Part 6. Rangkuman Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku – Hubungan Antara Toraja Sa’dan Dengan Pitu Ulunna Salu-Toraja Mamasa

0
943

Ringkasan Cerita Rakyat Hubungan Antara Toraja Sa’dan & Pitu Ulunna Salu-Toraja Mamasa

Oleh: Drs. Arianus Mandadung

Berdasarkan cerita rakyat yang disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi bahwa dahulu kala disuatu negeri sekitar aliran Sungai Sa’dan (kata asli adalah Salu Sa’dan atau Salunna Sa’dan dan mungkin sekarang inilah yang kita kenal dengan Kabupaten Tana Toraja), hidup dan berkembang biak sekelompok manusia yang telah mendiami negeri tersebut turun-temurun dari generasi ke generasi

Atas penuturan langsung kepada saya seorang penutur Mappurondo yaitu: Almarhum Pua’ Mattaba (usia sekitar 60 tahun pada tahu 1965) di kampung Ulumambi-Su’buan Ada’ Bambang-Kecamatan Mambi-wilayah Pitu Ulunna Salu-ex Kewedanaan Mamasa-Kab Polmas, serta beberapa orang tua pewaris cerita rakyat termasuk karya-karya sastra lisan dari Pitu Ulunna Salu dalam bentuk “Sengo-sengo Padang” yaitu cerita rakyat yang menggelar nama-nama daerah tertentu, berikut ini garis-garis besar penuturan-penuturannya.

Nenek Tandayan Langi’ kawin dengan nenek Kombong Dibura’ Uai memperanakkan Pamula Tau. Pamula Tau memperanakkan Pallade’-Lade’. Pallade’-Lade’ memperanakkan Landorundun. Landorundun memperanakkan Bataratua. Bataratua memperanakkan Pa’doran. Pa’doran kawin dengan Embadatu memperanakkan 7(tujuh) orang bersaudara masing-masing: Bobolangi’, Sulo Allo, Patareng Manuk, Pongkapadang, Lomben Susu, Landoguntu’, Mangguana.

Cerita selanjutnya dikatakan bahwa pada masa kejayaan ke-7 bersaudara anak dari Pa’doran dan Embadatu tersebut yang menguasai sebuah negerii di sekitar aliran Sungai Sa’dan, akhirnya menurun dan dari masa ke masa terjadi kemerosotan moral, melawan kehendak dewa dan melawan sesama manusia dalam berbagai prilaku kehidupan sehari-hari. Hubungan sesama manusia rusak terlebih hubungan dengan para dewa, baik dewa-dewa diatas langit terlebih dewa-dewa yang tersebar dimuka bumi ini, menyebabkan hidup tidak karuan tiada beda dengan binatang yang tidak berakhlak dan berakal budi, sudah tidak dapat lagi dibedakan dengan binatang.

Akibatnya, baik para dewa diatas langit maupuun para dewa diatas muka bumi ini menjadi marah atas ulah anak-anak bumi yaitu anak-anak manusia yang kelihatannya sudah membelakangi para dewa yang dahulu kala dipujanya  dan ditaati ajarannya.

Para dewa dilangit memberikan hukuman kepada anak-anak manusia di bumi dengan tiba-tiba menyetop semua lubang-lubang air yang ditampungnya dalam waktu tertentu, menyebabkan hujan tidak kunjung tiba mendatangkan kemarau  panjang, akibatnya sumber air berkurang bahkan nyaring kering, sementara tumbuhan dan hewan-hewan musnah seketika, manusia pun kelaparan tanpa air dan makanan, namun belum bertibat dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan bagi para dewa.

Hukuman kedua pun tiba, para dewa diatas langit lalu membuka semua lobang air secara bersamaan dan serempak menutupi bumi seketika, sementara solidaritas para dewa di muka bumi ini menutup semua pembuangan air di laut (dikenal dengan Posi’ Na Tasik atau Pusaran air yang hendak mengalir keluar dan bawahnya bumi atau apa’na litak), membuat semua sungai mengalir berbalik karena tidak ada lagi penyaluran air ke laut setelah tertutup semuanya.

