Pendeta Jan Linting, Tokoh Pejuang Tiga Zaman

0
2163
Pdt. J. Linting

Pdt. J. Linting terlahir dengan nama So’ Ruppia yang dalam perkembangannya di sapa Ne’ Gasa’. Nama Ne’ Gasa’ diberikan oleh teman-teman seperjuangannya baik di Parkindo maupun Gereja Toraja. Panggilan Ne’ Gasa’ sebagai simbolik atas keberaniannya dan ketegasan dalam mengambil keputusan. Tidak semua pengurus dalam struktur organisasi Gereja Toraja  dipanggil “Tuang Ketua” selain Pdt. J. Linting. Panggilan ini akrab di telinga masyarakat sampai ke desa-desa. Nama panggilan Tuang ketua sebagai symbol kepemimpinan yang disematkan oleh warga jemaat dan masyarakat.

***

Pdt. Jan Linting Lahir pada tanggal 02 Mei 1915 dan meninggal pada umur 78 tahun pada tanggal 10 November 1993. Menyebut nama pendeta Linting atau J. Linting khususnya bagi kalangan Gereja Toraja sebagian besar mengenalnya terlebih khusus yang lahir di era 50-70 an. Namun tidak sedikit dari mereka yang hanya mengenal namanya saja, tidak mengenal sepak terjangnya.

Dalam buku W.I.M. Poli yang berjudul “Kepemimpinan Strategis Pelajaran Dari Yunani Kuno Hingga Tana Toraja”, Pdt. J. Linting di kenal dengan Pendeta tiga zaman: Zaman Kolonial Belanda, Zaman Jepang dan Zaman Kemerdekaan.

Tidak dapat disangkal bahwa Pdt. J. Linting adalah seorang pelaku sejarah yang turut mewarnai perkembangan sejarah gereja dan masyarakat Toraja.

Banyak orang mengenal hanya pada puncak karirnya sebagai pendeta dan pimpinan Sinode Gereja Toraja. tetapi sebenarnya fase perjalanan hidupnya banyak menentukan sejarah perjalanan Toraja pada masa Pemerintah Belanda, Jepang, Zaman Kemerdekaan Indonesia, hingga memasuki babak pergolakan DI/TII, peristiwa 1953 dan 1958.

Salah satu konsep pemikiran Pdt. J. Linting yang sampai saat ini belum terealisai adalah adanya konsep “Toraya Raya”. Sebagai sebuah etnis yang besar, Toraja bukan hanya yang ada di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, melainkan Toraja Raya itu meliputi wilayah 3 Propinsi yakni: Tana Toraja, Toraja Utara, Duri, Suppiran, Bastem, Rongkong, Seko, Mamasa, Kalumpang, hingga Poso).

Sosok Pdt. J. Linting merupakan sosok pemimpin yang kharismatik, mampu memadukan hubungan Gereja dan Politik. Dia adalah pendeta Gereja Toraja pertama yang terang-terangan yang melibatkan diri dalam dunia politik praktis. Dalam semua kesempatan bertemu dengan masyarakat, Pdt. J. Linting selalu tampil sebagai penghotbah dan politisi sekaligus. Pdt. J. Linting mengatakan “semua orang Kristen, termasuk Pendeta harus mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh Bangsa dan Negara serta mencari jalan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut demi kepentingan manusia”. Menurut beliau persoalan Bangsa dan Negara dan Daerah adalah bagian dari tugas pelayanan umat Kristen, termasuk Pendeta. Mimbar Gereja tidak cukup menjadi media pelayanan untuk memecahkan masalah umat manusia di bidang sosial, ekonomi, politik dan keamanan yang begitu luas dan kompleks. Karena itu, pelayanan dibidang Politik harus dilakukan melalui lembaga politik, yaitu partai politik, yang sesuai dengan iman Kristen. Itulah sebabnya Pdt. J. Linting memilih PARKINDO sebagai alat perjuangan dan pelayanannya.

