Part 1. Rangkuman Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku

0
1692

Rangkuman Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku adalah sebuah hasil pertemuan besar serumpun yang menghimpun  segenap keluarga dan kerabat, dimaksudkan untuk mengokohkan kembali, melegitimasi dan menjastifikasi prinsip-prinsip kekeluargaan, pertalian darah dan persaudaraan yang diwariskan para leluhur orang Sulawesi Selatan.

Mengingat moment ini sangat penting diketahui oleh generasi muda Toraja secara khusus dan generasi muda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat secara umum. Kabar Pemuda.id sebuah media khusus pemuda milik KNPI Toraja Utara akan mengangkat kembali rangkuman-rangkuman hasil Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku.

Pertemuan besar ini, selain dilaksanakan bersamaan dengan penyelenggaraan pertemuan Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara se-Indonesia, juga sekaligus merupakan puncak acara peringatan hari jadi ke 752 Toraja yang dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 1999 pada masa pemerintahan Bupati Tana Toraja Drs. Tarsis Kodrat.

adapun tujuan penyelenggaraan Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku ini antara lain:

  1. Memperkokoh dan mempererat persatuan dan kesatuan, kekeluargaan dan kebersamaan di antara komponen-komponen masyarakat dalam melestarikan dan mengembangkan kebhinekaan nilai-nilai luhur budaya empat etnil di Sulawesi Selatan dan Barat.
  2. Mewariskan wacana pengetahuan dan pemahaman yang benar kepada generasi muda dan generasi mendatang tentang hubungan-hubungan kekeluargaan dan kebersamaan empat etnis Sulawesi Selatan dan Barat.
  3. Menghimpun materi tentang pertalian kekeluargaan dan tradisi dan kebudayaan empat etnis di Sulawesi Selatan dan Barat untuk menjadi acuan dalam pengembangan kajian budaya Nusantara.

Untuk mencapai tujuan tersebut, peserta Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku datang dari 11 Kabupaten di Sulawesi Selatan dan Barat yaitu Kabupaten Luwu Utara, Luwu, Bone, Soppeng, Wajo, Gowa, Enrekang, Pinrang, Sidrap, Polmas, Majene dan Tana Toraja. Masing-masing kabupaten diwakili 12 orang terdiri dari Pemangku Kerajaan/Datu/Ma’dika/Puang, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Pakar dan Budayawan, Unsur Generasi Muda dan Unsur Pemerintah Daerah.

Di samping tokoh-tokoh yang cukup representatif mewakili empat etnis yang disebutkan diatas, sejumlah pakar ikut menyumbangkan pokok pikirannya seperti Prof. Dr. Andi Zainal Abidin Farid, SH., Prof. Dr. C. Salombe, Prof Dr. Abdul Kadir Manyambeang, MS (sejarawan), Dr. Nurhayati Rahman, MS (filolog) dan Dr. Iwan Sumantri (arkeolog) yang diminta tanggapannya secara terpisah di Makassar.

Peserta Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku, 26 Agustus 1999

Berikut hasil Rangkuman Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku:

Part 1.

CATATAN TENTANG HUBUNGAN ORANG TORAJA DENGAN ORANG BUGIS, MAKASSAR, MANDAR, MASSENRENGPULU DAN LUWU

Oleh: Prof. Mr. Dr. Andi Zainal Abidin Farid, SH.

I. SAWERIGADING SEBAGAI LELUHUR SEMUA RAJA-RAJA DISULAWESI SELATAN

Di dalam buku sastra I la Galigo, yang tebalnya diperkirakan 7000 halaman, karya sastra terbesar di dunia. Diceritakan tentang perkawinan La Maddukkelleng To Appanyompa bergelar Sawerigading dengan Wa Pinrokati sepupunya yang tinggal di lereng Gunung Latimojong (Tana Toraja). Menurut sebuah versi Tana Toraja bahwa We Pinrakati, yang oleh orang Toraja disebut sebagai putri Puang Dibiduk, memerintah di lereng Gunung Latimojong sebelah timur.