Perlahan-lahan air menutupi permukaan bumi, satu persatu sungai tenggelam, disusul bukit-bukit dan gunung-gunung sekalipun tertutup dengan air, membuat manusia sebagian musnah seketika. Untuk menyelamatkan diri dari malapetaka itu, dengan susah payah terdampar di gunung Latimojong, disinilah manusia yang luput itu melakukan pertobatan dengan mengorbankan kerbau belang  (Tedong Maettekan) untuk mengakui kesalahannya kepada dewata dan tidak akan  melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki para dewa. Lalu para dewa diatas langit menutup kembali lubang-lubang air, sementara para dewa di bumi membuka lubang-lubang pembuangan air, lalu surutlah air kembali, manusia yang luput dengan jumlah kecil itu kembali mengolah bumi ini sebagai sumber kehidupan baru.

Diceritakan selanjutnya bahwa diantara mereka yang luput dari malapetaka ini ada beberapa orang yang disebut namanya antara lain: Bobongi’, Sulo Allo dan Patareng Manuk tetap tinggal mengghuni negeri tersebut, Lando Guntu’ pergi ke kesebelah selatan, Mangguana pergi kesebalah timur, sementara  Pongka Padang menuju ke sebelah barat.

Sebagai catatan bahwa, nama manusia masa lampau kadang-kadang berubah, baik ditempat asalnya terlebih jikalau seseorang itu pindah ke tempat lain, biasanya justru yang memberikan nama adalah penduduk dimana orang yang pindah itu tiba dan menetap disitu, tergantung dari ciri khas orang baru tersebut atau alasan lain yang lambat laun melekat pada seseorang, kalau pindah ketempat lain dan menetap, biasa saja mendapat nama baru oleh penduduk dimana seseorang itu sebagai penghuni baru dan menetap ditempat tersebut. Sehingga masalah keseragaman nama dan cerita rakyat ini, tidaklah menjadi suatu hal yang bisa membingungkan, yang penting ide dan pengertiannya satu adanya. Hal ini penting dipahami, sebab keseragaman nama manusia dimasa lampau apalagi mereka yang suka mengembara dan terlebih beristri lebih dari satu ditempat-tempat yang berbeda, tidak bisa dijamin seperti sekarang ini yang serba lengkap administrasinya.

KISAH PERJALANAN NENEK MOYANG PONGKA PADANG DARI SA’DAN KE BUNTU BULO-TABULAHAN

Mengawali cerita rakyat ini, terlebih dahulu saya kemukakan suatu ungkapan sastra daerah Pitu Ulunna Salu-Mamasa yang berbunyi:

“Ke’de nenek Pongka Padang, sisariri padalingna, siselle’ tambaloanna, Mangkaseppon Buntu Bulo tirassan di Tabulahan, undadian tau pitu, dadi to sapulo mesa, iamo petawa mana’ topebita parandangan”.

Ungkapan sastra ini mengisahkan tentang Pongka Padang yang meninggalkan negeri asalnya di Sa’dan, dengan peralatan budaya pusaka dan adat-istiadat serta kebiasaan di negeri asalnya, menuju sebelah barat sampai di Buntu Bulo Tabulahan, kemudian melahirkan 7(tujuh) anak dan 11 (sebelas) cucu yang tersebar di seluruh negeri yang baru tersebut, secara lengkap demikian kisahnya:

Berdasarkan kenangan dan pengalaman dimasa lampau ketika air menutupi negerinya yang sulit dilupakan dinegeri tersendiri, serta takut terulang lagi masa lalu yang sudah menghancurkan hati dan semua harapan, maka nenek Pongka Padang memutuskan untuk mengembara ke sebelah Barat negeri tersebut dan mencari hidup baru serta menetap disana.

Diceritakan bahwa ia meninggalkan negeri Sa’dan bersama 2 (dua) orang anaknya yaitu Polopadang dan Tamalillin, selain itu juga diceritakan bahwa mereka disertai hamba dan seekor anjing kesayangan yang dipakai berburu sebagai kesenangannya. Dalam perjalanan anjing kesayangan itu menghidupi kebutuhan mereka dengan hasil buruan babi hutan.

