Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (1991-1998)
  • Sekretaris Jenderal Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya (1998-1999)
  • Rektor Universitas Pelita Harapan
  • President Komisaris PT First Media Tbk; (2000 – 21 Oktober 2011)
  • Komisaris Independen PT Multipolar Tbk sejak 2001
  • Komisaris Independen PT Matahari Department Store Tbk; sejak 26 Maret 2010
  • Komisaris Independen PT Matahari Putra Prima Tbk sejak 2010
  • Komisaris Independen PT Lippo Karawaci Tbk
  • Komisaris Independen PT Siloam International Hospitals Tbk sejak 2013
  • Komisaris Independen PT Link Net Tbk sejak 2013
  • Non-Executive Director of Acrossasia Ltd. (Sebelumnya: Acrossasia Multimedia Ltd.) (1 Mei 2002 – 2 Mei 2006)
  • Chairman of the Council of Professionals and Association of the Indonesian Infocom Society

 PENGABDIAN LAIN:

  • 1981-1991 : Pembina KORPRI Unit PT. Indosat
  • 1992-1999 : Ketua KORPRI Dep. Parpostel/Parsenibud
  • 1988-1992 : Ketua Umum Ikatan alumni Australia
  • 1985-1991 : Ketua Bidang Pengembangan Ikatan Alumni Lemhannas
  • 1986-1991 : Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia
  • 1989-1991 : Ketua Departemen Data dan Informatika Pengurus Pusat KADIN
  • 1989-1991 : Anggota Dewan Pertimbangan KADIN
  • 1994-Sekarang : Pembina Yayasan Kebudayaan dan Pengembangan Pariwisata Toraja dan Yayasan Pendidikan Tongkonan
  • 1994-Sekarang : Ketua Yayasan Pendidikan Teknik Indonesia

PENGHARGAAN:

  • Terpilih oleh ITT Quality Council (calon-calon dari seluruh dunia) untuk menerima Ring of Quality 1976 sebagai penghargaan (Prestasi yang sungat menonjol)
  • Setya Lencana Pengabdian Indosat 20 tahun, 1989
  • Setya Lencana Pembangunan oleh Negara RI pada tahun 1985
  • Satya Lencana Dwidya Sistha-Lemhannas 1990
  • Bintang Jasa Utama 17 Agsutus 1992
  • Penghargaan Pembina Koperasi 1996.
  • Lifetime Achievement Award Pada Toraja Film Festival 2018

MENJADI INSPIRASI

  1. Jonathan Limbong Para’pak dapat dijadikan inspirasi sebagai tokoh nasional yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia, ia adalah tokoh yang sangat konsisten dalam memajukan pendidikan Indonesia.
  2. Di balik kesuksesannya, ia selalu tampil sederhana dan dapat dijadikan panutan.
  3. Jonathan Limbong Para’pak memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi baik terhadap genersi yang tidak mampu maupun terhadap lembaga-lembaga agama.
  4. Sebagai orang Toraja, jika sukses dalam hal financial, pada umumnya jika kembali ke kampung halaman biasanya melakukan upacara kematian yang luar biasa hanya untuk mengejar status sosial. Jonathan Limbong Para’pak tidak demikian, Ketika orang tuanya meninggal, ia hanya mengurbankan beberapa ekor kerbau, ia lebih mengedepankan aspek pendidikan, hartanya lebih disumbangkan ke Dunia Pendidikan dalam bentuk pemberian beasiswa bagi putra-putri Toraja yang berprestasi dan membantu peningkatan mutu pendidikan di Toraja.
  5. Bukan hanya memberikan beasiswa, Jonathan Limbong Para’pak mendirikan sekolah lentera dengan mengedepankan mutu pendidikan.
  6. Jonathan Limbong Para’pak adalah putra Toraja yang mampu bersaing dalam skala internasional.
  7. Untuk menjalani kehidupannya, semanjak kecil hingga masuk ke dalam dunia pekerjaan, Jonathan Limbong Para’pak tidak pernah berpikir instan, ia pekerja keras dan tidak malu mengakui sebagai anak Toraja, hidup di desa dan beranjak dari keluarga tidak mampu.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/dihimpun dari berbagai sumber/Tokoh.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here