Pinrokati atau Puang Dibiduk meninggal dunia setelah melahirkan. Ini yang menyebabkan Sawerigading memilih untuk merantau.

Sawerigading adalah Putra Datu Luwu II I La Tiulang Batara Lattu (Toraja: anak manurun di langit), yang mempunyai saudara kembar bernama We Tenriabeng Bissu Rilangi’ (Toraja, Tandiabeng).

Kedua anak kembar itu dipisahkan sejak lahir, oleh karena menurut versi Toraja, bahwa pemali kapua umpemisa’ banua todadi rindu misa’ muane misa baine.

Sawerigading  yang nama kecilnya Lawe dibesarkan di istana Ware’ bersama orang tuanya: Datu Luwu I La Tiulang Batara Lattu’ dan permaisuri We Opu Sengngeng (putri raja Tompoktikka=Luwuk Banggai), sedangkan We Tenriabeng tinggal pada ibu susunya. Setelah dewasa Sawerigading ingin memperistrikan saudara kembarnya yang disangkanya orang lain. Akan tetapi orang tuanya melarang sehingga ia dikawinkan dengan We Pinrakati (Toraja: Pindakati).

Menurut Prof. Dr. C. Salombe dalam makalahnya pada loka karya Sawerigading di Palu pada tahun 1987, bahwa di Tana Toraja terdapat dua versi cerita perkawinan Sawerigading dan We Pinrakati, yaitu:

  1. Versi Tradisi orang Sa’dan dan Balusu

Tradisi orang Sa’dan dan Balusu menceritakan bahwa Puang Tandiabeng kawin dengan Puang Ramman di Langi’ dan menurunkan tiga orang putera. Puang Tandiabeng pergi ke daerah gunung sesean. Puang Ballo Pasangeng menetap di daerah Sa’dan Balusu, yang menjadi leluhur orang-orang Sa’dan-Balusu. Puang Bua Lolo pergi ke Ware’ daerah Luwu dan jadi leluhur orang Ware’.

  1. Tradisi penghuni daerah sekitar bukit Kandora di Mengkendek

Sampai pada masa sebelum perang dunia II tradisi adat-istiadat Sawerigading, yang disebut toma’ ada’ Sawerigading masi dilaksanakan. Penghuni daerah tersebut sangat menghormati Puang Paarranan, yaitu penguasa pelindung sepanjang masa. Puang Paarranan adalah permaisuri Puang Sawerigading yang pertama (conform buku I La Galigo), yaitu seorang dari beberapa saudara sepupunya yang dijadikan permaisuri. Permaisuri Sawerigading (Pindikati) menjadi batu keramat dan tersimpan pada sebuah bangunan berbentuk lumbung di Puncak sebuah bukit kecil di kaki bukit Kandora. Itulah sebabnya tampuk pimpinan desa Kandora sejak dulu berada di tangan anak cucu Puang Jamallomo, anak Puang Sawerigading bersama dengan Puang Pindikati, yang kemudian diberi gelar Puang Paarranan setelah menjadi batu keramat. Dulu bila orang Toraja bergelar Puang menginjakkan kaki di daerah Kandora, mereka harus menanggalkan sepatu dan topinya. Juga ia harus turun dan kudanya dan berjalan kaki. Selama puang berada di daerah itu, maka ia tidak boleh memakai gelar Puang dan ia harus tunduk kepada satu-satunya penguasa, yaitu Puang Paarranan.

