Kisah Pieter Sangka’ Palisungan Martir Karena Imannya

0
3800

PIETER SANGKA’ PALISUNGAN

Berkali-kali ia dipaksa menyangkal Imannya, ia lebih memilih mati dalam keyakinannya. Menurut kesaksian dari beberapa Narasumber, Pieter Sangka meminta dirinya di salib seperti Tuhan Yesus. Namun, Algojo lebih memilih memotong lehernya. Ternyata mereka gagal, parang mereka jadi bengkok. Tidak berhasil, ia kemudian diikat ditiang, lalu ditembak dan dibuang ke dalam kuburan yang sudah disiapkan.

***

Suami dari Damaris Upa’ ini  adalah salah satu Pendeta Gereja Toraja yang mati syahid (martir), ia lahir pada tahun 1910 pada masa pemerintahan hindia belanda  3 tahun setelah Pahlawan Nasional Pongtiku tewas di tangan serdadu Belanda.

Ayahnya bernama Palungan dan ibunya bernama Lisu, mereka berdua ketika itu memeluk agama asli suku Toraja yang bisa disebut Aluk Todolo.  ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Semasa kecilnya ia sudah menunjukkan karakter yang berpendirian teguh dan tidak mau mundur  dalam perjuangan dalam mewujudkan cita-citanya.

Saat pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah-sekolah lewat lembaga Zending Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Dalam catatan GZB pada tahun 1925, saat itu beliau berumur lima belas tahun, ia sudah bertugas sebagai penatua (penolong) di salah satu jemaat di Tana Toraja, yaitu desa Dende’. Besar kemungkinan ia bertugas setelah kembali merantau dari Jawa untuk ’berobat’ di sanatorium Louis Pasteur di Bandung. Menurut Natan Sangka anaknya, Pieter Sangka akal-akalan untuk menembus larangan orang tua pergi merantau. Ia membiarkan dirinya digigit anjing dan mengatakan bahwa itu adalah anjing gila. Oleh karena itu, ayahnya mengizinkan pergi ‘berobat’ ke Bandung sebab disana hanya obat antirabies dapat di temukan. Memang pada saat itu para murid Zending setelah selesai mengikuti pendidikan dua atau tiga bulan di Sekolah Rakyat, bebas bepergian ke manapun atau melakukan kegiatan yang mereka sukai. Karena Pieter Sangka ingin sekali melihat dunia luar, maka dia membiarkan dirinya di gigit anjing.

MENJADI GURU

Setahun setelah menjadi penatua (penolong) ia memperoleh kesempatan melanjutkan sekolah di Normaalcursus (NC) di Barana, dua tahun kemudian setelah selesai pendidikannya ia diangkat menjadi guru banatu Zending pada tahun 1928. Awalnya ditempatkan di Angin-Angin, setahun kemudian 1929 dipindahkan ke Pangala’ tempat di mana Pongtiku dilahirkan. Menurut kesaksian Ds. D.J Van Dijk Guru Zending dari Belanda yang merupakan rekan sekerjanya, dalam catatannya bahwa Pieter Sangka merupan orang yang berbakat dan memiliki talenta menjadi penginjil. Dan seorang ahli teolog yang ditugasi oleh GZB untuk membuka sekolah Teologi di Tana Toraja pada tahun 1947 mengatakan tentang Pieter Sangka  bahwa “de meest begaafde der presikanten die ik gekend heb… een charismaticus…” (yang paling berbakat di antara para pengkhotbah yang pernah saya kenal… seorang yang berkharisma…)

Tahun 1930-1931 mengikuti kursus sekolah guru injil. Tahun 1932-1941 diangkat menjadi guru injil di daerah Angin-Angin kemudian dipindahkan ke Dende’ yang meliputi wilayah pelayanan Madandan-Piongan-Napo-Kurra.

MENJADI PENDETA

Memasuki tahun 1940-an, daratan eropa dilanda perang besar yang disebut perang dunia ke – II, pragtis Belanda saat itu terlibat dalam perang masuk dalam blok barat melawan blok timur, Jepang masuk dalam blok timur.