Meskipun tindakannya banyak diprotes oleh beberapa pendeta dan guru-guru, Pdt. J. Linting tetap teguh menjalaninya. Di Tana Toraja, PARKINDO menghadapi dua kekuatan politik yakni PNI dan PKI. Waktu itu  Gereja Toraja mengasuh ratusan sekolah dan guru-guru yang mengajar di SD adalah sebagian besar pegawai negeri yang menjadi kader dan pengurus PNI. Para guru tersebut banyak yang menduduki jabatan penatua dan syamas di Jemaat mulai memperlihatkan sikap kritis terhadap langkah Pdt. J. Linting dalam setiap pidatonya yang selalu disisipkan politik.  Bahkan beliau digelar sebagai Pendeta Politik. Kampanye guru-guru tersebut nampaknya berhasil, indikatornya adalah, jumlah pengunjung ibadah hari minggu jika Pdt. J. Linting yang melayani mulai berkurang.

Tetapi dibalik tindakan Pdt. J. Linting ini, PARKINDO berhasil meloloskan 2 putra terbaik Toraja lolos ke pusat yakni WL. Tambing sebagai Anggota DPR dan Renda Sarungallo sebagai Anggota Konstituante. PARKINDO memiliki peranan yang sangat penting saat terjadi peristiwa DI/TII, Perisitwa 1953 dan 1958 di Toraja, melalui jalur politik, WL. Tambing dan Renda Sarungallo memainkan peranannya di pusat. Andaikan saja tidak ada PARKINDO di Toraja saat itu, mungkin Sejarah Gereja di Toraja akan berubah.

Pdt. J. Linting adalah pendeta Gereja Toraja yang pertama kali menyatakan melalui perilaku politiknya bahwa politik itu adalah bidang pelayanan gereja, dan warga gereja, termasuk Pendeta harus peduli dengan kehidupan politik di dalam masyarakat di mana gereja ditempatkan oleh Tuhan. Manusia tidak bisa lari dari kehidupan politik, sejalan dengan apa yang  dikatakan Aristoteles bahwa manusia adalah “Zoon Politicon” bahwa manusia dikodratkan  untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain.

Pandangan Politik Pdt. J. Linting ini mengabaikan ajaran teologi gereja-gereja protestan di Belanda (NHK) yang dibawah oleh Gereformeerde Zendingsbond (GZB) yang juga dianut oleh Gereja Toraja, dimana urusan negara dan urusan gereja dipisahkan secara tegas. Implikasi dari ajaran teologi ini adalah seorang pendeta tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik.

Bagi Pdt. J. Linting, situasi di Indonesia khususnya di Toraja berbeda dengan yang ada di Belanda. Warga gereja yang juga adalah anggota masyarakat di Indonesia selalu menghadapi situasi sosial, ekonomi dan politik yang tidak menguntungkan, sehingga pemimpin gereja termasuk pendeta harus turut memikirkan dan mencari solusi terhadap persoalan-persoalan itu.

Pandangan inilah yang membuat dirinya pernah bersebrangan dengan pengurus GZB di Belanda. Kepemimpinan J. Linting terbentuk oleh pengalaman masa lalunya yakni lingkungan keluarga, Pendidikan dan pekerjaannya menjadi seorang guru.

 

MASA KECIL

Waktu kecil bernama So’ Ruppia, Ayahnya bernama So’ Linting dan ibunya bernama Lai’ Suka’ dari Lembang Issong Kalua’ Kecamatan Buntao’, Kabupaten Toraja Utara. Namanya berubah dari So’ Ruppia menjadi Jan Linting setelah masuk Sekolah Rakyat (Volkshool) di Ledo-Buntao’, kuat dugaan nama Jan Linting adalah pemberian dari gurunya yakni guru-guru Zending (GZB) yang sebagain besar berasal dari Ambon, Manado, Sangir, Timor/Rote yang sebagian besar menggunakan nama selalu mencantumkan nama bapak dibelakang nama kecil. Jadi nama So’ Ruppia menjadi nama ‘Jan’ kemudian menambahkan nama ayah ‘Linting’ menjadi ‘Jan Linting’.