Menurut Salombe (1987) bahwa hal yang paling menarik dari tradisi toma’ ada’ Sawerigading tersebut ialah upacara Ma’bulu’ Pare, yaitu upacara mengelu-elukan buah padi, bila tanaman padi itu sedang menghijau dan siap mengeluarka buahnya. Upacara tersebut adalah upacara syukuran yang secara teratur dilakukan oleh orang-orang yang masih memeluk agama leluhur yang disebut aluk todolo. Di daerah Rantepao (kini Toraja Utara) upacara itu disebut Menammu. Upacara Ma’bulu’ Pare berbentuk sebuah pesta merok sangbongi, yaitu upacara syukuran sehari semalam dengan mengorbankan seekor kerbau, dua ekor babi dan ayam jantan berbulu merah (manuk Sella’). Dalam upacara itu enam buah batu keramat Puang Paarranan penjelmaan Puang Pindikati, diturunkan dari bangunan berbentuk lumbung lalu dimandikan dan diberi pakaian baru. Pesung, persembahan, diletakkan oleh petugas upacara yang disebut To Parengge’, penanggung jawab di depan pintu bangunan dan di depan tiga buah batu yang terletak di pelataran bangunan sebelah timur. Sebuah darai ketiga batu itu berbentuk angsa yang sedang menengadah ke langit. Dua batu lain tersusun dalam bentuk sebuah lingga-yoni (phallus cultus), sebagai lambang kekuasaan. Upacara sehari semalam itu diramaikan dengan tari Ma’bugi, Manimbong, Ma’dandan dan Ma’gellu’. Sepanjang semalam Tominaa menyanyikan hymne Passomba Tedong da menceritakan kisah Puang Sawerigading yang diwariskan turun temurun.

Versi Sa’dan-Balusu menyebut Puang Tenriabeng dengan suaminya bernama Puang Ramman di Langi’ dan anaknya Puang Bua Lolo yang pergi ke Ware’ perlu dijelaskan menurut dua versi yaitu versi Luwu dan versi Sulawesi Tenggara.

We Tenriabeng Bissu di Langi’ menurut buku La Galigo adalah saudara kembar Sawerigading dan memerintah di kerajaan langi’ (langit), yang sudah tentu harus diartikan secara figurlijk dan simbolis. Menurut kosmogoni Sulawesi Selatan bahwa dunia terbagi atas: dunia atas (langit), dunia bawah (urikliu) dan dunia tengah (peretiwi). Rumpun keluarga dibagi atas tiga kelompok: langit, dunia bawah dan dunia tengah. Misalnya We Tenriabeng termasuk kelompok dunia atas, Sawerigading termasuk dunia bawah, dan putri Sawerigading bernama Pantjanjala yang kawin dengan Simpurusiang kelak menjadi kelompok dunia tengah.

Ramman di Langi’ oleh buku Galigo disebut Remmang ri Langi’ dan putranya menurut versi Sa’dan-Balusu bernama Puang Bua Lolo oleh buku Galigo  dan silsilah raja-raja Luwu’, Bugis, Makassar dan Mandar bernama Simpurusiang. Simpurusiang inilah yang menurut Lontara’ sejarah Luwu’ menjadi datu Luwu’ dan permaisurinya bernama Patjanjala adalah putri Sawerigading bersama dengan  We Cudai Daeng ri Sompa Punna Bolae ri Latanete, Datunna Cina ke II (sepupu sekali Sawerigading). Yang disebut cina ialah tana Ugi’ (negeri bugis) yang terdiri atas Cina ri Lau’ (sekarang Bone) dan Cina Riaja (Sekarang Pammana di Wajo’).

To Ugi’ atau suku Bugis menurut Lontara’ Pammana sebenarnya orang-orang dari Luwu’ yang membentuk kelompok sendiri dan membentuk kerajaan Cina atau Tana Ugi’. Raja pertamanya ialah La Sattumpugi’, seorang  keluarga Datu Luwu’ II La Tiuleng Batara Lattu’. Permaisuri La Sattumpugi’ ialah We Tenriabeng, saudara We Opu Sengngeng, permaisuri Datu Luwu’ II Batara Lattu’.

