Part 4. Rangkuman Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku – Toraja Dalam Lintas Sejarah Mandar

0
640

TORAJA DALAM LINTAS SEJARAH MANDAR

Oleh: Drs. A.M. Mandra

I. PENDAHULUAN

Toraja sebagai salah satu etnis di antara empat etnis di Sulawesi Selatan, yakni etnis Makassar, Bugis dan Mandar, jelas mempunyai hubungan kekerabatan dengan etnis Mandar, bahkan juga etnis lainnya di Sulawesi Selatan, seperti etnis Bugis dan Makassar. Hal ini teramat perlu diungkapkan ke permukaan sebagai pembaharuan pemahaman mengingat sebagian besar generasi kini mungkin tidak mengetahuinya, yang akhirnya integritas etnis di Sulawesi Selatan kelihatan agak renggang, bahkan cenderung mengarah pada praktek penjajahan kultural yang pada gilirannya akan meledak laksana bom waku yang akan memecah-mecah rakyat Sulawesi Selatan.

Betapa terpujinya Bapak Bupati Tana Toraja Drs. Tarsis Kodrat yang memprakarsai Musyawarah Akbar ini lewat hari jadi yang ke-752 Tana Toraja, hingga dalam musyawarah akbar ini terungkap nyata tentang adanya hubungan kekerabatan diantara empat etnis di Sulawesi Selatan, yang dengan itu diharapkan akan mampu menggugah kesadaran kita di Sulawesi Selatan ini, bahwa kita adalah makhluk serumpun yang masih mempunyai pertalian erat kekerabatan, yang olehnya kita wajib hidup bersatu, seia sekata, senasib sepenanggungan dan rukun damai.

Pemahaman seperti ini hendaknya harus diwariskan kepada generasi kita turun temurun dan dengan demikian, Insya Allah akan lebih memperkokoh Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, kini esok, dan selanjutnya sampai kapanpun. Persatuan dan kesatuan serta hidup damai inter dan antar etnis teramat perlu dipupuk, dipelihara dan dilestarikan, agar berbagai malapetaka kehidupan dapat kita hindari sejauh-jauhnya.

Sejarah Mandar mencacat, bahwa manusia yang hidup dikawasan Mandar sepanjang pesisir pantai termasuk Kabupaten Majene, berasal dari Tabulahang daerah Pitu Ulunna Salu dan manusia yang hidup di Pitu Ulunna Salu  berasal dari hulu sungai Saddang. Hal itu dijelaskan dalam Sengo-sengo Kada Ada’ di Pitu Ulunna Salu: Bahwa Pongkapadang datang dari hulu Sungai Saddang dan tiba di Tabulahang.

Pada waktu itu Pitu Ulunna Salu memang sudah ada manusia yang bernama Londong Dehata alias Tomampuk. Kedua manusia inilah yang berkembang biar di Pitu Ulunna Salu dan menurunkan manusia sebelas Versi Tabulahang, begitu juga manusia sebelas versi Rante Bulahang dan kedua versi manusia sebelas ini yang antara lain turun ke pantai dan berkembang biak di Pitu Ba’bana Binanga termasuk Majene.

Secara Geografis sekarang ini, hulu sungai Saddang itu berasal dari Tana Toraja. Oleh karenanya diduga keras Pongkapadang dari Toraja dan keseluruhan manusia Mandar asli adalah cucu-cucu dari Pongkapadang, yang olehnya warga asli Mandar mempunyai hubungan kekerabatan dengan Tana Toraja atau penduduk asli Tana Toraja.

Bukti lain dari keyakinan adanya hubungan kekerabatan antara Tana Toraja dengan Mandar, adalah sepanjang sejarah mulai dari zaman pra-sejarah sampai pada zaman kerajaan sektoral, tapi taka da satupun kerajaan di Mandar yang pernah berperang dengan Toraja dan sampai sekarang ini, rakyat Toraja dengan rakyat Mandar belum pernah terlibat sengketa apapun.