Di Asia Timur hingga Tenggara, Jepang melancarkan serangan besar-besaran terhadap daerah jajahan Belanda, Inggris, Portugis dan Portugal. Tahun 1942 Belanda di taklukkan dan menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Semua kepentingan Belanda di Indonesia diserahkan kepada Jepang termasuk lembaga GZB dibawah kendali pemerintahan Jepang. Pendeta dan Guru Injil GZB yang berasal dari Belanda di tawan dan ditahan serdadu Jepang mengakibatkan kesulitan dalam pekabaran injil di Tana Toraja, Luwu dan hingga ke Sulawesi Tengah. Jauh sebelumnya GZB sudah mengetahui bahwa Jepang akan menyerang kedudukan Belanda di Indonesia, untuk mengantisipasi pelayanan di Toraja, Tanggal 26 Oktober 1941, GZB melalui pendeta D.J. Van Dijk mentahbiskan tiga orang putra Toraja menjadi pendeta yang sebelumnya bekerja sebagai guru-guru injil, mereka diantaranya adalah Joesoef Tappi’, S.T. Lande, dan Pieter Sangka Palisungan. Menyusul beberap bulan kemudian, J. Sumbung juga ditahbiskan menjadi pendeta. Joesoef Tappi’ ditempatkan di resort Makale-Sangalla, S.T. Lande ditempatkan di resort Rantepao, J. Sumbung ditempatkan di wilayah Palopo, sedangan Pieter Sangka sendiri ditempatkan di pelayanan resort Rembon. zending membentuk “Koempoelan Pendeta-Pendeta”. Dalam kepengurusan, Pdt. S.T. Lande bertindak sebagai ketua, Pdt. Joesoef Tappi’ menjadi sekretaris, Pdt. P. Sangka Palisungan menjabat bendahara, dan Pdt. J. Soemboeng serta F. Ba’siang menjadi komisaris. Mereka melanjutkan pelayanan yang selama ini dilakukan oleh GZB.

Apa yang dikuatirkan GZB terjadi, setelah Jepang berhasil masuk di wilayah Toraja, para misionaris Belanda ditawan oleh tentara Jepang. Tekanan terhadap gereja semakin berat. Saat itu misi pelayanan ada di pundak pendeta pribumi yang baru saja di tahbiskan. Tentu sebuah pekerjaan yang sangat sulit.

Tahun 1943, dalam masa pendudukan Jepang, Pieter Sangka Palisungan dipindahkan dari resort Rembon ke wilayah pelayanan Rongkong-Seko.

 MENJUAL TANAH

Setelah Jepang di taklukkan oleh tentara sekutu di bawah Komanda Amerika Serikat, pelayanan siar di Toraja kembali berjalan normal, beberapa Misionaris dan Pendeta Belanda yang masih hidup dibebaskan. Ada yang kembali ke negerinya ada juga yang memilih bertahan melanjutkan misi pelayanan, salah satu pendeta GZB yang bertahan adalah Ds. D.J. Van Dijk.

Ada sebuah cerita yang sangat mengagumkan pada sosok Pieter Sangka Palisungan. Pada tahun 1950 jemaat-jemaat di wilayah pelayanannya mengalami kesulitan karena tidak adanya uang untuk membayar jaminan hidup para guru injil dan pengantar jemaat-jemaat. Saat kesulitan Pieter Sangka menghadap Ds. D.J. Van Dijk di Rantepao dengan maksud mengambil gaji para pekerja gereja. Namun, uang tidak ada! Oleh karena itu, ia mengambil sikap sendiri menjual sebidang tanah miliknya yang terletak di tengah kota Rantepao, lengkap dengan  rumah yang berdiri diatasnya. Harganya Rp. 400,-. Dengan uang itu, ia kembali ke Rongkong dan membayar gaji guru-guru dan pengantar jemaat.