Mereka menurut H.S. Padeatu, SH. Dalam makalahnya di Palu pada tahun 1987, berada di Tompo Tikka’ yaitu berada di Luwuk-Banggai, sedangkan menurut Dr. Ch. Pelras (The Bugis, 1996:Map 3) meliputi sebagian daerah luwuk (Sulawesi Tengah), dan daerah bekas kerajaan Konawe (Sulawesi Tenggara).

Ware’ yang diceritakan  oleh versi Sa’dan-Balusu menurut buku I La Galigo dan tradisi Bugis adalah pusat Kerajaan Luwu’, yang diperkirakan berada di Kecamatan Malili (Kabupaten Luwu Timur), yaitu daerah Ussuk dan sungai Cerekang. Kemudian pindah ke Malangke’ dan terakhir pindah ke Palopo. Sawerigading lebih dikenal didalam buku Galigo dengan gelar Opunna Ware’ (Prince of Warek atau putra Mahkota).

Menurut dokumentasi DPRD Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara (1977-1982), bahwa Ramanda Langi (Galigo : Remmang ri Langik : versi Sa’dan-Balusu : Rammang di Langi’) adalah Mokole (Raja) Konawe ke X. Ia Kawin dengan Tandiabe (Galigo dan Versi Sa’dan-Balusu: We Tenriabeng atau Tanriabeng), yang kemudian menjadi Mokole Konawe ke-XI. Mereka hidup pada abad X.

Dalam dokumentasi DPRD tersebut dijelaskan bahwa menurut cerita rakyat di Muna, yang membentuk negeri Wunga (kemudian disebut Muna) ialah rombongan Sawerigading. Rombongan Sawerigading kemudian meninggalkan 40 orang pengikutnya di Pulau Muna. Ketika rakyat Muna telah banyak maka muncullah seorang lelaki dari ruas sebatang bambu kuning dan dinamaka Botena Ne Tombula yang menjadi raja pertama Wunga (Muna).

Raja itu juga menjadi Raja di Konawe yang disebut Ramanda langi (Galigo : Remmang ri Langi’). Ia kawin dengan Sangka Palangga, yang biasa juga dinamakan Tandi Abe (Galigo : We Tenriabeng ; versi Sa’dan-Balusu : Tanriabeng). Putranya bernama Buntu Wulou yang dikirim ke Luwu’ dan menjadi Datu Luwu’. Dalam versi Galigo Buntu Wulou dinamakan Simpurusiang dan dalam Versi Sa’dan-Balusu ia dinamakan Puang Bua Lolo.

Dari Pelbagai cerita Sawerigading, We Tenriabeng dan Remmang ri Langi’ dapatlah dimaklumi kalau raja-raja dan bangsawan di seluruh Sulawesi Selatan mempercayai bahwa mereka berasal dari satu rumpun keluarga besar. Itulah sebabnya dalam Besturmemorie Assitent Resident de Greeve (1905) dan L.A. Emanuel (1984) serta Gouverneur Cuvreu (t.t) disebutkan juga bahwa raja-raja di Sulawesi Selatan mempercayai bahwa mereka adalah turunan dari Datu Luwu’ pertama yang disebut dalam buku Galigo, yaitu La Toge’ Langi’ Batara Guru (Nenek Sawerigading). Malahan Versi Sulawesi Tenggara pun menyatakan bahwa raja-raja Konawe Kendari, Muna dan Kolaka adalah turunan Datu luwu’. Demikian pula halnya Adriani dan Albert Kruijt (De Bare’e Spreiende Toradja’s van Midden Celebes (de Dost Torajadjas, 1950).

II. HUBUNGAN TANA TORAJA DENGAN GOWA

Di dalam Lontara’ Sejarah Gowa dinyatakan bahwa ratu pertama Gowa yang bergelar To Manurunga ri Tamalate kawin dengan Karaeng Baya, yang membawa sebilah kelewang yang menjadi Kalompoang (ornament, regalia) Kerajaan Gowa-Tallo’.

