Christina Rantetana, Jenderal Asal Toraja Yang Merupakan Laksamana Muda Pertama Perempuan di Indonesia dan Asean.

0
4428
Laksamana Muda TNI (Purn.) Christina Maria Rantetana, S. KM., M. PH.

Perempuan pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) yang mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di luar negeri, yakni di Royal Australian Naval Staff Course di Sydney, Australia. Anggota Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) pertama yang ditugaskan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI. Perempuan pertama yang menjabat Direktur Sekolah Kesehatan di Angkatan Laut. Anggota Kowal pertama yang mengikuti pendidikan strata dua di Tulane Universitas New Orleans, Amerika Serikat. Anggota Kowal pertama yang menjadi staf ahli Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Bidang Ideologi dan Konstitusi. Dan, Jenderal bintang dua perempuan pertama di Angkatan Laut serta se-Asean.

***

Laksamana Muda TNI (Purn.)  Christina Maria Rantetana, S. KM., M. PH., lahir di Makale 24 Juli 1955 dan meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 2016 di RSAL Mintohardjo Jakarta Pusat pada usia 61 tahun karena Kanker, meninggalkan Suami Ir. Cosmos S. Birana dan 5 anak yakni Belo P. Birana, Mada P. Birana, Lambe P. Birana, Rinding P. Birana dan Irianto P. Birana.

Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru, ayahnya bernama Adrianus Yohanis Lolok dan Ibunya bernama Christina Patandung.  Tanggal lahir Christina Rantetana sama dengan tanggal lahir ibunya yaitu pada tanggal 24 Juli, itulah sebabnya ibunya memberi nama yang sama ‘Christina’.

Christina adalah anak ke dua dari tujuh bersaudara. Ia tammat di SD Negeri Sampean Mengkendek tahun 1969, SMP Katolik Minanga tahun 1972, SMA Katolik Makale tahun 1975, Akademi Keperawatan Makassar tahun 1978, S1 Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia tahun 1987 dan S2 Universitas New Orleans, USA (Amerika Serikat) tahun 1989.

Christina Rantetana Bersama Suami Ir. Cosmas S. Birana, MS

HIDUP DALAM DIDIKAN GURU

Lahir dari keluarga guru membuat hidup Christina sejak kecil sudah disiplin. Ayahnya menerapkan pendidikan  ala Belanda. Sama halnya dengan teman-teman sebayanya, Christina sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah dan sering membantu orang tua ke sawah menanam padi. Setiap harinya menumbuk padi dan memberikan makanan ternak babi, Pekerjaan ini umumnya dilakukan bagi gadis-gadis Toraja yang tinggal di Desa. Saat malam, belajar menggunakan lampu pelita, karena sejak SD hingga SMA rumahnya belum mendapatkan penerangan listrik.

Secara Prestasi dan Akademik, Christina Rantetana boleh dikatakan biasa-biasa saja, Sejak SD hingga SMA tidak pernah mendapat juara kelas, nilainya biasa-biasanya saja. Tekad, niat dan kedisiplinan yang membuat Christina Rantetana mampu menjadi tokoh penting dalam sejarah kemiliteran Republik Indonesia.

DARI SEKOLAH PERAWAT MENJADI SEKOLAH PERWIRA MILITER SUKARELA WANITA

Sejak kecil Christina Rantetana memiliki impian dan cita-cita menjadi seorang perawat. Ia sama sekali tidak pernah berpikir menjadi seorang  prajurit. Karena, sejak kecil Christina takut dan trauma terhadap tentara, ketika melihat dan bertemu langsung dengan orang yang menggunakan pakaian loreng langsung keringat dingin. Kebetulan rumahnya berada dipinggir jalan, setiap hari dilalui Tentara pada saat masa pemberontakan  dan hampir setiap hari mendengar bunyi senjata.

Saat lulus dari Akademi Keperawatan  Makassar tahun 1978, berawal dari ajakan sahabatnya yang bernama Eny untuk sama-sama mengikuti test Sekolah Perwira Militer Sukarela Wanita (SEPAMILSUKWAN ABRI). Pada saat itu Angkatan Laut membutuhkan prajurit yang berlatar perawat dan medis. Awalnya hanya untuk menyenangkan hati temannya, sama sekali tidak tertarik, ia hanya ikut dan coba-coba saja, “toh juga tidak ada salahnya untuk coba-coba sambil menunggu ijazah keluar” ujar Christina.

