Mempertahankan Lapangan Gembira Mahasiswa Toraya Indonesia Gelar Meeting Online

0
413
Flyer Zoom Online Meeting Solidaritas Mahasiswa Toraya Indonesia

KABARPEMUDA.ID, RANTEPAO – Mahasiswa Toraya Indonesia menggelar diskusi  online melalui program  zoom meeting  dengan tema Solidaritas Mahasiswa Toraya Indonesia Dalam Mempertahankan Tanah Lapangan Gembira pada Sabtu, 20/06/2020 pukul 18.00 – 23.00 wita.

Dalam diskusi tersebut menghadirkan beberapa narasumber, Yulius L. Bangke Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Toraja Utara, Y. Layuk Rombe Ketua Umum Ikasmandara, Natan Limbong Tokoh Dewan Adat Ba’lele, Pdt. Alfred Anggui Ketua I BPS Gereja Toraja, Jerry Parimba Ketua PPGT Pusat, Endra Rembona Mahasiswa UKI Toraja dan yang bertindak sebagai Moderator adalah Ignas Tandi Rano mahasiswa asal Institut Teknologi Nasional Yogyakarta.

Dalam diskusi ini para narasumber mengajak semua masyarakat Toraja khususnya mahasiswa untuk bergerak bersama mempertahan tanah Lapangan  Gembira (Tanah Pacuan Kuda). Salah satu tokoh Dewan Adat Ba’lele Natan Limbong mengatakan bahwa tanah Lapangan Gembira adalah tanah adat dari Ba’lele, tanah adat  tidak dibenarkan  diperjual belikan secara perorangan.

“Tidak benar tanah adat (lapangan Gembira/tanah Pacuan Kuda) itu diperjual belikan, tanah itu diberikan kepada Pemerintah dipakai untuk kepentingan umum. Jika ada orang yang mengklaim bahwa itu adalah tanah yang dibeli dari seseorang, pertanyaannya siapa Tongkonan dari Ba’lele yang menjualnya. Dan jika tanah ini jatuh ke tangan penggugat maka bukan hanya orang Ba’lele yang malu melainkan seluruh masyarakat Toraja yang malu.” Ungkap Natan Limbong .

Senada dengan itu Pdt. Alfred Anggui mengatakan bahwa sejarah pergerakan dunia dimotori oleh pemuda dan mahasiswa, berharap dalam mempertahankan Lapangan Gembira Mahasiswa Toraja dapat bergerak bersama.

“Fakta sejarah dunia bahwa gerakan-gerakan yang besar dan berhasil itu umumnya digerakkan oleh Pemuda dan Mahasiswa. Saya merindukan ada sebuah gerakan yang besar dalam mempertahankan tanah Lapangan Gembira dan itu muncul dari Mahasiswa Toraya Indonesia, karena gerakan yang dimotori oleh pemuda dan mahasiwa umumnya masih murni dan tidak terkontaminasi.” Ungkap Pdt. Alfred Anggui.

Beberapa peserta zoom meeting mempertanyakan keseriusan Pemda Toraja Utara mengapa sampai 3 kali kalah mulai dari PN Makale, PT Makassar dan di Mahkamah Agung. Salah satu peserta zoom meeting  Tino Heidel Ampulembang  yang merupakan Advokat dari Samarinda mengatakan seharunya Pemda Toraja Utara sejak awal memasukkan gugatan ke PTUN, laporkan pidananya termasuk mempertanyakan sikap Dewan Adat seharunya melaksanakan sidang dewan adat.

Umumnya peserta zoom meeting yang berjumlah kurang lebih 100 peserta setuju bergerak bersama dalam mempertahankan Lapangan Gembira ini. (*)

Redaksi Kabarpemuda-id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here