Setelah perjalanan hutan dan jauh ini dilakukan maka pada suatu senja, tibalah mereka diatas sebuah gunung disebelah barat negeri Sa’dan dan lalu mereka bermalam, tiba-tiba salah seorang anaknya yaitu Tamalillin meraung-raung karena sakit perut dan ingin minum. Malang baginya karena gunung tersebut tidak mengalir air dibagian puncaknya, lalu nenek Pongka Padang menancapkan tongkat ajaibnya kebatu dengan permintaan air kepada dewa air dan dewa gunung, tiba-tiba muncullah 8 (delapan) mata air gunung itu dan selamatlah Tamalillin dari kehausan dan sakit perut. Lalu gunung itu diberi nama “Buntu Karua” yang artinya “gunung bermata air delapan”. Gunung itu nampak jelas disebelah barat dari lapangan terbang Pongtiku di Rantetayo sekarang ini.

Itulah sebabnya rumah-rumah adat Mamasa (banua Mamasa) menghadap ke arah “Buntu Karua” untuk mengenang peristiwa perjalanan nenek Pongka Padang dengan suka dukanya, sekaligus kepercayaan mereka bahwa sumber air atau mata air adalah sumber kehidupan manusia, sebab tanpa mata air (kalimbuang) yang bersih airnya dan segar, maka manusia akan kehausan atau tidak akan sehat bahkan mati sekalipun.

Setelah perjalanan yang lebih jauh lagi menelusuri hutan lebat dan gunung-gunung tinggi, mereka tiba disebuah gunung berikutnya. Untuk mengetahui kalau ada tanda-tanda adanya penghuni disekitar tempat tersebut, nenek Pongka Padang menyuruh anaknya yaitu Tamalillin untuk memanjat pohon tertinggi digunung itu untuk melihat tanda-tanda kehidupan manusia disekitar gunung itu. Dari atas pohon Tamalillin melihat gumpalan asap disebelah barat yang memastikan bahwa disana ada manusia tinggal sebagai sasaran akhir perjalanan mereka.

Setelah Tamalillin turun turun dari atas pohon, tiba-tiba gunung diselimuti oleh awan gelap, dan mereka pindah ke gunung sebelahnya, dan gunung yang ditinggalkan itu diberi nama “Mambulilling” artinya diliputi awan gelap.

Mereka tiba digunung berikutnya dan di sanalah mereka bermalam, namun Tamalillin terserang penyakit dan meninggal dunia ditempat itu. Jenazahnya dikebumikan disana. Nenek Pongka Padang memberi nama gunung tersebut yaitu “Tamalillin” untuk mengenang anaknya yang meninggal dalam perjalanan. Tempat ini dikenal sebagai ‘kepusaan’, sebab terdapat beberapa arah jalan setapak yang hampir sama, sehingga membingungkan orang yang jalan kaki melintas daerah tersebut.

Perjalanan dilanjutkan ke arah barat. Dan pada suatu senja, tibalah mereka disuatu tempat dimana almarhum Tamalillin melihat gumpalan asap. Mereka masih dalam suasana kelelahan, tiba-tiba anjing yang menyertai mereka dalam perjalanan yang cukup jauh itu, menggonggong terus menerus menandakan ada orang yang tinggal disekitar daerah itu.

Di belakang pohon besar, mereka mendapati sebuah perahu yang terdampar dan dibelakangnya terdapat sebuah gua yang menjadi sasaran gonggongan anjing. Mereka perlahan mendekati gua sayup-sayup kegelapan menjelang malam akan tiba. Ternyata di dalam gua itu ada gerakan warna-warni mirip ular sawah. Nenek Pongka Padang berdiam sejenak untuk menghadapi gerakan benda yang bergerak dan meragukan itu. Ternyata seorang wanita yang didampingi hambanya  yang juga seorang wanita yang siap tidur malam dalam gua itu. Benda yang berwarna-warni itu adalah kain tua sejenis ‘dodo ampire’ yang berwarna-warni. Selimut berwarna-warni itu dikenakan dalam gua. Nenek Pongka Padang mendekat dan menyapa serta menanyakan nama wanita tersebut dengan bahasa isyarat. Wanita itu mengatakan ‘torije’ne’, dan nenek Pongka Padang memberi nama wanita itu seperti ucapannya ‘Torije’ne’ yang artinya diketahui kemudian adalah “orang yang muncul dari air” maksudnya terdampar di laut dan tiba ditempat tersebut. Ada juga berpendapat yang mengatakan bahwa ‘torije’ne’ itu berasal dari suatu tempat di Makassar yang dikenal dengan ‘kampung cina’ yang kemudian naik perahu menuju ke utara lewat selat Makassar untuk mendapat hidup baru.

