Sosok Yohanes Rante Perintis Program S2 dan S3 Di Universitas Cendrawasih

0
3322
Prof. DR. Yohanes Rante, SE., M. Si.

Prof. DR. YOHANES RANTE, SE., M. Si.

Kepedulian terhadap pendidikan sangat tinggi khususnya di daerah Papua. Beliau sangat berjasa membuka program S2 dan S3 di Universitas Cendrawasih Papua. Atas jasanya inilah banyak putra-putri Papua mengenyam pendidikan lebih baik tanpa harus kuliah ke luar Papua.

***

Yohanes Rante adalah orang Toraja pertama yang ada di Papua yang mendapat gelar Profesor. Lahir di To’yasa Akung-Toraja Utara, 28 Oktober 1960. ia lahir dari pasangan Marthen Pasang dengan Ludia Rinni. Semasa kecilnya menghabiskan waktu sebagai gembala kerbau layaknya seperti anak-anak desa lainnya. Tahun 974 ia menamatkan diri di SD Limbong Langi’ Toyasa Akung dan keluar sebagai Juara Umum. Tahun 1976 menamatkan diri di SMP Negeri Lempo lalu melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Rantepao lulus pada tahun 1980. Yohanes Rante merupakan siswa yang sangat berprestasi, terbukti saat lulus SMA, ia keluar sebagai juara umum dan bebas tes masuk Universitas Hasanuddin Makassar. Saat menjadi mahasiswa, lagi-lagi Yohanes Rante menunjukkan kepiawaiannya, dipercaya menjadi asisten dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar di STIE YPUP Ujung Pandang, menjadi asisten dosen pada saat itu tidaklah mudah, harus betul-betul berprestasi. Tahun 1995 menyelesaikan Study S2 di Universitas Hasanuddin dan tahun  2011 menyelesaikan Program Study S3 di Universitas Brawijaya.

Yohanes Rante bersama Istri, Anak dan Cucu

SAAT MAHASISWA HIDUP MANDIRI

Sejak kecil Yohanes Rante memang di didik oleh kedua orang tuanya untuk menjadi orang yang hidup mandiri tanpa harus bergantung banyak pada orang lain.  Prinsip dari Yohanes Rante adalah hidup itu adalah perjuangan, berbuat yang terbaik sepanjang masih ada kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Sebagai mahasiswa jurusan Ekonomi, Yohanis Rante pada dasarnya memiliki talenta berbisnis dan terobsesi untuk menjadi orang yang sukses. Di Makassar, selain menjadi asisten Dosen, ia pernah menjadi kurir mebel hingga memiliki usaha mebel sendiri dan mempekerjakan karyawan 35 orang. Usaha dibidang memel cukup sukses karena mampu mengerjakan pesanan hingga ke luar daerah. Hanya dalam tempo setahun mengguluti usaha ini, Yohanes Rante mampu membiayai kuliah sendiri termasuk kebutuhan sehati-harinya. Bahkan keuntungan dari usaha mebelnya sering membantu teman-temannya yang menghadapi kesusahan.  Yohanes Rante tidak segan-segan membantunya meminjamkan duit, bahkan terkadang lupa kepada siapa saja yang sudah dipinjamkannya.

Meskipun sibuk menjadi asisten dosen dan mengurusi usaha mebelnya, Yohanis Rante tetap menjadi aktifis Mahasiswa sebagai anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ekonomi Unhas dan menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Makassar.

Saat Mengikuti TOT Program on Public Expenditure Management di Tokyo Jepang, tanggal 3-12 Oktober 2000

MEMILIH MENJADI DOSEN

Tahun 1985 setelah tamat di Fakultas Ekonomi, Yohanis Rante sempat ke Manokwari mengikuti ajakan kakaknya JP Karapa. Ia ke Manokwari karena dijanjikan akan bekerja di Bappeda Manokwari. Usaha mebel yang ditinggalkan diberikan kepercayaan karyawannya untuk mengurusinya. Ternyata selama ia pergi Ke Manokwari, orang kepercayaannya itu malah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh Yohanes Rante, akibatnya, Usaha merugi. Di Manokwari, ternyata jadwal penerimaan PNS di Bappeda ditunda, sehingga Yohanes Rante memutuskan kembali ke Makassar.

Akibat usaha mebel merugi, Yohanes Rante memutuskan untuk menutup usahanya. Tanpa pikir-pikir, tahun 1986 merantau ke Jayapura. Baru seminggu tiba di Jayapura, ia langsung diterima sebagai staf pembukuan di BUMN Join Development Fondation (JDF). Setahun kemudian menjabat direktur keuangan JDF, saat itu ada lowongan dosen di Universitas Cendrawasih (UNCEN) dan akhirnya diterima. Selama menjadi dosen di Universitas Cendrawasih, Yohanes Rante banyak membuat gebrakan baru, diantaranya adalah merintis dan membuka program S2 dan S3 di Universitas Cendrawasih.  Atas jasanya inilah banyak putra-putri Papua mengenyam pendidikan lebih baik tanpa harus kuliah ke luar Papua, ia juga telah berjasa dalam memperjuangkan status UNCEN ke level yang sama dengan Universitas Negeri lainnya di Indonesia. Keterlibatanan Yohanes Rante dalam memajukan pendidikan di Papua mulai muncul saat ia menjabat pelaksana ketua jurusan, kemudian ia menjadi pembantuk Dekan II Fakultas Ekonomi selama dua periode pada tahun 1997-2005.