Diperkirakan bahwa pembentukan kerajaan Gowa tersebut terjadi pada abad XIV. Karaeng Baya diceritakan datang dari Selatan dan tiba di Gowa bersama saudaranya bernama Lakipada. Karaeng Baya membawa sebilah Kelewang bergelar Tanruballanga dan Lakipadada membawa kelewang Suddanga. Kelewang Suddanga sekarang masih tersimpan di Balla’ Lompo di Sungguminasa.

Menurut Lontara’ Gowa tersebut sebelum kedatangan ratu pertama Tumanurunga ri Tamalate, Gowa di perintah oleh raja Batara Guru (bdk. dg. Buku Galigo : raja pertama Luwu ialah La Toge’ Langi’ Batara Guru). Menurut Luwu Karaeng Bayo itu bernama Patala Merang. Hanya versi Toraja berbeda sedikit dengan versi Gowa, karena Patala Merang disebut sebagai anak Lakipadada (bukan saudarannya seperti versi Gowa). Lakipadada mempunyai anak-anak: Patala Bantang, Patala Bunga dan patala Merang. Patala Merang  mengendarai kerbau balar (putih) ke selatan untuk mencari ilmu muda terus dan tak mati.

Ketika hendak menyeberang ke pulau Selayar ia bingung, karena tidak mempunyai perahu. Tiba-tiba muncul seekor buaya dan mengatakan bahwa ia sanggup membawanya ke Pulau Selayar untuk memperoleh ilmu yang dicarinya dengan syarat bahwa ia memberikan kerbau putihnya kepadanya untuk dimakan. Akan tetapi Patala Merang tidak bersedia  untuk mengorbankan kerbau kesayangannya. Tiba-tiba kerbau putih berkata “biarlah aku menjadi korban asalkan engkau dapat menyeberang ke Pulau Selayar”. Hanya aku mohon kiranya engkau pesankan kepada anak cucumu untuk melarangnya makan daging kerba putih”. Patala Merang bersumpah akan memenuhi permintaan kerbaunya sehingga ia dapat menyeberang ke Pulau Selayar.

Di Pulau Selayar ia memanjat pohon sambil menghunus kelewangnya sesuai dengan mimpinya, bahwa kalau ia tahan tidak tidur ia akan memperoleh ilmu yang dicarinya. Akan tetapi ia tidak mempu menahan kantuknya lalu tertidur sejenak, sehingga ujung kelewangnya patah sedikit, dan gagallah ia. Ia memegang sesuatu yang disangkanya dahan kayu, tetapi ternyata taji kaki seekor burung Rajawali (langgan Mega) dan diterbangkan ke Bantaeng. Dari Bantaeng Patala Merang berjalan kaki sepanjang pantai, sehingga kakinya penuh dengan lumut. Konon karena kakinya berlumut maka ia oleh orang-orang Gowa digelar Karaeng Bayo.

Sekalipun cerita ini dibungkus dengan cerita sacral, tetapi kenyatannya bahwa:

  1. Raja-raja Makassar dan Bugis percaya bahwa barulah disebut bangsawan tertinggi Sulawesi Selatan kalau mereka mempunyai darah Luwu dan Sangalla’;
  2. Para Bangsawan Bugis, Makassar, Mandar dan Messenrempulu’ pantang memakan daging kerbau putih: menurut kepercayaan mereka, bahwa kalau pantangannya dilanggar maka mereka akan terkena penyakit kulit atau nasibnya akan menjadi buruk.

III. HUBUNGAN ANTARA TANA TORAJA DENGAN BEBERAPA DAERAH LAIN

Di dalam Lontara’ Sukku’na Wajo’ diceritakan sebab orang-orang Wajo’ pantang makan daging tedong buleng (kerbau putih). Seorang puteri Datu Luwu’ ditimpa penyakit Lepra. Orang-orang Luwu’ banyak bertanya kepada Datu Luwu’ mengenai penyakit yang diderita sang putri. Datu Luwu’ menjawab, “Aku lebih mencintai rakyatku daripada anakku!”. Orang-orang Luwu’ kemudian memohon agar sang puteri dibuang dari Luwu’, karena rakyat takut dijangkiti penyakitnya.

