Jacob Samban, Profesor Pertama dari Toraja

0
2080
Prof. Jacob Samban

Separuh hidupnya diperuntukkan untuk membina dan membentuk karakter generasi muda Toraja, Ia memahami betul karakter dan mental anak-anak muda Toraja yang tidak berani tampil di depan banyak orang. Prof Samban mendedikasikan dirinya menjadi motivator tanpa pamrih hingga banyak generasi muda Toraja yang berani tampil dan percaya diri.

***

Jacob Samban merupakan cendikiawan Toraja yang pertama berhasil mendapat gelar Profesor, ia lahir di Makale 13 Oktober 1933 dan meninggal pada usia 75 tahun tanggal 02 Oktober 2008.

Prof. Samban lahir dari pasangan Daud Kondo Samban dan Martha Limbong, istrinya bernama Hana Rantela’bi Pirri dan memiliki 7(tujuh) anak yakni Julius Rantelabi Samban, Petrus Palelleng Samban, Ritha R. Samban, Ery Arrang Samban, Yudia E. Rante Samban, Imanuel A. Pirri Parura Samban, Samuel Samban.

Jacob Samban adalah guru besar Institute Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) sekarang Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Makassar (FIK UNM).

Tamat di Sekolah Rakyat (SR) Makale tahun 1948, kemudian masuk di Sekolah Guru Bantu (Holandsche Indische Kweekschool) Makale lulus tahun 1952 dan Sekolah Guru Atas (Hoogere Kweek School) tahun 1955. Pada tahun 1960 Jacob Samban mendapat gelar Sarjana Muda dari FKIP Tondano Manado, kemudian tahun 1963 menyelesaikan studinya sebagai Sarjana Olahraga di FKIP Universitas Padjdjaran (Unpad) Bandung.

Prof. Jacob Samban Bersama Istri Hana Rantela’bi Pirri

DARI GURU SR HINGGA MENJADI DEKAN DAN MENJADI GURU BESAR.

Sejak kecil Jacob Samban bercita-cita menjadi seorang guru, untuk mewujudkan cita-citanya, setelah tammat di SR, Jacob Samban lebih memilih masuk sekolah Guru Bantu. Sebelum Indonesia merdeka Sekolah Guru Bantu (SGB) bernama Holandsche Indische Kweekschool. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, untuk menjadi seorang guru di SR harus lulusan Sekolah Guru Bantu dengan menempuh pendidikan selama 4 (empat) tahun. Kemudian persyaratan berubah setelah kemerdekaan tahun 1957 bahwa guru yang mengajar di SR/SD harus lulusan SGA (Sekolah Guru Atas), pendidikannya 3(tiga) tahun setelah SMP.  Sekolah Guru Bantu ditutup, bagi mereka yang memiliki ijazah SGB harus menempuh pendidikan persamaan setara SGA.

Siswa yang menempuh pendidikan di SGA mendapat ikatan dinas dari pemerintah berupa beasiswa dan tunjangan hidup, setelah tammat di SGA langsung bisa mengajar dan menjadi PNS.

Tahun 1955, Jacob Samban menjadi guru SR VI Enrekang kemudian pada tahun yang sama dipindahkan ke Mamasa menjadi guru SMP selama 5 tahun.

Dalam perjalananya, Jacob Samban sempat berubah pemikiran menjadi seorang guru, ia ingin menjadi seorang pendeta, sempat menghadap Gereja minta dibantu untuk mengganti uang beasiswa yang didapatkan sebelumnya, karena Gereja tidak bisa membantunya dan Jacob Samban tidak memiliki uang untuk mengganti beasiswa tersebut, akhirnya beliau ke Manado melanjutkan pendidikan karena mendapat tugas belajar. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda di IKIP Tondano Manado, Jacob Samban menjadi Asisten tingkat 2 di FKIP Tondano. Kemudian mendapat kesempatan melanjutkan program Sarjana di FKIP Univeritas Padjadjaran (Unpad) Bandung, setelah menyelesaikan program Sarjana tahun 1963 sempat menjadi pegawai bulanan Unpad, hanya beberapa bulan, pindah ke Makassar dan menjadi Asisten Ahli STO (Sekolah Tinggi Olahraga) Cab. Makassar tahun 1963-1964. Kemudian menjadi Lektor Muda pada STO Cab. Makassar tahun 1965 dan Lektor (Pengajar di Perguruan Tinggi berpangkat pembina atau golongan IV/a) pada tahun 1967, Pembina dekan STO Makassar 1968 dan Dekan pada FKIP Ujung Pandang tahun 1976.