II. PEMBAHASAN

A. Data Dari Lontar Mandar

Ulu Sa’dammo Naenggei Pottana, iyamo naoroi tappa Tonipanurung di Langi’. Iyamo mappibainei TokombongDdibura. Mappadiammi ana’ nisangami Tobanua Poang (Lontar Pattapingang hal.1) Uru dianna tau di Mandar, Ulu Sa’dammo Naengngi Pottana, apa’ sasi’ nasang duapa diolok. Sangga Ulu Sa’dammo Naenngi Pottana. Iyamo mappeanani Ilando Belua’ (Lontar Mandar hal.201)

Terjemahannya:

Hulu Sa’dan lah tempatnya daratan, disitulah tempat tibanya orang yang dari langit. Dialah yang memperistri Tokombong Dibura. Melahirkan anak yang bernama orang kampung tua. Manusia pertama di Mandar. Hulu Sa’dan lah tempat ada daratan, sebab semua dahulu masih laut. Cuma hulu Sa’dan lah tempatnya daratan. Itulah tempatnya tiba orang yang diturunkan dari langit dialah yang memperistri Tobisse di Tallang. Dialah yang melahirkan Ilando Belua’.

Baik di Lontar Pattappingang maupunn di Lontar Mandar sepakat bahwa hulu Sungai Sa’dan lah tempatnya manusia pertama kali ditemukan dan sama-sama manusia yang turun dari langit. Cuma yang satu kawin dengan Tokombong Dibura (orang yang terbit dari buih), sedang yang satu kawin dengan Tobisse Ditallang (orang yang keluar dari pecahan bambu).

Ada dua kemungkinan menganai orangnya. Kemungkinan pertama terdiri dari empat orang yakni dua orang laki-laki yang masing-masingnya orang yang turun dari langit, dan dua orang perempuan yakni Tokombong Dibura dan Tobiase Ditallang.

Kemungkinan kedua terdiri dari orang yakni orang yang turun dari langit itu orangnya satu dan baik Tokombong Dibura maupuan Tobisse Ditallang itu juga orang satu, artinya Tokombong Dibura itu juga Tobisse Ditallang, hanya dalam proses penemuannya berbeda.

Tetapi baik alternatif pertama maupun alternative kedua yang benar mengenai kejadian itu tidaklah merobah tempat terjadinya peristiwa  itu yakni di Hulu Sungai Sa’dan (Tana Toraja), yang berarti bahwa orang-orang tersebut berasal dari Toraja atau setidak-tidaknya berasal dari tempat yang berada di sekitar kawasan Toraja juga Tomanurung (orang yang turun dari langit). Yang kiran jelas disini ialah, apakah Tomanurung di Toraja yang jadi nenek moyang orang Toraja itu, itu juga yang jadi Tomanurung di Mandar yang nenek moyang orang Mandar, atau masing-masing Tomanurung itu lain orangnya.

Kalau kiranya alternatif pertama yang benar yakni Tomanurung di Tana Toraja sama dengan Tomanurung yang ada di Mandar, maka tidak dapat disangkal bahwa kedua rumpun ini yakni Toraja dan Mandar berasal dari satu nenek moyang yakni Tomanurung, yang olehnya sangat rapat pertalian kekerabatannya.

Selanjutnya bila alternatif kedua benar yang benar yakni Tomanurung di Tana Toraja itu lain daripada Tomanurung yang ada di Mandar, inipun belum bisa mengurangi adanya hubungan kekerabatan, ditinjau dari dua alasan, pertama sama-sama berasal dari langit yang bagi kita belum jelas, bersaudara kandung kah mereka dilangit atau bersepupu kah mereka dan lain-lain. Dan sampai sekarang belum jelas bagi kita tentang manusia langit, apakah mereka berasal dari satu rumpun seperti halnya manusia di bumi yang sama-sama dari Adam, atau manusia diisukan dari langit itu sebenarnya juga manusia yang berasal dari Adam. Alasan kedua, jelas mereka sama-sama berasal dari hulu Sungai’ Saddang (Tana Toraja).