Penugasan untuk membenahi pelayanan di resort Rongkong-Seko yang sedang morat-marit itu tidaklah mudah. Penuh dengan tantangan, sarat dengan berbagai macam kesulitan. Sebagai manusia biasa, terkadang ia merasa kecil hati. Akan tetapi, imannya kepada Yesus Kristus tidak membuat surut dalam melakukan siar di daerah Rongkong-Seko. Menurut laporan yang ada, tahun 1952 ia pernah membaptis massal orang-orang Rongkong dan Seko. Ia mengabdi di Rongkong-Seko hingga Republik ini merdeka.

GEREJA TORAJA BERDIRI

Memasuki tahun 1950, lembaga GZB perlahan-lahan meninggalkan wilayah pelayanannya di Toraja, ini dikarenakan Indonesia sudah merdeka. Praktis Pelayanan misi siar diwilayah Toraja dan Luwu diambil alih oleh Gereja Toraja. Tahun 1947 adalah awal berdirinya Gereja Toraja, ketika itu dilaksanakan Sidang I Gereja Toraja di Rantepao.  Dalam sidang I Gereja Toraja, Pdt. Ds. Pieter Sangka Palisungan dipilih menjadi ketua II, lalu pada Sidang II Gereja Toraja tahun 1949 di Palopo, ia dipilih kembali menjadi ketua I. di awal-awal berdirinya Gereja Toraja tantangan besar siap menanti, memasuki tahun 1950-an, gejolak besar terjadi di daerah Sulawesi Selatan, Tengah hingga Tenggara. Di bawah pimpinan Kolonel Qahhar Mudzakkar mendirikan negara Islam DI/TII melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Soekarno. Di masa pemberontakan, begitu banyak warga gereja Toraja terbunuh salah satunya adalah Pdt. Ds. Pieter Sangka Palisungan.

MENJADI MARTIR

Tanggal 17 Agustus 1953 di Makkalua’, Badjo’, Abdul Qahhaar Mudzakkar memproklamasikan berdirinya negara Islam DI/TII. Dengan berdirinya DI/TII di Selawesi Selatan tentu mengancam pelayanan siar Kristen di wilayah Toraja dan Luwu termasuk di wilayah pelayanan Pieter Sangka, Rongkong-Seko.

Oktober 1953 tentara DI/TII berhasil menangkap Pieter Sangka di rumahnya di Rongkong, oleh masyarakat Rongkong mengatakan rumah seratus jendela karena memiliki banyak jendela. Ia di tangkap bersama beberapa pemuda dan pemuka gereja. Mereka dipaksa untuk menyangkal Yesus. Namun, mereka menolak paksaan itu. Akibatnya, mereka di tahan di markas besar DI/TII di Waelawi selama kurang lebih tiga bulan. Berkali-kali mereka dipaksa menyangkal imannya, tetapi mereka tetap bertahan, walaupun mereka di siksa. Tentara DI/TII tidak berhasil, akhirnya Pieter Sangka bersama dua guru jemaat dibawah ke hutan di Cappa’ Solo’. Di tempat inilah mereka dibunuh. Menurut kesaksian dari beberapa Narasumber, Pieter Sangka meminta dirinya di salib seperti Tuhan Yesus. Namun, Algojo lebih memilih memotong lehernya. Ternyata mereka gagal, parang mereka jadi bengkok. Tidak berhasil, ia kemudian diikat ditiang, lalu ditembak dan dibuang ke dalam kuburan yang sudah disiapkan.

Tahun 1965 pemberontakan DI/TII berhasil ditumpas oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) pimpinan tertinggi DI/TII Abdul Qahhar Mudzakar ditembak mati di Sungai Lasolo Sulawesi Tenggara , 13 Tahun kemudian setelah mati Martir, barulah jenazahnya ditemukan.  Akhir tahun 1966, anaknya yang bernama Samue Sangka’ berusaha mencari kuburan ayahnya, berkat petunjuk Opu Lanyili’ yang saat itu menjabat kepala distrik Malangke’ memberikan informasi akurat.