Sewaktu kecil, J.Linting termasuk anak yang keras tengkuk, pemalas, kadang-kadang merusak alat-alat dapur, terutama piring. Kebiasaan ibu memasak nasi dicampur ubi jalar, menjadi suatu kejengkelan, sambil membuang nasi dengan piringnya. Itulah sebabnya ayah dan ibunya menitipkan J. Linting ke keluarga seorang guru yang bernama H. Dendang yang masih ada hubungan keluarga.

Setelah dua tahun bersama dengan keluarga H. Dendang, barulah sifat-sifatnya berubah. Yang dulunya anak yang suka marah-marah dan sering merusak, sekarang menjadi anak yang setia dan rajin bekerja, belajar dan patuh pada perintah dari Nyora (gelaran istri guru).

Dapat dipastikan bahwa pembentukan karakter J. Linting menjadi seorang pemimpin terbentuk sejak mulai bersama dengan keluarga H. Dendang.

Sama seperti anak desa lainnya, ia menghabiskan waktunya bermain bersama anak-anak gembala, menggembalakan kerbau dan memelihara babi sambil bermain ala anak desa yang ada di Toraja seperti Sitelang, Silogo’, Sidampalle’, sidoloan dan sebagainya. Ada juga permainan yang sangat familiar bagi anak laki-laki yakni Sisemba’ (adu kaki).

Setelah selesai pendidikan di Sekolah Rakyat, J. Linting melanjutkan pendidikannya di Vervolg School (Sekolah Sambungan) Rantepao. Dia adalah satu-satunya murid dari Buntao’ yang lulus dalam ujian masuk. Saat itu J. Linting berumur 12 tahun. Bermodalkan secarik surat dari Guru H. Dendang yang ditujukan kepada Kepala Vervolg School (orang sangir bernama J. Matualaga) yang berisi apabila memerlukan pembantu dalam rumah tangga dapat memanggil J. Linting. Akhirnya, pada bulan April 1927, J. Linting dipanggil untuk menjadi pembantu di rumah guru Matualaga, dengan tugas mencuri piring dan pekerjaan lainnya di dapur. Namun, hanya setahun karena pada tahu 1928, Guru Matualaga di pindahkan ke Bau-Bau, Buton.

Karena guru Matualaga sangat mengasihi dan menganggap anaknya, J. Linting diajak ikut ke Bau-Bau dan dijanjikan akan dimasukkan ke Normaalschool (Sekolah Guru) di Makassar, apabila tammat di Bau-Bau. Dia setuju atas tawaran guru Matualaga. Sayangnya, ibu J. Linting tidak sudi melepaskan anaknya yang saat itu baru berumur 13 tahun. Supaya J. Linting tidak ikut, ibunya menyogoknya dengan uang sebesar 3 gulden. Apa yang dilakukan ibunya ini membuat J. Linting berubah pikiran, bukan karena sogokan uang, melainkan ternyata ibunya sangat menyayanginya, yang dulunya karena nakal, dia dititip di guru H. Dendang. Sesungguhnya sangat mencintainya.

Tamat di Vervolg School Rantepao pada tanggal 31 Desember 1928,  melanjutkan pendidikan di Normaal Leergang Barana’ hingga 15 Mei 1931. Di Vervolg School Rantepao dan Normaal Leergang Barana’ adalah masa remaja dan dewasa, masa pembentukan karakter dan kepribadiannya menjadi seorang pemimpin.

