Part 3. Rangkuman Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku – Sejarah Dan Akar Budaya Yang Sama

0
428

SEJARAH DAN AKAR BUDAYA YANG SAMA

Oleh: DR. Nurhayati Rahman (Filolog)

Toraja, Mandar, Bugis dan Makassar merupakan empat etnis besar di Sulawesi Selatan yang memiliki sejarah dan akar budaya yang sama. Menelaah keberadaan etnis-etnis itu harus dilakukan dengan memadukan naskah-naskah kuni I Lagaligo sebagai naskah pra Islam dan masa Lontara’ yang dipandang sebagai naskah-naskah masa Islam.

Jika I Lagaligo mengisahkan kiprah keturunan PatotoE di bumi sampai kembalinya Sawerigading beserta keluarganya ke Toddang Toja (tenggelam di Laut). Maka Lontara’ memulainya dari hadirnya To Manurung pasca sianre bale (chaos/kacau balau) yang membentuk kerajaan-kerajaan.

Lagaligo menyodorkan konsep kosmologi dengan membagi dunia ini ke dalam berbagai bagian, yakni dunia makro atau dunia atas (botting langi’) dan dunia bawah (ale kawa). Pertautan kedua dunia ini melahirkan dunia mikro atau dunia tengah (lino).

Di dunia tengah inilah keturunan PatotoE berkembang menjadi beberapa etnis kisah Sawerigading misalnya menggambarkan betapa lautan menjadi kekuasaannya. Sawerigading disebutkan beberapa kali harus bertempur melawan musuh-musuhnya, dan Sawerigading dinyatakan sebagai pemenangnya.

Data-data itu membawa kita ke alam mistis, dewa-dewi. Tetapi Dr. C. Pelras (The Bugis) menyatakan orang-orang Sulawesi merupakan migrasi dari Asia Barat dan Asia Timur yang datang dalam dua gelombang. Gelombang I dari Asia Barat melalui jalur Sumatera, Jawa lalu menyebar ke timur termasuk ke Sulawesi. Gelombang II dari Asia Timur (Cina Selatan) melalui Formosa (Taiwan), Filipina, Sulawesi dan terus menyebar ke Timur.

Dengan arus migrasi tersebut, tidak tertutup kemungkinan terjadinya perkawinan (kawin-mawin) antara orang-orang dari kedua gelombang kedatangan tadi. Itulah sebabnya tidak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya semua etnis di Sulawesi Selatan memiliki latar sejarah dan akar budaya yang sama.

Dalam periode Lontara’ kehidupan masyarakat mulai tertata. Kerajaan-kerajaan lokal berdiri dengan sistem pemerintahan (adat) yang teratur. Pemerintahan Modern dipimpin Tomanurung yang kawin dengan penduduk setempat. Dari Tomanurung inilah lahir raja-raja di seluruh kerajaan yang ada.

Peristiwa Tomanurung ini dipahami bahkan diyakini sebagai sesuatu hal yang pernah terjadi di masa silam, sehingga merupakan awal keberadaan seluruh etnis di Sulawesi Selatan; Toraja, Mandar, Bugis dan Makassar.

Jika kita membandingkan kebudayaan kuno Bugis-Makassar sebelum kedatangan Islam dan kebudayaan Toraja sebelum masuknya Kristen, maka etnis-etnis itu menempatkan para leluhur mereka sebagai sesuatu yang sangat dihormati. Orang Toraja, melalui Aluk memposisikan leluhur ke dalam posisi yang sangat terhormat. Demikian pula bagi komunitas Bugis-Makassar. Karena itu dalam berbagai aspek kehidupan etnis-etnis di Sulawesi Selatan, ikatan terhadap leluhur tak pernah terpisahkan.

Selain itu, kerbau merupakan symbol magis kebudayaan kuno dari keempat etnis di Sulawesi Selatan. Jika di Toraja, kerbau merupakan kendaraan paling bergengsi yang dapat menghantar para leluhur menuju puya, maka bagi etnis Mandar, Bugis dan Makassar, kerbau merupakan symbol penghormatan juga kepada leluhur. Jika kerbau disembelih untuk mengenang dan menghormati leluhur, maka upacara atau persembahan itu dipandang semakin mulia. Dari sejumlah persamaan itu menunjukkan adanya satu muara yang dapat menjadi perekat integrasi antar etnis di daerah ini, yakni hubungan kekerabatan, sejarah dan budaya yang berintikan pada hubungan rara-buku.

Makale, 26 Agustus 1999

Ditulis kembali Redaksi Kabarpemuda.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here