Menurut informasi Pdt. Ds. Pieter Sangka Palisungan bersama dengan L. Sodu dan H. Djima’ pernah tinggal di rumah Opu Lanyili’. Dari orang inilah diperoleh informasi bahwa ada seorang nelayan yang bernama Lasuppu’, yang merupakan penduduk asli kampung Cappa’ Solo’, Kecamatan Malangke, mengetahui lokasi kuburan.

Pdt. Ds. Pieter Sangka’ Palisungan memang sangat akrab dan sangat bersahabat dengan orang yang berbeda kayakinan, karena hubungan baik itulah, Lasuppu’ ikut hadir dan menjadi saksi hidup atas pembunuhan Pieter Sangka’. Setelah pasukan DI/TII meninggalkan lokasi pemunuhan, Lasuppu’ bersama dengan beberapa temannya terburu-buru menimbuni kuburan supaya binatang buas tidak memakan mayatnya. Kopiah milik Lasuppu’ ikut tertimbun karena mereka bekerja tergesa-gesa. Mereka takut ketahuan oleh tentara DI/TII, jika ketahuan, pasti mereka dibunuh juga karena memihak musuh. Di atas timbunan kuburan ditanami pepohonan. Selama kurang lebih 13 tahun, pohon-pohon tumbuh dengan suburnya sehingga sulit ditemukan dimana tepatnya lubang kuburan itu. Lasuppu’ masih ingat betul lokasinya.

Mula-mula orang menebang pohon-pohon yang sudah tumbuh rindang, kemudian menggali tanah, kopiah milik lasuppu ditemukan pertanda bahwa lubang kuburan telah di temukan. Selanjutnya penggalian dilakukan dengan sangat hati-hati sampai tulang belulang dari ketiga martir itu berhasil ditemukan.

Paulus Gallara’, salah seorang yang ikut menggali kuburan ketiga matir itu, memberikan kesaksian bahwa tulang-tulang kaki mereka ditemukan membentuk tanda salib. Tulang kaki Pieter Sangka’ berada ditengah dan tulang kedua kawannya berada dikiri dan kanan. Untuk mengetahui tulang belulang mereka, masing-masing keluarga mengenali identitas, Pieter Sangka dikenali dari  Bingkap sepatu yang dipakainya masih utuh. Kedua sahabatnya dikenali dari dompet kulit dan korek api.

Setelah jenazah Pieter Sangka di temukan di bawah ke Toraja dan di makamkan di Nonongan, Kadundung, tempat kelahirannya.

MENJADI INSPIRASI

  1. Pdt. Ds. Pieter Sangka’ Palisungan dapat dijadikan inspirasi, atas keyakinannya ia lebih memilih mati dari pada menyangkal Imannya;
  2. Ia adalah bapak Pluralisme, menghargai dan menghormati orang yang berbeda keyakinan  dengan dia, ia mengajarkan kasih  dan tidak pernah memaksakan orang lain memeluk agama Kristen. Orang lain hanya melihat tindakannya, jika terpanggil, barulah ia mengajarkan berita keselamatan kepada mereka;
  3. Ia adalah sosok pekerja keras, berpendirian teguh, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan mau berkorban demi kepantingan orang banyak;
  4. Ia adalah sahabat sejati orang Rongkong dan orang Seko, disaat rekan-rekan sekerjanya mendesak untuk meninggalkan wilayah pelayanan Rongkong-Seko dengan alasan keamanan, iya menolaknya, termasuk ajakan H.L. lethe dan Pdt. J. Linting. Ia lebih memilih mati bersama dengan mereka. Ia tidak mau meninggalkan pelayanan dengan alasan apapun;
  5. Ia telah mengajarkan kepada Generasi Muda Toraja arti sebuah pengorbanan.

 

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Dihimpun Dari Berbagai Sumber dan Buku Rumah Seratus Jendela

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here