 

MENJADI GURU

Setelah tamat dari Normaal Leergang Barana’ umur 16 tahun, hanya dalam waktu satu bulan, J. Linting langsung diangkat oleh GZB menjadi guru bantu di Tondon, kemudian dipindahkan di La’bo. Di La’bo, dia berkenalan dengan Josefina Pasang dan menikah pada tanggal 10 Juni 1935. Saat menikah umurnya 20 tahun, dari pernikahannya dengan Josefina Pasang lahir 9 orang yakni: Maria Linting, Monica Linting, Silvanus Linting, Ruth Linting, Johanis Calvyn Linting, Martin Luther Linting, Agustinus Zwingly Linting, Gideon Tony Linting dan Dominggus Amin Linting.

Setelah menjadi guru di La’bo pindah ke Nonongan. Dari guru bantu di Nonongan diangkat menjadi Kepala Sekolah secara berturut-turut di Rano, Kasimpo, Redak, Boto’, Miallo dan Tambunan Makale.

Selama 16 tahun bertugas sebagai guru, membuat dirinya memperoleh kesempatan bersosialisasi dengan masyarakat Toraja dalam 3 kesatuan adat yakni Padang di Ambe’i (wilayah utara), Padang di Kapuangan (wilayah selatan) dan Padang di Ma’dikai (wilayah barat).  Menjadi guru di beberapa wilayah kesatuan adat, membuat dirinya  merasakan nilai-nilai Katorayaan (nilai-nilai Toraja). Nilai-nilai ini yang membuat dirinya semakin matang dalam memimpin.

Saat menjadi kepala sekolah di Redak ( 01 Mei 1937 – 21 Nopember 1939), ketika baru berusia  22 tahun, J. Linting berkonfrontasi dengan pejabat Pemerintahan Hindi Belanda. Redak saat itu masuk dalam wilayah Swapraja Alla’ yang merupakan bagian dari Onderafdeling Enrekang di pimpin seorang Controleur.

Sosok kepribadian J. Linting sangat berani melawan tindakan   Controleur Lapre yang berpangkat Kapten, Bahkan sang Controleur Lapre diminta keluar dari ruangan kelas.

Dengan keberanian J. Linting  tersebut, akhirnya Controleur Lapre dan kedua orang Polisi pengawalnya meninggalkan ruangan kelasnya.

Kejadian ini bermula saat Controleur Lapre melakukan perkunjungan ke sekolah Redak menanyakan murid yang belum membayar uang sekolahnya. Di dalam daftar masih ada 11 murid yang belum melunasi uang sekolahnya. Lapre mengatakan, menurut Residen di Makassar, murid itu harus dikeluarkan dari sekolah. Saat itu J. Linting mengusulkan permohonan supaya muridnya diberikan kelonggaran karena daerah Redak sebagai daerah penghasil kopi hanya dapat melunaskan uang sekolah apabila panen kopi tiba. Namun, permintaan J. Linting tidak dikabulkan, malahan, Controleur Lapre mengancam akan menutup sekolah Redak. Sang Kapten terus marah lalu memukul papan tulis dengan cambuk kudanya hingga papan tulis jatuh. Murid-murid sangat ketakutan sehingga semua masuk kolong meja.

Untuk mempertahankan haknya sebagai Kepala Sekolah, J. Linting marah dan tidak tidak gentar, lalu mengusir Controleur Lapre keluar dari kelas dan mempersilahkan meninggalkan sekolah. Atas tindakan Controleur Lapre, J.Linting melapor kepada atasannya Pdt. H. Pol (tenaga Zending di wilayah Toraja). Pendeta H. Pol berkomunikasi dengan Residen Makassar dan hasilnya Controleur Lapre di pindahkan ke Kalimantan.

Masih sebagai guru, pada masa penjajahan Jepang, para Zending ditawan diberbagai camp tawanan di Sulawesi Selatan. Kehidupan geraja dan sekolah-sekolah pada saat itu ada ditangan pendeta dan guru pribumi. Gereja mengalami tekanan dan ujian yang sangat berat. Akan tetapi, dari tekanan dan ujian berat ini, pada akhinya gereja dan sekolah-sekolah yang ada di Toraja  justru mengalami kemajuan, yang dulunya masih sangat tergantung terhadap GZB kini bisa hidup mandiri.