Tahun 1980 mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan S2 di IKIP Jakarta, Jacob Samban termasuk orang yang jenius, karena baru 2 semester kuliah di program S2 dengan indeks Prestarsi Rata-rata (IPR) diatas 3,46 (A-), tahun 1981 diberi kesempatan untuk melakukan transfer program dari Program S2 ke Program S3 lulus tahun 1982.

Jacob Samban mendapat gelar Profesor dalam bidang olahraga, ia menemukan gerak olahraga yang sangat rumit dengan gerakan sederhana. Olahraga rumit harus menggunakan metode holistik sedangkan olahraga sederhana boleh menggunakan autolistik.

Sebenarnya Jacob Samban sudah lama menjadi guru besar, hanya saja beliau belum menggunakannya sebelum mengambil S3, Zaman dahulu menjadi guru besar bisa sebelum S3, Kalau sekarang untuk menjadi guru besar harus menyelesaikan studi S3.

Prof. Jacob Samban bersama Istri dan Anak-anaknya

SOSOK PENDIDIK YANG DEMOKRATIS DAN MOTIVATOR

Sosok Jacob Samban merupakan pendidik yang sangat demokratis dan seorang motivator khususnya bagi generasi muda. Jika  menyangkut pembinaan pemuda Gereja dan menyangkut anak muda Toraja, Jacob Samban tidak tanggung-tanggung mengeluarkan dana. Meskipun secara financial tidak terlalu banyak, ia tidak peduli dengan semua itu. dalam memberikan motivasi selalu diselingi canda dan tawa yang menyegarkan.

Jacob Samban sangat memahami karakteristik anak-anak muda Toraja yaitu tidak berani tampil di depan banyak orang, apalagi jika sudah keluar dari lingkungan komunitas Toraja. Oleh karena itu separuh hidupnya diperuntukkan untuk pengembangan mental dan karakter anak-anak muda Toraja sampai percaya diri. Bahkan sampai sakit pun dia masih menjadi ketua pembinaan pemuda di Gereja.

 

Di mata anak-anaknya, Jacob samban sosok orang yang demokratis, hanya dalam batas-batas tertentu beliau baru mengambil tindakan. Cara mendidik anak-anaknya dengan system demokratis bukan dengan cara otoriter. Anaknya tidak harus belajar mutlak, dibiarkan jalan sendiri, hanya memberi arahan semacam wejangan. Mendidik dan menanamkan bergaul dengan siapa saja, tidak boleh memandang latar belakang, tetapi harus proteksi diri.

Di mata mahasiswa, Jacob Samban sosok pembimping yang sangat teliti, ia membimbing mahasiswanya sampai tuntas, tidak boleh instan, jika ada mahasiswa yang berkonsultasi biasanya meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk sharing dan berbagi ilmu.

Buah pemikiran yang selalu melekat dalam diri mahasiswanya adalah mengkritisi kata ‘Men Sana In Corpore Sano’, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, menurut Jacob Samban ada kekeliruan dengan kalimat tersebut, kekeliruan yang maksud adalah tidak utuh alias dipenggal,

Menurutnya, kalimat yang utuh adalah ‘Orandum est ut sin mens sana in corpora sano’ yang artinya hendaknya engkau berdoa agar ada pikiran yang sehat di dalam badan yang sehat.

Kekeliruan yang disebabkan penggalan kalimat tersebut akhirnya menyesatkan pemikiran banyak orang, kenyataanya, banyak orang gila yang badannya sehat, banyak penjahat dan koruptor yang berbadan sehat artinya badan sehat tetapi jiwa mereka tidak sehat.

LAYAK MENJADI INSPIRASI

  1. Jacob Samban layak dijadikan inspirasi, sebagai cendikiwan Toraja yang pertama kali mendapat gelar Profesor (Guru Besar), tindakannya banyak memberikan motivasi tanpa pamrih kepada generasi muda Toraja.
  2. Memotivasi generasi muda bukan hanya lewat kata-kata, tetapi tidak tanggung-tanggung mengeluarkan dana yang dimiliki hanya untuk mendukung program-program kepemudaan yang berkaitan dengan pembentuk karakter dan mental.
  3. Jacob Samban konsisten dengan pembinaan generasi muda, sampai beliau sakit pun  tetap memberi diri dalam hal pembinaan generasi muda.

 

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/Wawancara Langsung Salah Satu Anaknya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here