Ringkas cerita , Pongka Padang kawin dengan Torije’ne yang dikaruniai tujuh orang anak  yang dikenal dengan ‘Tau Pitu’ artinya tujuh bersaudara, masing-masing: Demmangnganna, Manasalab’bi’, Pullaomesa, Simbadatu, Bura Le’bo, Pattanan Bulawan dan Buntu Bulo.

Selanjutnya diceritakan bahwa, anak-anak dari Pongka Padang dan Torije’ne kawin-mawin diantaranya: Simbadatu kawin dengan Demmanganna tetapi tidak dikarunia anak, lalu bercerai. Selanjutnya Simbadatu kawin dengan Bura Le’bo dan dikarunia dan dikarunia anak sebelas orang yang kemudian dikenal dengan ‘Tau Sappulo mesa’ artinya sebelas bersaudara.

Dari cucu Pongka Padang dan Torije’ne yang berjumlah sebelas orang inilah yang tersebar dari pusat peradaban pertama tertua  di kampung itu. Buntu Bulo-Tabulahan tersebar ke tempat lain, sehingga terjalinlah kekeluargaan yang bersumber dari nenek Pongka Padang dan nenek Torije’ne dengan daerah-daerah disekitarnya.

Ke sebelas cucu Pongka Padang dan Torije’ne serta wilayah pesebarannya sebagai berikut: Dettumanan tetap tinggal di Tabulahan, Tammi’ pergi ke Bambang, Demmalona pergi ke Mambi, Makkedaeng pergi ke Mamuju, Daeng Kamaru pergi ke Matangnga, Tambuli Bassi pergi ke Tappalang, Takkara Bulu pergi ke Sendana/Balanipa, Daeng Malullun pergi ke Pamboang, Sabalima pergi ke Tabang, Tala’binna pergi ke Lobe/Mangki Tua, Tomematakalakian pergi ke Hua/Sempaga.

Sekali lagi saya tegaskan, mungkin ada perbedaan nama-nama tersebut diatas ditempat lain, hal ini disebabkan karena dahulu kala, sesorang memiliki beberapa nama, kadang-kadang nama itu diberikan oleh orang setempat sesuai dengan ciri-cirinya, atau alasan pribadi seseorang. Juga masalah nama tempat bisa saja berbeda dengan perdapat daerah lain. Sebab cerita ini secara lisan dan tidak tertulis. Sehingga dari penuturan mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi bisa mengalami perubahan ucapn dan penyampaian.

PITU ULUNNA SALU

Kata Pitu artinya Tujuh kata Ulunna Artinya kepalanya atau hulunya kata Salu artinya Sungai jadi Pitu Ulunna Salu artinya Tujuh Hulu Sungai adalah lambang symbol dan perminan Tujuh Kepada Hadat yang setingkat dengan kerajaan namun bukan kerajaan, melainkan kepala-kepala hadat yang digelar Indo’na Lembang, ketujuh kepala Hadat dimaksud adalah:

  1. TABULAHAN, Patoe sakku’ peanti kadinge’, tola torro mepairan anna litak tuo artinya yang dipertuan dan perlu dihormati dan dihargai dalam masyarakat, sebagai tempat pusat pesebaran penghuni di sekitarnya, pusat perdaban tertua di wilayah Hadat Pitu Ulunna Salu.
  2. ARALLE, digelar Indo’na kada nene’. Artinya juru bicara dan penghubung antara masyarakat dengan pemimpin dan penguasa Hadat di wilayah Pitu Ulanna Salu.
  3. MAMBI, digelar Indo’na lantang kada nenek, lisuan ada’, paja kurin lempo kandean artinya tempat permusyawaratan dan tempat menerima tamu-tamu Hadat daerah Pitu Ulunna Salu.
  4. BAMBANG digelar Su’buan ada’. Sangkeeran tintin, kulambu malillin artinya pengemban keputusan yang akan diterapkan dalam masyarakat. Pengendali keputusan serta menjatuhkan sangsi-sangsi Hadat melalui peradilan Hadat-hadat. Sekaligus tempat penitipan para terdakwa sebelum melalui pradilan para Hadat di daerah Pitu Ulunna Salu.
  5. RANTEBULAHAN digelar Toma’ dua takin, ma’tallu sulekka artinya sebagai prajurit-prajurit yang akan menghalau dan melawan musuh yang ingin masuk mengacau daerah Pitu Ulunna Salu.
  6. MATANGNG digelar Andiri tetta tempong, samba’ tamarapo artinya tiang dan benteng kekuatan pertahanan dan keamanan yang senantiasa berdiri tegak menghadapi musuh daerah Pitu Ulunna Salu.
  7. TABANG digelar Bunganna lantangkada nenek, talaona kada tomatua artinya penyimpul keputusan dalam masyarakat pada hadat di daerah Pitu Ulunna Salu.

Sedikit catatan bahwa, kalau di Tana Toraja dikenal Siambe/ Sindo’, Puang, Ma’dika sebagai penguasa Hadat maka di daerah Pitu Ulunna Salu Mamasa di kenal Indo’na Lembang’.

Kepala-kepala Hadat digelar Indo’na Lembang artinya penguasa wilayah. Semua kepala Hadat sama tingkat dan derajatnya dan tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi terhadap yang lain tetapi sama kedudukannya. Setiap kepala hadat berbeda fungsi dan peranannya dalam masyarakat, sehingga setiap musyarakat dilaksanakan jika semua Kepala Hadat telah hadir barulah musyawarah tersebut bisa dimulai atau diselenggarakan. Hal tersebut akan lebih jelas dalam apa yang disebut “Kondo Sapata’ Uai Sapalelean” sebagai falsafah Pitu Ulunna Salu.

KONDO SAPATA’ UAI SAPALELEAN

Kalau di wilayah Sa’dan dan sekitarnya dikenal “Lepongan Bulan Tana Matar Allo” sebagai satu kesatuan wilayah penguasa-penguasa Hadat, maka didaerah Pitu Ulunna Salu-Mamasa dan sekitarnya dikenal kata “Kondo Sapata’ Uai Sapalelean”.

Kata Kondo Sapata’ artinya sepetak sawah luas yang dikelilingi pematang tunggal sedangkan Uai Sapalelean artinya air yang merata diseluruh bagian sawah tersebut. Ini melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat dan pemimpin yang kokoh kuat. Rakyat memiliki kewajiban yang sama, sementara para pemimpin dalam hal ini para pemangku Hadat memiliki derajat yang sama dan merata, tidak ada yang lebih tinggi dan rendah, namun berbeda dalam fungsi dan perannya dalam masyarakat. Hal ini diperkuat pula dengan motto; “Mesa’ Kada Dipotuo, Pantan Kada di Pomate” artinya bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Jadi kalau Pitu Ulunna Salu adalah lambang tujuh kepala Hadat dengan pembagian tugas kepemimpinan  yang berbeda satu dengan yang lain, tetapi satu dalam musyawarah dan mufakat yang harus diselesaikan bersama, maka Kondo Sapata’ Uai Sapalelean adalah lambang falsafah hidup dan mati yang harus dipegang teguh oleh masyarakat dari generasi ke generasi turun temurun secara berkesinambungan.