Bersama dengan pengikutnya, inang pengasuh serta benda-benda ornament berupa kelewang La Tea’asi’, tombak La Ula’balu dan badik Cobe’E, puteri Datu Luwu’ bernama We Tadampali Malasa Uli’-E dinaikkan di rakit besar. Rombongan ini terdampar di kampong Lamccoanging, di dekat Doping Wajo. Puteri Datu Luwu’ tersebut dibuatkan rumah tinggi di dekat pohon bajo yang rindang daunnya. Para pengikutnya membuka sawah dan kebun.

Dikisahkan pada suatu hari ketika para pengikutnya pergi memotong padi, maka sang puteri turun dari rumahnya untuk memeriksa padi yang sedang dikeringkan. Tiba-tiba muncul seekor kerbau balar (tedong buleng/balo bellang matanna) dan mengejar sang puteri. Setelah We Tadampali terjaduh, kerbau balar itu menjilat seluruh tubuhnya. Beberapa hari berturut-turut kerbau itu menjilat seluruh tubuhnya, dan ternyata penyakit sang puteri punah. Berita kesembuhan  sang puteri sampai pada Datu Luwu’ La Mallalae. Raja Luwu’ mengumpulkan para pemangku adaat dan menyampaikan kesembuhan penyakit puterinya, dan memerintahkan bahwa semua orang Luwu’ dan orang Ware’ dilarang memakan daging kerbau buleng balo bellang matanna.

Puteri We Tadampali dilamar oleh La Malu’ To Angin raja adalah putera La Tenritau’, Paddanreng Bettempola, Wajo’. Mulai saat itu La Malu’ To Anginraja diberi gelar Arung Saotanre (raja yang tinggi rumahnya setinggi rumah We Tadampali). Dalam silsilah raja-raja Wajo’ disebutkan bahwa We Tadampali adalah puteri Datu Luwu’ La Busatana alias La Mallalae, dan ia bersaudara dengan Datu Luwu’ To Sangereng Dewaraja Datu Kellali’, yang oleh orang Toraja disebut Dangkelali’, karena wajahnya berbalung merah. To Sangereng Dewaraja ini se zaman dengan Arung Matoa Wajo’ La Obbi Settiriware’ (1481-1486) dan La Tadampare’ Puang Ri Ma’galatung (1491-1521).

Menurut sebuah silsilah  yang pernah penulis lihat, bahwa ibu We Tadampali adalah seorang Puteri Puang Sanggal’ (tidak sebut namanya), sehingga masuk akal jika pantangan makan daging kerbau putih yang berasal dari Tana Toraja masuk juga di Luwu’ dan Wajo’, bahkan diseluruh Sulawesi Selatan.

Hubungan Geneologis kedua dengan Sangalla’ ialah kasus isteri kedua La Tadampare Puang ri Ma’galatung. Arung Matoa Wajo’ (1491-1521) bernama We Tessioja. Ia adalah Puteri Puang Sangalla’ bernama  Duma’ Rajamawellang.

Adapun perkawinan Puang ri Ma’galatung dengan puteri Sangalla’ dapat diuraikan sebagai pengikut. Rajamawellang Puang Sangalla’ dalam perjalanan menuju ke Luwu’ dihadang Ma’dika Pantilang.

Dalam pertempuran antara orang Sangalla’ dan Pantilang. Puang Sangalla’ gugur. Datu Luwu To Sangereng Dewaraja murka. Beliau minta Arung Matoa Wajo’ Puang ri Ma’galatung menyerang pantilang.

