Press Release Himpunan Mahasiswa Toraya Indonesia Dalam Rangka Mempertahankan Tanah Lapangan Gembira.

0
794

KABARPEMUDA.ID, JAKARTA – Himpunan Mahasiswa Toraya Indonesia (HMTI) hari ini, Senin 28 Juli 2020 melaksanakan aksi damai dalam rangka mempertahankan Tanah Lapangan Gembira di dua titik yakni Jakarta (depan Gedung Mahkama Agung RI, Komisi Yudisial dan Istana Negara) dan Toraja (Kolam Makale dan Kandian Dulang Rantepao).

Kepada Kabar Pemuda, HMTI menyampaikan Press Release.

Berikut isi dari Press Release Himpunan Mahasiwa Toraja dalam Rangka Mempertahankan Tanah Lapangan Gembira:

“Seperti diketahui bahwa saat ini kami sedang melangsungkan aksi nasional sebagai bentuk solaidaritas kami selaku Mahasiswa Toraya Indonesia dan seluruh lapisan elemen masyarakat Toraya. Aksi kami ini berlangsung di 2 titik secara bersamaan yaitu di Kandean Dulang Rantepao, Toraja Utara dan di depan gedung Mahkamah Agung. Yang hadir pada aksi di Mahkamah Agung hari ini adalah delegasi-delegasi dari setiap organisasi Mahasiswa Toraya di seluruh Indonesia mulai dari Tanah Cendrawasi, Celebes, Borneo dan Jawa. Aksi ini merupakan bentuk pengawalan untuk menegakkan keadilan hukum pada proses gugatan ahli waris Haji Ali atas tanah milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan / cq SMA Negeri 2 Rantepao Kabupaten Toraja Utara, dst terhadap Bupati Toraja Utara. Proses gugatan tersebut saat ini sedang bergulir di Mahkamah Agung RI berupa upaya hukum luar biasa peninjauan kembali oleh Bupati Toraja Utara (Pemohon Peninjauan Kembali / dahulu tergugat pada tingkat Pengadilan Negeri Makale). Gugatan penggugat (Ahli Waris Haji Ali ) dimenangkan pada setiap tingkat pengadilan ( PN, PT dan MA ) dengan pertimbangan hukum yang benar – benar di luar nalar kami sebagai orang awam hukum. Majelis Hakim (Judex Faktie dan Judex Juris) dengan sengaja mengabaikan fakta hukum dan bukti-bukti yang muncul dalam persidangan dan dengan mudah menerima dalil-dalil penggugat yang sungguh-sungguh menciderai rasa keadilan masyarakat, khususnya Masyarakat Adat Toraja Utara ( Masyarakat Adat Ba’lele ).

Fakta hukum yang kami maksud dan muncul dalam persidangan dan dengan sengaja diabaikan oleh Majelis Hakim, dapat kami sampaikan sebagai berikut :