Kondo Sapata’ Uai Sapalelean merupakan warna kepemimpinan daerah Pitu Ulunna Salu, sekaligus sebagai pencerminan demokrasi tradisional yang mampu mempersatukan wilayah tersebut dari masa ke masa. Istilah ini muncul mengeringi perkembangan kepemimpinan daerah Pitu Ulunna Salu yang merupakan hasil musyawarah di Buntu Sumarran Mambie atas sponsor Nenek Pumbelo Padang dari Salu Banua Rante Bulahan dengan nenek Kakabesiman dari Bambang yang bertujuan mencapai masyarakat “Kondo Sapata’ Uai Sapalelean, Mempokan Tasajuk Mangngette’ Tabalala”, maksudnya bahwa apapun resiko yang kita hadapi secara bersama-sama dengan berhati-hati dan bertanggung jawab berdasarkan keputusan musyawarah, itulah yang kita harus pegang teguh tanpa menghendaki adanya penghianatan terhadap wilayah kepemimpinan kita bersama.

MAMASA

Kalau di Tana Toraja dikenal kata “Toraja” dalam berbagai arti menurut yang memberikan nama maka di Mamasa dan sekitarnya juga dikenal adanya nama “Mamasa”.

Katana “Mamasa” berasal dari kata “Mamase” yang artinya pengasih. Menurut cerita rakyat, wilayah lembah yang kita kenal sebagai mamasa, dulu terdiri dari hutan lebat yang berbentang luas tak berpenghuni dilengkapi dengan sejumlah sungai yang mengalir jernih tanpa erosi dan polusi. Hutannya dihuni berbagai binatang liar seperti anoa, babi hutan, babi rusa, berbagai macam tikus, sementara sungainya dihuni berbagai jenis ikan air tawar lokal. Setiap pemburu yang menggunakan anjing pemburu dan menangkap ikan dengan berbagai alat penangkap ikan lainnya dengan mudah mereka mendapatkannya. Lalu lembah ini dinamakan “Lembah Mamase” artinya “Lembah Pengasih” dengan kemudahannya menangkap ikan dan binatang liar. Nama itulah yang Populer sebagai lembah ini dihuni oleh pendatang dari luar dan dari dalam perkembangan selanjutnya.

Pada waktu pemerintahan Belanda menemukan lembah yang sudah berpenghuni sekitar tahun 1904, kata yang pertama yang terkesan didengarkan secara sayup-sayup dari penduduk setempat waktu menanyakan nama daerah tersebut adalah “Mamase” selanjutnya dalam tulisan muncul kata “Mamasa”, bukan kata “Mamase” lagi dan sudah menjadi kebiasaan dan sudah popular nama tersebut untuk lembah ini melekat menjadi nama ‘Mamasa” sampai saat ini.

Terakhir dalam administrasi pemerintahan sesudah Indonesai merdeka sebagai nama Kewedanan Mamasa, ini adalah penjelmaan dari Zelf Bestuur Boven Binuangen Pitu Ulunna Salu di masa pemerintahan Belanda.

AGAMA SUKU ADA’ MAPPURONDO ATAU ALUK TOMATUA

Kalau di Tana Toraja dikenal agama adalah “Aluk Todolo” dengan ajaran Aluk Sanda Pitunna dan Aluk Sanda Saratu maka di daerah Pitu Ulunna Salu-Mamasa di kena “Ada’ Mappurondo” atau “Aluk Tomatua”  dengan ajaran “Pemali Appa’ Randanna”.

Ada’ Mappuronndo berasal dari kata ada’ artinya aturan, sedangkan Mappurando dari mulut ke mulut secara lisan dan tidak tertulis.

Aluk Tomatua artinya suatu aturan yang bersumber dari nenek moyang.

Pengikut Ada’ Mappurondo dan Aluk Tomatua percaya bahwa hidup di dunia bersifat sementara dan harus taat pada aturan-aturan yang telah digariskan dalam “Pemali Appa’ Randanna” yaitu empat dasar hidup dan mati antara lain:

  1. PA’TOTIBOYONGAN adalah suatu cara yang berhubungan dengan aturan-aturan dan ritus dalam bercocok tanam, mulai dari masa permulaan garapan padi disawah sampai disimpan di atas lumbung padi melalui proses-proses dan upacara-upacara ritualnya.
  2. PA’BISUAN adalah semua rangkaian upacara pengucapan syukur sehubungan dengan hidup dan kehidupan seseorang melalui tingkatan-tingkatann kerberhasilan hidup lahir dan bathin secara perseorangan, keluarga dan rumpun melalui upacara syukuran-syukuran.
  3. PA’BANNETAUAN adalah suatu rangkaian yang sehubungan dengan perkawinan melalui proses-proses yang telah ditetapkan.
  4. PALI TOMATE  adalah semua rangkaian upacara yang sehubungan dengan upacara kematian atau kedukaan dalam proses tingkatan masing-masing