Jalan hidup seseorang memang sudah ditentukan Tuhan, saat test tahap pertama, sahabatnya yang bernama Eny tidak lulus, Christina Lulus. Semua yang lulus pada test pertama dari seluruh Indonesia berangkat ke Malang untuk menjalani test tahap dua dan mereka yang lulus di Malang diberangkatkan ke Bandung untuk menjalani pendidikan selama 9 (Sembilan) bulan. Tahun 1979 lulus  di SEPAMILSUKWAN ABRI Bandung dengan pangkat Letnan Dua (Satu Balok) dan ditempatkan di Tanjung Pinang di sebuah Rumah Sakit Kepulauan Seribu sebagai Kepala Keperawatan. Apa yang dicita-citakan Cristina selama ini tercapai yaitu menjadi seorang perawat, meskipun itu perawat dalam lingkup militer.

Tahun 1985, Christina Rantetana ditugaskan di Surabaya sebagai Kepala Pendidikan dengan pangkat Kapten, ada tawaran dari Universitas Indonesia untuk Angkatan Laut bagi yang mau mengambil  program S1 Kesehatan Masyarakat. Dari 6 orang yang ikut test hanya 2 orang yang lulus masuk Universitas Indonesia. Setelah lulus di Universitas Indonesia, Christina Rantetana di tugaskan di Markas Besar (Mabes) Angkatan Laut sebagai Perwira Staff Direktorat Kesehatan.

Baru setahun di Mabes AL ada tawaran lagai dari BKKBN untuk S2  ke luar negeri. Tawaran ini ditujukan  untuk TNI dan POLRI. Dari angkatan laut ada 3 orang yang ikut test dan cuma Christina yang dinyatakan lulus. Setelah menyelesaikan Study S2 di Amerika Serikat kembali ke Indonesia dan berikan kepercayaan menduduki Jabatan sebagai Komandan Ksatrian Kowal Tjut Nyak Din dengan Pangkat Mayor.

Christina Rantetana saat masih berpangkat Laksamana Pertama

MENGIKUTI PENDIDIKAN SEKOLAH STAF DAN KOMANDO

Christina Rantetana termasuk prajurit TNI AL yang sangat beruntung, ia bukan lulusan AKABRI(Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Ia hanya lulusan SEPAMILSUKWAN ABRI. Atas kedisiplinan  yang selama ini didapatkan dari ayahnya, Christina mampu mengikuti jejak lulusan AKABRI. Christina adalah perempuan pertama di TNI AL yang mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di luar negeri, yakni di Royal Australian Naval Staff Course di Sydney, Australia.

Setelah menyelesaikan study S2 di Amerika Serikat dan menjadi Komandan Ksatrian Kowal Tjut Nyak Din Jakarta dengan Pangkat Mayor, Panglima TNI AL melihat potensi yang dimiliki Christina Rantetana, ia pun diberikan penugasan sebagai Direktur Sekolah Kesehatan.  Christina rangkap dua jabatan yakni sebagai Komandan Ksatrian Kowal Tjut Nyak Din dan Direktur Sekolah Kesehatan. Khusus jabatan Direktur Sekolah Kesehatan seharusnya dijabat pangkat Lelkol, namun demikian, Panglima mempercayakan Christina sebagai Direktur Sekolah Kesehatan meskipun saat itu ia masih berpangakt Mayor. Sementara menjabat dua jabatan, Christina Rantetana mendapat tugas ke Australia selama 3 bulan belajar penempatan  Kowal di Kapal. Saat masih berada di Australia, kemudian Panglima TNI AL mengevaluasi Christina dan menghubungi langsung untuk mengikuti Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di Australia selama 9 bulan.

Setelah lulus Sesko, Christina Rantetana dinaikkan pangkatnya menjadi Letkol dan di tempatkan di Jayapura-Papua. Belum setahun di Papua dipanggil ke Jakarta untuk menjadi Anggota DPR/MPR RI untuk mewakili Fraksi ABRI.

MENJADI PERWIRA TINGGI ANGKATAN LAUT

Mimpi untuk menjadi perwira Tinggi di TNI AL sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Christina Rantetana. Pada masa pemerintahan Orde Baru, DPR/MPR RI masih memiliki keterwakilan Fraksi ABRI.

Menurut Christina, awalnya ada senior yang mengikut test masuk anggota DPR/MPR RI, hanya saja tidak lulus, karena waktu yang sangat singkat dicarilah calon pengganti yang tidak perlu mengikuti test, tetapi harus sarjana. Panitia seleksi di Fraksi ABRI menjatuhkan pilihan kepada Christina Rantetana karena memiliki rekam jejak yang sangat baik. Cristina baru mengetahui setelah diceritakan oleh Fraksi ABRI yang melakukan seleksi. Jadi satu-satunya anggota DPR/MPR RI dari Fraksi ABRI yang tidak mengikuti test.