  1. Legal Standing Penggugat. Salah satu penggugat adalah Sdr.Irvan Ali ( Putera Bapak Prof. DR. HATTA ALI, SH – mantan Ketua Mahkamah Agung R.I ), sejatinya bukan ahli waris, karena masih ada orang tuanya sebagai ahli waris Haji Ali.
  1. Tergugat Bupati Toraja Utara. Tanah obyek gugatan bukan milik Bupati. Sertifikat Hak Pakai atas tanah sengketa tersebut adalah SMAN 2 Rantepao, PT Telkom.
  1. Bukti kepemilikan yang dipakai ahli waris adalah foto copy, penggugat tidak pernah bisa menghadirkan asli surat/dokumen kepemilikan tsb.
  2. Ahli waris tidak bisa memperlihatkan obyek tanah sesuai dokumen yang mereka miliki, termasuk pada saat sidang di lapangan.
  3. Harga tanah yang tertera dalam dokumen foto copy menyebut f 2000 ( dua ribu rupiah ), fakta ini jelas palsu karena Indonesia mengenal rupiah mulai tahun 1949.
  4. Kawasan tanah sengketa yang oleh penggugat disebut “Tanah Lapang Gembira” sejatinya adalah tanah adat masyarakat adat Ba’lele, yang diambil alih oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan dijadikan lapangan pacuan kuda. Pada saat pendudukan Kolonial Belanda berakhir, tanah lapangan gembira dan sekitarnya kembali kepada masyarakat Adat Ba’lele, dan selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Tana Toraja.
  5. Para ahli waris Haji Ali ( penggugat ) mendalilkan bahwa tanah yang mereka gugat adalah tanah yang dibeli oleh orang tua mereka ( Haji Ali ) dari Sdr Ambo Bade, sementara keterangan salah seorang anak Ambo Bade bahwa “orang tuanya tidak pernah menjual tanah kepada Haji Ali”.
  6. Saksi-saksi yang dihadirkan oleh penggugat semuanya saksi yang tidak pernah mengetahui langsung situasi / peristiwa hukum yang terjadi pada saat terjadinya transaksi yang didalilkan para ahli waris.
  7. Sementara itu, saksi – saksi yang dihadirkan pihak tergugat dari masyarakat adat Ba’lele yang nota bene bagian dari masyarakat adat yang memiliki hak atas tanah sengketa tersebut, diabaikan oleh Majelis Hakim.

Harapan kami atas aksi ini adalah Mahkamah Agung untuk menjaga indenpendensinya sebagai Hakim Agung dan kami juga berharap pada aksi ini, pihak Mahkamah Agung dapat menemui kami karena pada saat ini kami mebawa pesan seluruh masyarakat Toraya yaitu kekecewaan terhadapat Proses Pengadilan saat ini, dan juga apapun konsekuensi nya Tanah Adat Lapangan Gembira adalah HARGA MATI untuk masyarakat Toraya. Sebelum kami berangkat ke Jakarta kami juga telah melakukan konsolidasi dengan elemen masyarakat dan pemuda sehingga melahirkan kesepakatan yaitu aksi Nasional dan di dukung pengumpulan tanda tangan di kain putih oleh seluruh masyarakat Toraya di seluruh pelosok Indonesia yang nanti nya akan diserahkan langsung ke Mahkamah Agung sebagai bentuk protes keras terhadap proses peradilan yang melukai hati kami masyarakat Toraya., Selain itu kami juga telah melakukan aksi demonstrasi di depan Mapolres Tana Toraja guna mempertanyakan kinerja Kepolisian Republik Indonesia didalam menangani laporan kami yaitu tindak pidana pemalsuan dokumen seperti yang tertuang dalam pasal 263 KUHP.

Demikian sebagian kecil fakta – fakta hukum yang muncul di persidangan dan dengan sengaja diabaikan oleh Majelis Hakim dan dengan mudah menerima bukti – bukti pihak penggugat. Besar harapan kami sebagai bagian dari masyarakat adat Toraja Utara, Bapak Ketua Mahkamah Agung R.I. berkenan meluangkan waktunya untuk memberikan perhatian terhadap upaya hukum luar biasa yang ditempuh Bupati Toraja Utara sebagai representasi masyarakat Toraja Utara. Atas perhatian Bapak Ketua Mahkamah Agung R.I. kami sampaikan terima kasih”.

Jakarta, 28 Juli 2020

Hormat Kami,

SC Mahasiswa Toraya Indonesia

  1. Ignas Tandi Rano Ketua SC Mahasiswa Toraya Indonesia
  2. Kevin C.K Bimbin (Kord SC Region Jawa-Bali)
  3. Tino Heidel Ampulembang (Kord SC Region Kalimantan)
  4. Rahman Sampe Bangun (Kord SC Region Sulawesi)
  5. Kevin Datu Kelali (Kord SC Region Papua)

Redaksi Kabarpemuda.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here