Hidup ini dibawah naungan kekuasaan tiga Dewa diatas langit (tangngana langi’) sebagai dewa-dewa utama antara lain:

  1. DEWA TOMETEMPA (BATARA TUA) adalah dewa pencipta manusia dan memasukkannya ke dalam dunia ini melalui proses kelahiran bahkan segala sesuatu yang berkedudukan di atas langit.
  2. DEWATA TOMEKAMBI’ (BATARA MEOLAN/TOMEOLAAN) adalah dewa yang memelihara kehidupan manusia lahir dan batin termasuk kesehatan yang juga berkedudukan diatas langit.
  3. DEWATA TOMEMANA’ (BATARA LOLO) adalah dewa yang memberikan berkat, reski selama hidup didunia ini seperti kerbau, babi, ayam, rumah, sawah, kebun dll.

Selain ketiga Dewa utama di atas langit juga sejumlah Dewa yang jahat dan baik berkeliaran diatas bumi dan dibawah bumi (Apa’na Litak) seperti dewata buntu (dewa gunung), dewatanna salu (dewa sungai), dewatanna barana’ (dewata pohon beringin), dewatanna uai (dewa air), dewatanna kalimbuang (dewa mata air) dan lain-lain yang setiap saat disembah.

EKOSISTEM KEHIDUPAN DAN KEMATIAN MENURUT PANDANGAN ADA’ MAPPURONDO

Dunia ini diberi nama “Lino Pangngindan” artinya dunia pinjaman  sementara untuk tempat berbuat baik dan berbuat jahat. Setiap manusia membutuhkan, sehingga mereka harus  saling bantu-membantu dalam segala hal. Mereka wajib memuja para dewa dalam bentuk upacara-upacara ritual setiap saat serta mematuhi ajaran-ajarannya, demi keselamatan hidupnya di dunia ini, sehingga keluarga wajib mengingat apa pesan terakhir seseorang sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir (pepakari’di atau pepasan)

  1. PENAWA (nyawa atau nafas) akan langsung melayang menuju ke atas langit dan bersatu pasif dengan ketiga dewa di atas langit menunggu kelengkapannya kelak melalui proses upacara keluarga yang ditinggalkannya.
  2. BATANG RABUK  (tubuh yang sudah kaku) akan tinggal didunia untuk dipelihara dan disimpan oleh keluarga sebagai monument keluarga dalam berbagai bentuk kuburan sesuai kehendak keluarga atas pesan si mati sebelum meninggal dunia, sehingga keluarga wajib mengingat apa pesan terakhir seseorang sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir (pepakari’ di atau pepasan).
  3. SUNGGA’ (jiwa atau roh) akan menuju kesuatu tempat rahasia yang disebut Pullondong dengan menyeberangi Salu Mariri (sungai kering) dengan mengendari kerbau (tedong) sebagai kendaraan paling cepat, dan babi adalah kendaraan yang agak lambat tiba disana. Kerbau dan babi yang disembelih pada upacara kematiannya, akan menemani roh tuannya serta sebagai kendaraan untuk menyeberangi sungai kering tersebut menuju ke seberang sana.

Jika seseorang meninggal dunia tanpa babi atau kerbau yang disembelih dalam upacara kematiannya, maka rohnya akan tinggal di pinggiran sungai penyeberangan menunggu uluran tangan keluarga agar dipotongkan kerbau atau babi unntuk menyeberang.