Pada saat berumur 28 tahun, J. Linting bersama dua rekan guru lainnya yakni C. Rongre dan Tandungan di tangkap dan dipejara oleh Pemerintah Jepang. Mereka di tuduh hendak melawan Pemerintah Jepang melalui organisasi yang pimpinnya bernama Persatuan Guru Toraja yang didirikan pada tahun 1936, J. Linting dilaporkan oleh kawannya sendiri orang Indonesia, bahwa Organisasi Persatuan Guru Toraja membuat rencana melawan Pemerintah Jepang.

Beruntung saat itu, Pdt. Sumbung memberikan informasi kepada Pemerintah Jepang bahwa ke-3 guru dan organisasinya bukanlah organisasi politik melainkan organisasi pendidikan. Usaha Pdt. Sumbung berhasil membebaskan mereka bertiga.

Meskipun bebas, masalah baru muncul, yakni kawannya sendiri orang Indonesia terus bertindak hingga pada akhrinya J. Linting di buang ke Miallo, sekitar 100 km dari kota Makale, sebuah daerah yang sangat terpencil. Penempatan guru ke daerah yang sangat terpencil adalah sebuah hukuman dan Miallo berada dalam daftar hitam para guru. Tidak ada satupun yang berani melawan atas keputusan penempatan waktu pemerintahan Jepang, berbeda pada saat pemerintahan Belanda, masih ada pembelaan.

Saat J. Linting menuju Miallo, dalam perjalanan dia bertemu dengan Samati teman sekelasnya saat sekolah guru yang juga merupakan anggota Persatuan Guru Toraja, Samati berkata kepada J. Linting bahwa  tersiar kabar Kempetai (polisi rahasia sekaligus polisi militer yang ditempatkan diseluruh Jepang termasuk Indonesia sebagai daerah Jajahan) yang ditempatkan di Balepe sedang menunggu kedatangannya, Samati khawatir J. Linting akan ditangkap lagi dan bunuh oleh Kempetai.

Pada saat itu, jika seseorang dicari Kempetai, pasti berurusan dengan nyawa. Mendengar informasi ini, J. Linting sudah pasrah akan hidupnya dan berpesan kepada Samati, bilamana dia dibunuh oleh Kempetai, diperhatikan dimana dia dikubur dan memberitahukan kepada anak dan istrinya yang sudah mengungsi ke Toyasa.

Sekitar jam 5 sore, terdengar berita bahwa Kempetai yang bernama Itani sudah tiba, J. Linting langsung menghadap dan melapor diri kepada Itani tempat menginap. Apa yang dibayangkan J. Linting tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya, Itani justru mempersilahkan duduk disebuah kursi dan Itani sendiri menyiapkan makanan di dapur, kemudian mereka makan bersama.

Linting sangat kaget, karena melihat Itani sebelum makan melipat tangan dan berdoa, ternyata Itani adalah seorang Kristen. Selanjutnya dalam suasana saling percaya karena seiman, Itani memberikan informasi bahwa sejumlah orang Kristen Jepang yang ditempatkan di Sulawesi secara diam-diam berusaha melindungi orang-orang Kristen. Sejumlah nama yang dicatat J. Linting adalah: Miyahara, Sirato, Kida, Date, Oda dan nama-nama lainnya.

Setelah pertemuan empat mata dengan Itani, J. Linting mengambil kesimpulan bahwa pihak Kempetasi  dan jaringannya tidak perlu dirisaukan, justru berada dipihak para pendeta dan guru-guru pribumi. Tanpa berpikir lagi, J. Linting melakukan konfrontasi dengan atasannya, seorang Indonesia juga,  penilik sekolah di Makale. Atas konfrantasi ini, atasannya mengaku bahwa J. Linting sengaja di buang ke Miallo karena dipandang J. Linting berpengaruh di lingkungan Persatuan Guru Toraja. Penilik sekolah tersebut mengaku bersalah, menangis dan merengek, memohon J. Linting berdoa bersamanya, meminta pengampunan baginya dari Tuhan.