Konsorsium universitas negeri indonesia bagian timur di Netherland

Tahun 2005 ia diangkat menjadi Wakil Rektor II Univesitas Cendrawasih. Dalam kapasitas sebagai Wakil Rektor II, Yohanes Rante berupaya menyakinkan Pemeritah Propinnsi dan Pemerintah Pusat untuk membenahi fasilitas kampus dan Sumber Daya Manusia. Ia berhasil menanamkan pondasi dalam kerangka pembangunan Papua jangka panjang.

Tahun 2003 ia mendapat penghargaan dari Gubernur Papua sebagai perumus konsep pengembangan perekonomian berbasis kerakyatan di Propinsi Papua.

Hingga tahun 2020, Yohanes Rante dipercaya menjadi Direktur Pasca Sarjana Universitas Cendrawasih (Uncen).

Bersama Duta Besar Indonesia untuk Belanda J.E. Habibie Saat Melakukan Study Banding Ke Amsterdam tanggal 7-11 Juni 2008

MENJADI KETUA IKT PAPUA

Selain menjadi dosen dan pemerhati pendidikan, Yohanes Rante juga terlibat dalam bidang sosial masyarakat dan gereja. Membantu masyarakat baik orang asli Papua maupun non Papua. Karena memiliki relasi baik dengan warga lain, Yohanes Rante dipercaya Masyarakat Toraja Jayapura menjadi ketua periode 2001-2002 lalu diangkat menjadi ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Propinsi Papua selama 2 periode 2002-2015.

Tahun 2000 saat lahan gereja GKI Jemaat Pniel Kotaraya Jayapura digugat oleh Ondo Api yang ngotot meminta lahan gereja ganti rugi sebesar Rp. 5 Miliar. Yohanes Rante dan Pdt. Carlos Mano adalah orang yang paling aktif menyelesaikan kasus ini dengan cara berdialog dan mengundang Ondo Api. pertemuan ini dilakukan hingga tiga kali yang pada akhirnya para Ondo Api sepakat menyerahkan tanah gereja tanpa meminta uang sepeser pun. Kemudian Yohanis Rante langsung mengurus sertifikat gereja dan izin mendirikan bangunan, hingga pada akhirnya Gereja GKI Jemaat Pniel Kotaraja selesai dibangun. Yohanes Rante mengatakan “Tuhan campur tangan dalam perkara ini, hingga pada akhirnya semua berjalan dengan baik”.

Selama menjadi ketua IKT Propinsi Papua, dibawah kepemimpinannya banyak meninggalkan kenangan manis bagi warga Toraja yang ada di Papua antara lain adalah banyak menyelesaikan persoalan sosial, baik yang melibatkan antar sesama suku Toraja ataupun antar sesama suku lain.  Bersama pengurus lainnya, Yohanes Rante memimpin dan memotivasi untuk membangun gedung serba guna Tongkonan di Jayapura akhirnya pembangunan gedung Tongkonan selesai dan dapat dinikmati warga Toraja maupun masyarakat lain. Yohanis Rante juga kerap membantu masyarakat Toraja yang ingin mencari pekerjaan di Papua, karena memiliki relasi baik dengan masyarakat Papua, Masyarakat Toraja kerap dipercaya menduduki beberapa jabatan-jabatan strategis dilingkupan pemerintah, swasta dan BUMN.

Saat menjabat Ketua IKT, ia salah satu penginisiasi terbentuknya organisasi masyarat Toraja se-Indonesia yang disebut Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) di Jakarta.

Saat ini Yohanes Rante menjabat Ketua Dewan Pembina IKT Papua dan sejak tahun 2017-2022  Ketua Dewan Kehormatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Propinsi Papua.

Gedung Tongkonan IKT Papua di Kotaraja Jayapura, Gedung Ini Digunakan Pengungsi Wamena tahun 2019

Tahun 2013 saat melaksanakan upacara Rambu Solo’ untuk Ayahnya, Yohanis Rante dan Keluarga menyiapkan 108 ekor kerbau dan 250 ekor babi. Dari 108 ekor kerbau yang disiapkan, hanya 62 ekor yang dipotong sisanya disumbangkan untuk pembangunan Gereja, Sekolah, Pembangunan Jalan dan lain-lain.

MENJADI INSPIRASI

  1. Yohanes Rante adalah anak desa yang tekun dan rajin. Meskipun lahir di Desa, ia tidak pernah minder dan tidak mudah menyerah. ia telah membuktikan bahwa lahir di desa mampu menjadi bintang kelas dan selalu mendapat juara umum.
  2. Yohanes Rante dapat dijadikan insipirasi karena konsistensinya membangun SDM Papua lewat pendidikan, pepatah lama mengatakan di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, bagi Yohanes Rante pendidikan adalah prioritas utama, membangun bangsa dan negara ini harus dimulai dari kualitas pendidikannya;
  3. Meskipun mengabdi di Papua, Yohanes Rante tidak lupa akan kampung halamannya, ia memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan memberikan pemikiran-pemikiran yang positif untuk kemajuan Toraja.
  4. Sebagai Guru Besar, Yohanes Rante tampak sederhana tidak menonjolkan diri. sosok orang yang mau bertukar pikiran ide dan pendapat.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Wawancara langsung/Buku Terus Bekerja Mengabdi, Melayani dan Menjadi Berkat Karya Sili Suli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here