B. Data Dari Cerita Rakyat

Dari cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang didaera Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’bana Binanga di Mandar, diperoleh data sebagai berikut:

Konon pernah terjadi di Sulawesi Selatan suatu peristiwa air bah yang menyapu rata seluruh perkampuangan di Sulawesi Selatan. Satu diantar sekian tempat yang belum digenangi air ialah hulu sungai Sa’dan dipebukitan seputar hulu sungai. Di puncak bukit inilah ditemukan tujuh orang manusia sesudah terjadinya air bah tersebut. Ketujuh orang ini tidak jelas apakah mereka bersaudara kandung semua, bersepupu, atau mereka sama sekali tidak berfamili dan kebetulan mereka ketemu di puncak bukit itu setelah mereka masing-masing berhasil menyelamatkan diri dari tekanan air bah itu.

Tujuh orang yang dimaksud adalah; Pertama Pongkapadang yang konon berjalan menuju ke utara dengan menyusuri gununng yang berderet sepanjang pegunungan mulai dari hulu sungai Sa’dan ke Utara, yang dalam Sengo-Sengo Kada Ada’ dilukiskan : “Metanete dao mai nene’ Pongkapadang, ussariri padalingna ussele’ tambaloanna tirassa di Tabulahang” (salah satu lembang di Pitu Ulunna Salu).

Konon, Tabulahang dianggap sebagai daerah tertua di Pitu Ulunna Salu karena disanalah untuk pertama kalinya ditempati nenek Pongkapadang sebagai nenek moyang orang-orang di Pitu Ulunna Salu, sehingga daerah Tabulahang ini digelar sebagai Indo Litak yang bertugas sebagai petahamana’ pebisa’ parandangang.

Manusia kedua adalah Tolombeng Susu yang konon berjalan menuju Luwu daerah Palopo. Manusia ketiga adalah Pa’dorang, ke Belau yang entah dimaksud adalah daerah Belawa atau ada lagi daerah lain yang bernama Belau.

Manusia keempat adalah Talando Beluhe ke Bone, manusia kelima adalah Talambe’ Guntu’ ke Lariang, sedang Tanniabe (atau mungkin yang dimaksud Tanriabeng?) dan Sawerigading dinyatakan pergi berlayar entah ke mana.

Seperti yang kita ketahui dari cerita rakyat diatas, bahwa Pongkapadanglah yang berjalan menyusuri gunung hingga tiba di Tabulahang Mandar dan dialah yang menjadi nenek moyang orang mandar, yang berasal dari hulu sungai Sa’dan. Jadi baik orang Mandar dan nenek moyangnya Pongkapadang, semuanya mempunyai hubungan kekerabatan dengan Toraja, karena baik Tomanurung maupun Pongkapadang semuanya berasal dari hulu Sungai Sa’dan, dan yang lebih dekat dengan hulu Sungai Sa’dan adalah Tana Toraja.

C. Manusia Dalam Pandangan Agama Samawi

Budaya apapun diatas dunia ini, selalu dijiwai oleh agama anutan masyarakat setempat, karena agama adalah faktor yang paling dominan pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, maka uraian apapun yang diurai dalam kehidupan manusia, tidaklah mencapai final jika agama ditinggalkan, artinya sebuah uraian tidaklah meyakinkan kebenarannya menurut sebelum uraian menurut agama membenarkannya, atau setidak-tidaknya uraian itu tidak bertentangan dengan uraian menurut agama anutan masyarakat yang terkaid dengan perisitiwa itu.

Dengan demiian, penulis berusaha pula melihat, bagaimana pendapat agama sehubungan dengan uraian adanya hubungan kekerabatan antara Tana Toraja dengan Mandar, sebagai berikut:

Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya kepadanya: Berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan penuhilah olehmu akan bumi itu…(Kejadian 1,2:28)

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari diri yang satu (Adam/pen) dan dari jenis itu pula Dia jadikan jodoh (Hawa/pen) dan mengembangkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan didunia ini. (Al-Qur’an Surah 4:1)

Sesungguhnya Tuhan kamu satu dan sesungguhnya Bakmu satu, kesemuanya engkai dari Adam dan Adam dari tanah (Hadits).