Dalam perjalanannya hubungan antara J. Linting dan Itani sangat erat, berbagai informasi tentang Jepang selalu disampaikan kepada J. Linting.

Timbul pertanyaan mengapa Itani sangat percaya kepada J. Linting, padahal apa yang dilakukan Itani ini sangat membahayakan dirinya. Kesimpulannya adalah Itani percaya kepada J. Linting yang saat itu umurnya masih sangat muda bukan karena sama-sama Kristen, melainkan juga karena Itani melihat J. Linting adalah sosok anak muda yang memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa dan dapat diandalkan, selain itu juga J. Linting adalah sosok Pemimpin yang dapat menyimpan rahasia.

 

MENJADI PENDETA

Meskipun Jepang hanya menjajah Indonesia selama 3,5 tahun, akan tetapi proses siar dan pendidikan di Toraja mengalami ujian yang sangat berat, semua Misionaris asal Belanda ditahan oleh tentara Jepang yang membuat para pendeta dan guru pribumi mengambil alih penyebaran agama Kristen dan pendidikan di wilayah Toraja. Langkah dan tindakan yang diambil pendeta dan guru pribumi ini adalah langkah awal gereja dan pendidikan menjadi mandiri, karena sebelumnya semua masih tergantung terhadap GZB.

Masih berstatus sebagai Kepala Sekolah Di Tambunan, tanggal 25-28 Maret Maret 1947 Sidang Sinode Am Gereja Toraja pertama dilaksanakan,  J. Linting bersama D. Palinggi hadir sebagai utusan Klasis Rantepao.  Penunjukan ini agak aneh mengingat waktu itu belum ada Jemaat Gereja Toraja di Tambunan. Kemungkinan besar penunjukan J. Linting sebagai utusan klasis Rantepao karena melihat ada potensi kepemimpinan dalam dirinya. Jiwa kepemimpinan sangat menonjol pada diri J. Linting setelah beberapa organisasi yang pernah diikuti antara lain:

  1. Perserikatan Toraja Cristen di Rantepao tahun 1932;
  2. Anggota dan Kader Parindera (Partai Indonesia Raya) tahun 1933;
  3. Pengurus Persatuan Guru Toraja  tahun 1940;
  4. Anggota PNI di bawah pimpinan dr. Sam Ratulangi tahun 1945;
  5. Ketua II Persatuan Guru Cabang Tana Toraja tahun 1946;
  6. Mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parki) di Rantepao tahun 1948;
  7. Menghadiri Kongres Parkindo tahun 1950 di Jakarta, dimana Parki dilebur ke dalam Parkindo;
  8. Mendirikan Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI) dan Pandu Kristen Indonesia di Makale tahun 1951.

Sepak terjang J. Linting dari guru menjadi pendeta setelah mengikuti Sidang Sinode Am pertama Gereja Toraja, pada tanggal 01 Juni 1947, J. Linting ditarik dari guru untuk mengikuti sekolah pendeta hingga tanggal 30 April 1949. Untuk memenuhi kebutuhan pendeta yang saat itu masih sangat kurang maka dipilihkan orang-orang pilihan dari guru sekolah, guru injil dan bahkan yang ada sudah menjabat pendeta untuk sekolah pendeta di Rantepao. Mereka dipilih dengan kriteria yang ditetapkan oleh DR. Van Der Linde pimpinan sekolah. Kurikulum dipadatkan dengan jangka pelaksanaan 23 bulan.

Tanggal 01 Mei 1949, J. Linting di tahbiskan menjadi Pendeta di Jemaat Randanan sebagai pendeta Klasis Mengkendek.

Kepemimpinan Pdt. J. Linting dalam Gereja Toraja sangat nampak saat dilaksanakan Sidang Sinode Am yang ke-3 yang berlangsung dari tanggal 06-11 Januari 1951. Pdt. J. Linting hadir bukan sebagai peserta tetapi hadir sebagai penasehat.

