Willem Linggi Tambing, Orang Toraja Pertama yang duduk di DPR RI

2
4796
Willem Linggi Tambing

Orang Toraja pertama yang menduduki eselon tinggi dalam jabatan pemerintahan dan orang Toraja pertama yang duduk di DPR RI, dia juga salah satu pelopor berdirinya Kabupaten Tana Toraja.

***

Willem Linggi Tambing Lahir di Madandan Tana Toraja, tanggal 17 Februari 1923, dan meninggal pada tanggal 06 Maret 1995 usia 72 tahun, lahir dari pasangan Sampe Bunga dan Rut. WL Tambing lulus di Hollandsch Inlandsche School (HIS) setingkat SD, kemudian masuk  di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Mulo-B) Makassar, setingkat SMP dan Algemeene Middelbare School (AMS-B) Makassar, setara SMA.

Tahun 1952 WL Tambing diangkat menjadi Kepala Pemerintah Negeri (KPN) di Palopo Kabupaten Luwu, terjadi peristiwa pemberontakan DI/TII pimpinan Qahhar Mudzakkar di Sulawesi Selatan dan Tenggara, salah satu daerah basis pemberontahakan DI/TII adalah Kabupaten Luwu. Gelombang pengungsi besar-besar an terjadi di daerah Luwu, dan salah satu daerah asal mengungsi adalah Bastem. Atas wewenang WL Tambing sebagai Kepala Pemerintah Negeri, ia meminta bantuan tentara untuk membuka daerah hutan, kini Seriti-Lamasi. Banyak diantara orang Kristen yang mendapat siksaan, dan saat diminta dirinya untuk pindah dari Palopo, WL Tambing lebih memilih mundur dari jabatannya dan fokus berkiprah di Dunia Politik. Salah satu alasan WL Tambing memilih mundur dan fokus pada dunia politik adalah karena menurut dia, dirinya masih dibutuhkan warga Toraja yang ada di Kabupaten Luwu. Untuk mengenang jasa WL Tambing, warga Seriti-Lamasi mengabadikan namanya di salah satu jalan yang ada di Seriti.

Tahun 1952-1956 menjadi anggota Dewan Pimpinan Cabang Parkindo Palopo merangkap anggota Dewan Koordinasi Cabang Parkindo Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan. Kemudian Tahun 1953 – 1955 Anggota Dewan Pemerintah Daerah Swatantra Luwu Sulawesi Selatan.

Suasana pemilu umum 1955

MENJADI ANGGOTA DPR-GR (GOTONG ROYONG)

Pada tahun  1955 terjadi pemilihan umum pertama di Indonesia untuk memilih anggota DPR dan Anggota Konstituante. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) salah satu peserta pemilu 1955. Tahap pertama pemilihan DPR diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, diikuti 29 partai politik dan individu, dan tahap kedua tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota Konstituante.

Dua tokoh Toraja yang namanya berkiprah di Parkindo pada saat itu yakni Renda Saroengallo dan WL Linggi Tambing. Mereka berdua jugalah orang Toraja yang masuk di Parlemen dan Konstituante.

Pemilihan tahap pertama, Partai Parkindo berhasil memperoleh 1.003.326 suara dengan perolehan presentase 2,66 % dan mendudukkan 8 orang  di DPR. Dari 8 orang yang duduk di DPR salah satunya adalah WL Tambing. Dan untuk tahap kedua, Partai Parkindo berhasil  memperoleh 988.810 suara dengan perolehan presentase 2,61 % dan mendudukkan 16 orang di Konstituante. Perolehan suara untuk pemilihan anggota Konstituante menurun lebih sedikit dari pemilihan DPR, hanya saja jumlah kursi untuk anggota Konstituante dua kali lipat lebih banyak dari anggota DPR, jumlah kursi untuk DPR sebanyak 260 kursi sedangkan untuk anggota Konstituante sebanyak 520 Kursi. Dari 16 orang yang duduk dianggota Konstituante dari Partai Parkindo salah satunya adalah Renda Saroengallo. WL Tambing menjadi anggot DPR sejak tahun 1955  hingga tahun 1971.

Saat Orde Baru berkuasa, tahun 1973, MPR mengeluarkan ketetapan tentang GBHN yang menegaskan perlunya pengelompokan partai pemilu, artinya parpol-parpol yang dianggap sejenis akan difusikan (dileburkan). Sehingga pada pemilu 1977 ada 2(dua) partai politik dan 1 Golongan yang mengikuti pemilu.