Peperangan tidak berlangsung lama Pantilang berhasil diduduki oleh orang Wajo’. Ma’dika Pantilang dihukum pancung. Atas jasanya, Datu Luwu’ To Sangereng Dewaraja menawarkan kepada Arung Matoa, supaya mengawinkan seorang putri Duma’ Rajamawellang Puang Sangalla’ bernama We Marellang alias We Tessioja.

Puang Sanggalla’ memang berkeluarga dekat dengan Datu Luwu’ (Ibu Datu Luwu’ adalah puteri Sangalla’), Puteri Tadampare’ Puang ri Ma’galatung dengan We Marellang alias We Tessioja (puteri Puang Sangalla’ Duma’ Rajamawellang) bernama La Pakoko’ To Pabbelek, kemudian menjadi Arung Matoa Wajo’ ke-10 (1564-1567).

Raja Wajo’ lain yang kawin dengan seorang puteri Sangalla’ (tidak disebut namanya) ialah La Tenriali’ To Sengngeng (1658-1670). Isterinya diberi gelar Tosisora, karena tangannya masih dilukis (tatouage) sesuai kebiiasaan orang dahulu kala. Istilah Bugis lain ialah Massora’.

Arung Matoa La Tenrilai’ To Sengngeng membuat perkampungan baru di pusat kerajaan Wajo’. Setelah jumlah rumah ditempat itu bertambah banyak, kampung itu kemudian dinamakan Tosora, yang berasal dari kata Torisora, yaitu gelar Puteri Sangalla yang menjadi isteri La Tenrilai’.

Raja Bone Arung Palakka yang dibantu VOC (Admiral Speelman) dari tahun 1667-1669 saat Sultan Hasanuddin sudah berdamai dengan musuhnya La Tenrilai’ masih melanjutkan peperangan melawan Arung PalakkPalakkad ani Tosora. Pada tahun 1670 ia gugur karena lupa menutup Panglla’ meriamnya, sehingga meledak bersama meriam dan gedung mesiunya.

IV. HUBUNGAN TANA TORAJA DENGAN SIDENRENG, MASSENREMPULU’ DAN MAMASA

Di dalam lontara’ sejarah Sidenreng dikisahkan bahwa yang mula membentuk Sidenreng ialah delapan orang kepala adat yang berasal dari Sangalla’. Kalau tak salah ingat di Tana Toraja pemimpin adat demikian disebut arruan.

Nama Sidenreng diambil dari adat sirenrengi arue matoa pole ri Sangalla’ (saling berpegangan tangan delapan orang matoa dari Sangalla’. Setelah perkampungan mereka sejumlah delapan berkembang, maka ke delapan matoa itu sepakat memohon kepada Puang Matoa (dewata seuae) seorang raja yang akan mempersatukan mereka. Raja pertama Sidenreng bernama La  Bungenge, Tomanurung di Bacukiki (nama Pare-pare dahulu kala). Gelar raja itu adalah Addatuang (kedatuan).

Pada saat puang Tandilangi menjadi anggota Dewan Kurator Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, penulis pernah mendengar cerita beliau bahwa Embong Bulan, isteri Palipasa, Raja Endekan (Enrekang) adalah seorang arruan yang menentang Puang Sangalla’. Seorang Arruan lain yang memberontak, menjadi raja Kassa’. Salah seorang turunan Puang Tambora Langi’ bersama permaisurinya Puang Sanda Bilik bernama Datu Matampuk, pejabat Tongkonan Rano, dan raja kerajaan Puang Tambora Langi’, yang dinamakan Lepongan Bulan Matarik Allo (nama Tana Toraja dahulu kala) berselisih dengan sepupunya bernama Rambu Langi’, pejabat Tongkonan pangi di Makale.