Dalam sidang Sinode Am ke -3 untuk pertama kali dibentuk sebuah komisi untuk menjalankan pekerjaan sinode sehari-hari yang mempunyai kantor pusat dan pegawai tetap. Badan ini disebut Komisi Usaha Gereja Toraja dan Zending (KUGT/Z). Anggotanya terdiri dari sembilan orang,  tiga diantaranya terpilih sebagai pengurus harian yakni: Pdt. J. Linting (Ketua), Pdt. J. Lebang (Sekretaris) dan Pdt. D. Siahaija (Bendahara). Sebuah sepak terjang yang sangat luar bisa, hanya dalam waktu 2 tahun menjadi Pendeta, J. Linting menduduki puncak kepemimpinan dalam Gereja Toraja, saat itu Pdt. J. Linting berumur 36 tahun. Dalam sejarah Gereja Toraja, Pdt. J. Linting adalah ketua Sinode yang paling muda saat terpilih menjadi ketua hingga saat ini

 

PEMIMPIN TIGA ZAMAN

Dalam sejarah Gereja Toraja dan perjalanan daerah Toraja, kepemimpinan Pdt. J. Linting tidak diragukan lagi. Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal, Pdt. J. Linting adalah sosok pemimpin tiga zaman yakni Zaman Hindia Belanda, Jepang dan NKRI. Saat pemerintahan Hindia Belanda, Pdt. J. Linting berani berkonfrontasi dengan Controleur Enrekang Kapten Lapre, Sosok pemimpin yang berani membela murid sebagai tanggung jawabnya, berani mempertahankan kewenangan dan kewibawaannya di depan orang lain, berani menghadapi konsekuensi yang akan dihadapinya dan menyelesaikannya permasalahan dengan aturan yang benar.

Saat pendudukan Jepang, meskipun dituduh dan di hianati oleh kawannya sendiri orang Indonesia, Pdt. J. Linting tetap tabah dan berani menghadapinya. Bahkan dari tindakannya ini justru mendapatkan kawan  dari lawan hingga pada akhirnya sangat dipercaya oleh Kempetai Itani.

Selama memimpin Gereja Toraja, Pdt. J. L inting menghadapi tiga peristiwa besar yakni perisitwa DI/TII, peristiwa 1953 dan 1958. Ketiga peristiwa ini sangat mengancam eksistensi perjalanan gereja dan siar di wilayah Toraja. Pada peristiwa DI/TII puluhan ribu orang penganut Kristen, Katolik dan Penganut agama leluhur (aluk todolo) dipaksa masuk Islam, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mati syahid karena mempertahankan imannya.

Saat penyelenggaraan Sidang Lengkap Dewan Gereja-Gereja di Indonesia pada tahun 1953, Pdt. J. Linting menjadi utusan Gereja Toraja menyampaikan keadaan dan kondisi keamanan dan khususnya pemaksaan menjadi Islam di daerah Toraja, langsung kepada Presiden Soekarno melalui perantara Dr. Laimena Wakil Perdana Menteri pada saat itu.

Pada konflik 1953 antara Batalion 720 pimpinan Andi Sose dengan  Kompi Frans Karangan yang merupakan bagian dari Batalion 720 bersama masyarakat Toraja. Konflik ini terjadi akibat pasukan 720 dianggap mengancam eksistensi Toraja, Akhirnya Andi Sose bersama pasukannya dipukul mundur keluar dari Toraja.

Kemudian pada peristiwa 1958 (sudah dipaparkan di artikel terkaid Frans Karangan), Pdt. J. Linting ditangkap  dan ditahan di Makassar bersama seorang stafnya yang bernama Gultom. Beliau ditangkap dengan alasan menggerakkan massa.