Kalau tidak ada tebusan kerbau atau babi, maka rohnya akan menjelma menjadi roh yang jahat, mengganggu keluarga atau yang lain sebagai ANITU (hantu jahat yang senang mengganggu manusia di bumi). Setiap roh yang berhasil menyeberangi sungai kuning tersebut. Diseberang sana akan diterima oleh dewi penguasa tunggal yang dikenal dengan nama Indo’ Robo sedangkan tempatnya dikenal dengan Pullondong. Indo’ Robo akan menempatkan seseorang sesuai dengan ketaatannya selama manusia itu hidup didunia serta harta kekayaannya menentukan derajat hidup disana. Kalau seorang meninggal dunia usia yang sudah tua, setibanya di Pullondong akan menjadi muda kembali, sehingga orang tua itu tidak kwatir tentang kematian itu. Sebaiknya kalau meninggal pada masa kanak-kanak atau masih muda, setibanya disana akan menjadi dewasa. Mereka percaya bahwa, saat didunia seberang sana, usia roh-roh itu akan seragam.

Setelah roh-roh itu menjadi dewasa, kemudian akan di transfer oleh awan (gaun) dari Pullondong yang akan dilepaskan oleh Indo’ Robo menuju ke atas langit.  Disana roh-roh akan bersatu dengan Penawa (nafas) yang telah lama menunggu di atas langit bersama ketiga dewa utama. Kemudian dari atas langit ketiga  ketiga dewa akan berkonsultasi dengan roh-roh dan nyawa-nyawa tentang apa yang harus dilakukan bagi keluarga yang ditinggalkan di dunia untuk mewujudkan bersatunya kembali tiga bagian manusia sesudah mati yaitu: roh, nafas dan tubuh. Dari langit bisa memberikan kesejahteraan  bagi keluarga yang ditinggalkan jika betul-betul keluarga menyayangi si mati selama proses kematiannya selama pengorbanan hewan-hewan secukupnya, berupa hidup bahagia dan sejahtera tanpa gangguan roh jahat, mendapat babi dan kerbau serta sawah, rumah dan hasil pertanian yang memuaskan karena cinta dan saying kepada si mati.

Sebaiknya bisa memberikan murka dan membunuh babi serta kerbau keluarga yang ditinggalkannya. Sawah dan ladang dihancurkan dengan mendatangkan kemarau panjang lalu menumpahkan air dari atas langit menjadi banjir, membuat sawah dan ladang hancur tanpa hasil. Akibatnya keluarga menjadi melarat  dan menderita. Itulah penyebabnya proses kematian seseorang harus diperhatikan, mengingat berkat dan atau resiko yang bisa membahagiakan dan menghancurkan hidup keluarga pada saat bersatunya roh, tubuh dan nyawa simati tersebut.

Dari proses kehidupan dan kematian serta kegiatan sehari-hari yang merupakan kebiasaan dan adat isitiadat bagi para pengikut agama suku ada’ Mappurondo dan Aluk Tomatua di Pitu Ulunna Salu-Mamasa, merupakan sumber budaya masyarakat setempat, namun pada saat ini sebagian tergeser oleh adanya agama langit yang masuk ke daerah tersebut agama Islam dan Kristen. Namun perpaduan-perpaduannya tidaklah menggeser seluruh aspek budaya, tetapi selaras dan sejalan dalam pelurusan budaya yang layak dipertahankan dan tidak bertentangan dengan norma agama langit. Sehingga adat istiadat dan kebiasaan tetap lestari mempertahankan nilai-nilai budaya asli yang bersumber dari apa yang telah diuraikan sebelumnya.

Demikian ringkasan budaya dengan latar belakang sejarah, agama dan suku yang kami dapat kemukakan secara terbatas, mengingat waktu yang sangat terbatas untuk menguraikan hal tersebut.

Terima kasih atas sajian terbatas ini, dengan harapan “Kombongan Kalua’ Umpulung Rara Buku” yang dilangsungkan di Kota Pariwisata Rantepao Kabupaten Daerah Tingkat II Tana Toraja (Kini telah mekar menjadi Kabupaten Toraja Utara) akan membuahkan hasil yang baik. Dari kita untuk kita pula dalam kehidupan generasi penerus yang kita cintai bersama dalam kesatuan dan persatuan yang saling mengenal dan saling mencintai dalam persatuan yang harus diwarnai perbuatan yang bersatu padu disegala bidang.

Toraja, 26 Agustus 1999

Wakil dari Kab. Tk. II Polmmas.

 

Ditulis kembali Redaksi Kabarpemuda.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here