Di saat orang lain rebutan masuk DPR/MPR RI, Christina Rantetana sama sekali tidak pernah berpikir dan berminat bahkan buta tentang politik, sempat kaget saat dipanggil ke Jakarta menjadi anggota DPR/MPR RI.

Untuk memperkaya pengetahuan tentang politik, Christina Rantetana tidak mau ketinggalan. Setiap harinya selalu 2 jam lebih awal masuk kerja. Biasanya Jam 6.30 sudah berada di kantor baca buku dan dengar berita, apapun yang terkaid tentang politik dibacanya.

“Bayangkan saat itu, modal saya belum mampu beli TV, saya hanya mampu beli radio philip kecil, radio kecil itu saya taruh diatas meja, saya tidak malu. Begitu datang di kantor DPR RI, langsung stel radio, dengar berita sambil baca majalah politik, koran dan buku, pokoknya yang berbaur politik saya baca. Mengapa saya lakukan ini?, saya tidak ingin menjadi anggota DPR RI yang hanya diam saja, saya harus bunyi tetapi harus berbobot” Kata Kristina.

Di DPR RI dipercayakan duduk di Komisi 1 membidangi luar negeri, pertahanan, keamanan dan hukum. Christina Rantetana sama sekali tidak menyangka dirinya dipercaya menjadi Sekretaris Fraksi ABRI. Padahal menurut Christina, masih banyak senior-seniornya. Karena Jabatan Sekretaris Fraksi diduduki oleh Jendral Bintang Satu, Christina pun dinaikkan pangkatnya menjadi Laksmana Pertama. Pada periode 1999-2004, Christina Rantetana menjadi anggota Komisi V membidangi Infrastruktur dan Perhubungan. Christina Rantetana menjadi anggota DPR/MPR RI dari Fraksi ABRI hingga tahun 2004 setelah penghapusan Fraksi  ABRI di DPR RI tahun 2004.

Suskses menyelesaikan tugas sebagai anggota DPR/MPR RI, Christina ditarik ke Mabes TNI AL kemudian ditempatkan di Kemenkopolhukam sebagai  Asdep I/II Bidang Diplomasi Publik tahun 2005 dan tahun 2006 hingga 2013 diangkat menjadi Staff Ahli Menko Polhukam Bidang Ideologi dan Konstitusi dengan pangkat Laksama Muda.

Sukses dalam karir militer, Christina Rantetana mendapat berbagai penghargaan seperti: Satyalancana Kesetiaan VIII, Satyalancana Kesetiaan XVI, Satyalancana Kesetiaan XXIV, Satyalancana Kesetiaan XXXII, Satyalancana DWIDYA SISTHA, Satyalancana GOM IX/Raksaka Dharma, Satyalancana DHARMA NUSA, Satyalancana DHARMA Samudra, Bintang Jalasena Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya, Anugerah Citra Kartini dan Maritime Woman Award. Selain itu sering mendapat penugasan luar negeri seperti Pendidikan dan Pelatian di Amerika Serikat, Australia, Swedia, Mongolia dan Nepal, Penugasan Khusus di Thailand, Philipina, Inggris, Australia, Italia, China, India, Singapura, Timor Leste, USA dan Genewa.

ORGANISASI:

  • Anggota Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI)
  • Ketua Umum Persatuan Perempuan Toraja
  • Ketua I Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia
  • Anggota Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS)
  • Anggota Komisi Kerawam KWI
Suasana Pemakaman Christina Rantetana, Mengkendek, 10 Agustus 2016 (dok. Kareba Toraya)

LAYAK MENJADI INSPIRASI

  1. Christina Rantetana layak menjadi Inspirasi secara khusus generasi muda Toraja kaum perempuan, Christina Rantetana mengajarkan kepada kaum perempuan, berkarir mampu tampil pada level Nasional bahkan Internasional sama pada posisi laki-laki.
  2. Secara Prestasi dan Akademik, Christina Rantetana boleh dikatakan biasa-biasa saja, Sejak SD dan SMA tidak pernah mendapat juara kelas, nilainya biasa-biasanya saja. Tekad, Niat dan Kedisiplinan yang membuat Christina Rantetana mampu menjadi tokoh penting dalam sejarah Kemiliteran Republik Indonesia.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Wawancara Langsung Saat Beliau Masih Hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here