Di masa kepemimpinannya, selain gangguan dari luar, Pdt. J. Linting menyadari  pentingnya pengembangan Gereja Toraja. Di masa itu masa-masa peralihan, puluhan ribu masyarakat Toraja beralih dari Agama Aluk Todolo masuk ke dalam Kristen. Dibutuhkan tenaga pendeta untuk memelihara iman. Pada persoalan ini, kepemimpinan Pdt. J. Linting lagi-lagi diuji, Singkat cerita, dibawah kepemimpinanya segala gangguan baik dari luar maupun dan persoalan-persoalan dari dalam dapat dilalui. Di bawah kepemimpinannya, Pdt. J. Linting menjadikan Gereja Toraja menjadi sebuah lembaga Gereja di Indonesia yang mandiri.

Setelah bertugas menjadi pendeta selama 31 tahun, akhirnya emeritus pada tanggal 31 Mei 1980, namun, masih diangkat menjadi ketua Majelis Pertimbangan Gereja Toraja (MPGT) tahun 1988-1992. Bahkan sampai akhir hidupnya, beliau tetap menjadi anggota Kehormatan MPGT  1992-1996.

 

PEMIMPIN YANG PEDULI GERAKAN MAHASISWA DAN PEMUDA

Sosok Pdt. J. Linting merupakan pemimpin yang sangat peduli terhadap generasi muda. Dia paham betul bahwa potensi pemuda merupakan tonggak pembangunan masa depan.

Pada tahun 1967 saat hendak dilaksanakan Kongres Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMKI)  di Makale Tana Toraja. Pelaksanaan Kongres GMKI di Tana Toraja adalah upaya penyelamatan Kongres GMKI oleh Pdt. J. Linting dan Gereja Toraja atas situasi yang tidak kondusif di kota  Makassar pada saat itu.

Pdt. J. Linting diangkat menjadi ketua panitia pelaksana kongres. Untuk menyukseskannya, beliau menggunakan pola kerja partisipatif dari jemaat-jemaat Gereja Toraja wilayah Makale dengan jadwal kerja yang jelas untuk merampungkan  segala sesuatu yang berhubungan dengan jadwal kongres. Akomodasi dibangun  berupa lantang dengan arsitek longa (pondok menyerupai rumah Toraja). setiap pondok dibangun untuk satu cabang GMKI dari seluruh Indonesia. Untuk konsumsi selama kongres, dilibatkan satu jemaat untuk berpartisipasi, demikian juga tenaga yang bertugas di dapur umum.

Lokasi Kongres GMKI Di Makale Tana Toraja tahun 1967

Pola kepemimpinan yang dilakukan Pdt. J. Linting adalah pemimpin yang tidak boleh menghindari tanggung jawab.  Saat arena kongres tergenang air, Pdt. J. Linting tidak segan-segan mengambil sekop untuk mengalirkan air. Temasuk berpartisipasi mengangkat kayu bakar untuk dapur panitia. Akhirnya kongres GMKI berjalan dengan baik, atas jasa-jasanya ini, Pdt. J. Linting diangkat menjadi anggota kehormatan GMKI.

LAYAK MENJADI INSPIRASI

  1. Pdt. J. Linting sangat layak dijadikan inspirasi khususnya bagi generasi muda, kepemimpinan J. Linting melalui proses yang  begitu panjang, saat mengambil keputusan selalu memikirkan konsekuensi apa yang akan dihadapinya.
  2. Sosok pemimpin yang sangat berani dalam mengambil keputusan, yakin terhadap instingnya.
  3. Pdt. J. Linting memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perjalanan Toraja.

 

Sumber:

  1. Kepemimpinan Stategis Pelajaran dari Yunani Kuno Hingga Tana Toraja, Karya W.I.M. Poli;
  2. Tuang Ketua, Sosok Ds. J. Linting dalam lintasan Sejarah Gereja Toraja (catatan dari Dr. Julius Saludung, Markus Rani dan  Prof. T.R. Andilolo, Ph.d.);
  3. Pdt. A. J. Anggui dan Alan Singkali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here