Membaca dan memahami pernyataan kitab-kitab Samawi diatas, memang  tak dapat diingkari bahwa namanya manusia itu berasal dari satu keturunan atau nenek moyang, yaitu Adam dan Hawa. Dan bukan saja manusia di Tana Toraja dan Mandar itu berasal dari satu nenek moyang, bahkan yang namanya manusia di seantero dunia berasal daari satu nenek moyang, yang dalam ajaran agama apapun terutama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam), semuanya mengajarkan bahwa mengamanahkan kemanusiaan itu satu dan namanya manusia wajib hidup rukun dan damai dengan sesamanya manusia (Amanah Kemanusiaan). Islam mengajarkan kemanusiaan yang ril, sehingga ada dalam ajarannya yang menandaskan bahwa manusia akan selalu dikejar keresahan dan berbagai kemelud hidup, apabila hubungannya dengan Tuhan dengan Tuhan dan hubungannya dengan sesama manusia tidak baik. Jadi hubungan antara sesame manusia itu  teramat penting dipelihara tetap utuh dan baik secara murni, hidup rukun, bersatu, damai dan aman sentosa, tidak gontok-gontokan sesamanya.

Berbicara masalah hubungan baik sesama manusia, itu lepas atribut agama artinya tidak dipandang  ia Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha atau agama apa saja yang dianut seseorang, tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mau bersatu, hidup rukun dan damai dengannya, bahkan agama bukanlah penghalang untuk persatuan dan kesatuan, hidup rukun dan damai dengan siapa saja yang menyandang predikat manusia, apapun agama yang dianutnya.

Dengan uraian diatas, nyatalah bahwa Tana Toraja atau rakyat Tana Toraja mempunyai hubungan kekerabatan dengan rakyat Mandar-Majene, yang dengan pertalian kekerabatan yang erat itu ditambah dengan amanah kemanudiaan yang diwajibkan Tuhan untuk dipegang teguh dan diamalkan secara baik, maka tidak ada alasan secuilpun bagi rakyat di dua daerah ini (Toraja dan Mandar) untuk tidak bersatu, hidup rukun, penuh kedamaian , seia sekata, senasib sepenanggungan di dalam membenahi hidup ini dari berbagai aspek kehidupan.

Marilah kita lebih meninggalkan persatuan dan kesatuan inter dan antar etnis Toraja dan Mandar pada khususnya, seluruh etnis di Sulawesi Selatan pada umumnya, karena hanya dengan persatuan dan kesatuan keempat etnis di Sulawesi Selatan ini, Sulawesi Selatan bisa kuat dan tangguh dan tidak tergoyahkan oleh badai apapun dalam hidup ini.

III. PENUTUP

A. Kesimpulan

  1. Rakyat Tana Toraja dengan Rakyat Mandar mempunyai hubungan kekerabatan dari Tomanurung dan Pongkapadang.
  2. Tana Toraja dan Mandar dua etnis tak terpisahkan di Sulawesi Selatan
  3. Budaya Toraja dan Mandar diilhami oleh Agama anutan masyarakat Toraja dan Mandar.
  4. Agama bukanlah penghalang untuk hidup rukun dan bersatu.
  5. Sulawesi Selatan bisa kuat, bila persatuan dan kesatuan antar inter etnis bisa terjalin rapi, utuh dan kuat.

B. Saran-Saran

  1. Agar rakyat Tana Toraja dengan Mandar tetap menjalin persatuan dan kesatuan hidup rukun dan damai.
  2. Agar pertemuan untuk musyawarah keakraban antar etnis yang berkerabat senantiasa diadakan secara berkala dan bergiliran mengadakannya demi mendekatkan keluarga.
  3. Agar perbedaan agama tidak dijadikan halangan untuk bersatu padu dan hidup rukun damai dalam hidup ini.
  4. Agar upaya penggalian, pembinaan, pengembangan dan pelestarian budaya Tana Toraja dan Mandar lebih digiatkan hingga hubungan kekerabatan di pahami dengan jelas oleh generasi pelanjut kita.
  5. Agar keempat etnis di Sulawesi Selatan tetap memperkokoh persatuan dan kesatuan serta hidup rukun damai, demi tetap utuhnya Sulawesi Selatan

Makale, 26 Agustus 1999

Ditulis kembali Redaksi Kabarpemuda.id

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here