Partai-partai yang berideologi Islam bergabung menjadi satu dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yakni Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Islam PERTI. Sedangkan partai yang berhaluan nasionalis bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yakni Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) serta Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik.

Saat terjadi Fusi partai, WL Tambing dan Renda Saroengallo tidak setuju. Salah satu alasannya adalah apabila ada kepentinngan nasional yang diperhadapkan dengan kaum minoritas, maka pasti yang akan dikorbankan adalah kaum minoritas. Meski demikian partainya Parkindo tetap bergabung di dalam  Partai Demokrasi Indonesia. Dalam perjalanannya, kedua orang ini, jika ditanyakan dari partai mana, selalu menjawabnya “saya dari partai Parkindo” .

WL Tambing paling kanan depan saat menghadiri Sidang Umum PBB bersama Menteri Pendidikan Syarif Thayeb

Tahun 1956 memperjuangkan berdirinya SMA Negeri Rantepao. Awalnya SMA tersebut akan dibangun di Bone, atas lobby dan diplomasi yang dilakukan WL Tambing  hingga ke Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, akhirnya disetujui dengan syarat tersedianya guru-guru yang akan mengajar.

Dengan penuh keyakinan dihadapan Menteri mengatakan tenaga guru tersedia. Lalu WL Tambing melakukan safari ke beberapa kota di Jawa antara lain Jakarta, Bandung, Jogja dan Surabaya untuk mencari calon guru dari Mahasiswa Toraja.  setiap bertemu Mahasiswa Toraja ia merayunya dan meyakinkan bahwa Toraja sangat membutuhkan sekolah negeri dan salah satu syarat untuk membangun sekolah negeri adalah tersedianya guru-guru yang akan mengajar. upaya yang dilakukan WL Tambing disambut baik oleh mahasiswa dan bersedia kembali ke Toraja untu menjadi guru setelah mereka selesai kuliah. Dengan tersedianya guru-guru yang akan mengajar maka didirikanlah SMA Negeri Rantepao yang awalnya sekolah ini di bangun di Bone.

Saat terjadi peristiwa 1958 , WL Tambing mengupayakan cuti untuk para Polisi yang ada di Palopo dan Masamba dan beberap tempat lainnya. Panggilan jiwa untuk mempertahankan Toraja dari invasi pasukan Andi Sose’ untuk bergabung dengan pasukan Frans Karangan di bawah pimpinan J. Pappang yang berjalan kaki dari Palu menembus hutan belantara. Atas upaya yang dilakukannya, banyak polisi yang diberikan cuti. Dengan demikian bertambah jumlah pasukan untuk mempertahan wilayah Toraja dan pada akhirnya pasukan Andi Sose’ dipukul mundur keluar dari wilayah Toraja.

LAYAK MENJADI INSPIRASI

  1. Willem Linggi Tambing sangat layak dijadikan Inpirasi,  selain orang Toraja Pertama yang menduduki jabatan eselon tinggi di lingkup pemerintahan, ia juga merupakan orang Toraja pertama yang masuk di DPR RI.
  2. Untuk membela kaum minoritas, ia lebih memilih terjun ke dalam dunia Politik, menurutnya, masuk ke dalam dunia Politik adalah sarana yang tepat untuk menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak dan kepentingan kaum minoritas. Bahkan saat dirinya ingin dipindahkan sebagai Kepala Pemerintah Negeri (KPN) Palopo, ia lebih memilih mundur dan fokus pada dunia Politik.
  3. Willem Linggi Tambing adalah sosok orang yang berani, saat terjadi peristiwa 1958 di Toraja, Willem Tambing bersama Renda Saroengallo berjuang di pusat menyakinkan pemerintah pusat bahwa wilayah Toraja adalah bagian dari NKRI. Jiwa nasionalisme Toraja jangan di ragukan.
  4. Willem Linggi Tambing sangat peduli terhadap pentingnya pendidikan, saat menjadi anggota DPR, salah satu orang yang mengupayakan berdirinya SMEA Kristen Makale, SMA Negeri 1 Rantepao dan SGO.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/dr. Bara’ (Salah satu anak WL Tambing)/Romba’ Sombolinggi/Channel Youtube Idwar Anwar-Inilah Anggota DPR RI Hasil Pemilu Pertama 1955 dari Dapil Sulawesi Selatan/Tenggara (Part 1)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here