Dalam perang saudara itu Puang Rambu Langi’ meminta bantuan Datu Luwu’ Datu Kelalik (Lontara’ Wajo’: To Sangereng Dewaraja Datu Kelalik). Laskar Luwu’ kemudian menyerang Rano. Penyerangan itu membuat Bonggai marah dan menyerang laskar Luwu’. Berbaliklah laskar Luwu’ menyerang Bonggai. Rambu Langi’ ikut menyerang, sehingga orang Bonggai melarikan diri ke Mamasa dan mendirikan kerajaan Mamasa yang disebut Pitu Ulunna Salu, karena wilayah itu terdiri atas tujuh daerah. Pitu Ulanna Salu kemudian mengadakan aliansi dengan konfederasi dengan kerajaan-kerajaan Mandar yang disebut Pitu Ba’bana Binanga.

Dr. Ch. Pelras dalam bukunya The Bugis (1996;15) menulis tentang hubungan orang Wajo’ Utara dan Sidenreng dengan Tana Toraja sebagai berikut:

A number og Bugis signories in North Wajo’ and in Sidenreng are even said by the Bugis them selves to have been created sometime around the fourteenth century or the fifteenth century by Toraja aristocrats from Sangalla’.

       Mengenai persamaan bahasa orang Toraja dan orang Bugis, pelras (1996:15) menulis sebagai berikut:

To many eyes, where as the Bugis and the Makassar seem to have most in common among south Sulawesi Peoples, the Bugis and Toraja seem to be the most distinct. In fact, the Toraja langungae is early derived from the same ancestra language as the other South Sulawesi tongues, and Bugis shores more cognates (about 45 percent with Toraja than it does with Makassart about 40 percent). (Mills, Proto South Sulawesi: 492).

Menurut Pelras mitos tentang kedatangan raja pertama Tomanurung dikalangan Bugis, Makassar dan Toraja adalah sama, yaitu bahwa raja pertama mereka “turun dari langit” untuk mengadakan ketertiban bahwa kemakmuran masyarakat, sedangkan isteri raja selalu diceritakan muncul dari dunia bawah. Dengan kata lain mitos politik mereka adalah sama.

Mungkin sekali sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen, dan sebelum orang Bugis, Makassar serta Mandar berlayar ke daerah lain kebudayaannya pun sama atau mirip. Hanya pelaut-pelaut itu sudah banyak memperoleh pengaruh kebudayaan daerah lain. Juga agama orang Bugis dan agama To Dolo menurut hemat penulis pada dasarnya sama. Orang Bugis menyebut Tuhan sebagai Dewata Seuae atau Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan orang Toraja dahulu menyebutnya Puang Matua, yang tidak dapat dihuni oleh orang yang masih hidup. Oleh karena itulah mereka menggunakan roh leluhurnya untuk menghubungi Tuhan dengan mengundangnya.

Bissu (Bugis) dan Tominaa (Toraja) yang sering dimasuki roh leluhur (intrance). Leluhurlah yang disuguhi sesajen oleh mereka, supaya permohonan mereka kepada Tuhan dapat disampaikan oleh roh leluhur itu.

Menurut hemat penulis tidaklah tepat memasukkan orang-orang Bugis yang masih menganut agama leluhur sebelu Islam dan orang-orang Toraja yang mempercayai Aluk Todolo ke dalam agama Hindu seperti sekarang. Agama mereka adalah khas Sulawesi Selatan dan tidak datang dari luar.

V. KESIMPULAN

Dari uraian singkat tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa semua  suku yang ada di Sulawesi Selatan adalah berasal dari rumpun yang sama, yaitu Melayu. Hanya orang-orang Lepongan Bulan Matarik Allo lebih dahulu datang di Sulawesi sehingga biasa disebut Proto Malay, sedangkan Suku Bugis, Makassar, Mandar datang kemudian sehingga dinamaka Deutero Malay. Dikalangan bangsawan semua suku yang ada di Sulawesi Selatan terdapat kepercayaan bahwa mereka sedarah atau semenda akibat perkawinan antara mereka itu dimas lampa.

Makassar, 24 Agustus 1999

 

Ditulis kembali Redaksi Kabarpemuda.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here