Penawa Melona Ne’ Karangan, Jiwa Raganya Untuk Toraja

0
8608

BRIGJEN MESACH FRANS KARANGAN

Brigadir Jenderal (Brigjen) Mesach Frans Karangan lebih dikenal Frans Karangan, seorang Jendral Pertama asal Toraja, namanya sangat dikenal, dikagumi dan dihormati. Demi mempertahan harkat dan martabat Toraja, ia rela mempertaruhkan jiwa dan raganya. Saat Andi Sose’ menginvasi Toraja, beberapa tokoh Toraja lainnya seperti Frans Karangan, J. Pappang, Parengge’ Buntao, Sanda, Manika, Belo dan lain-lain mengangkat senjata melawan Andi Sose’.  Frans Karangan pernah menjadi anak buah dari Qahhar Mudzakkar dan Andi Sose. Komandan Rezimen adalah Qahhar Mudzakar, Komandan Batalyon 720 adalah Andi Sose’ yang memiliki 4 Kompi, salah satunya Kompi 2 yang di pimpin Frans Karangan.

***

Semasa hidupnya, Frans Karangan tidak pernah mengambil tindakan untuk memperkaya diri sendiri, tidak merampas dan tidak menindas rakyat. Dalam setiap kesempatan Frans Karangan selalu menasehati dan mengingatkan anak buahnya “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu”, nasihat ini di kutip dari ayat Alkitab, Lukas 3 ayat 14, termasuk nasihat ini selalu disampaikan  kepada anak-anaknya.

Hingga akhir hayatnya, Frans Karangan tidak memiliki rumah pribadi. Rumah yang beramat di Jl. Sungai Tangka 25 (belakang Rujab Gubernur Sulawesi Selatan) ditinggali sejak tahun 1960 adalah rumah dinas milik TNI AD, dan saat istrinya meninggal, rumah tersebut kembali ke Negara.

Jika kembali pada masa lalu, sebagai tentara yang memiliki pengaruh, Frans Karangan tentu mempunyai kesempatan dan peluang besar untuk memperkaya diri sendiri dan dapat mengambil tanah hingga berpuluh-puluh hektar. Hal ini tidak dilakukan, karena dalam dirinya terbentuk karakter mengabdi. Masyarakat Toraja mengatakan Penawa Melona Ne’ Karangan yang artinya Frans Karangan memiliki hati tulus dan mulia.

Frans Karangan lahir di Rantepao, tanggal 12 Mei 1927 meninggal pada usia 67 tahun tepatnya pada 23 Juli 1994. Atas jasa-jasanya, Frans Karangan di makamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Buntu Lepong Toraja Utara.

Mengapa dikebumikan di TMP Toraja?, adalah permintaan beliau saat sakit dan masih di rawat di RSPAD Gatot Subroto, Frans Karangan berpesan kepada istrinya, bahwa bilamana nanti wafat, harus dikebumikan di Toraja. Saat Frans Karangan meninggal di RSPAD Pelamonia Makassar, Pangdam VII/Wirabuana sempat meminta agar Frans Karangan di bawah ke Jakarta untuk dimakamkan di TMP Kalibata, tetapi istrinya menolak sesuai permintaan almarhum untuk dikebumikan di Toraja di tanah kelahirannya. Pangdam sempat mengatakan bahwa beliau seharusnya di kebumikan di TMP Kalibata bukan di Buntu Lepong.

Frans Karangan lahir dari pasangan  Karel Bassang Karangan (seorang mantri kesehatan) dan Lai’ Rupang (ibu rumah tangga).

Istrinya bernama Zarah Sulle Sampetoding seorang perawat yang setia menemani Frans Karangan selama dalam bertugas, zarah Sulle Sampetoding juga berprofesi sebagai tenaga medis pasukan Frans Karangan, dikarunia 8 anak (Orpha Abigail Karangan, Cornelius Batara Karangan, Petrus Salu Karangan, Frieds Januarman P. Karangan, Fernando Satriawan T. Karangan, Febian Pasarrin Karangan, Ony Rantebilik Karangan dan Fransaria Shinta A. Karangan).

Saat kecil Frans Karangan akrab di panggil Mesach, Sekolah di Hollandsche Inlandsche School atau Sekolah Rakyat (1933-1936), kemudian melanjutkan pendidikannya di Schakel School (Sekolah Rakyat persamaan 1936-1941), kemudian ke Kyoin Yosedjo (1942-1944), Tahun 1948 lulus  di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Mulo-B), setara SMP, dan tahun 1951 di Algemeene Middelbare School (AMS-B), setara SMA. Di mata teman-temannya, Frans Karangan termasuk anak yang cerdas, karena dengan mudah menguasai bahasa, hingga akhirnya hayatnya Frans Karangan mahir berbahasa Ingris, Belanda dan Jepang. Termasuk mahir menggunakan bahasa daerah antara lain Bugis, Makassar dan Kaili.

Frans Karangan bersama istri Zarah Sulle Sampetoding

MENJADI SEORANG PRAJURIT

Sebelum Indonesia Merdeka, Frans Karangan tertarik dengan dunia militer. Saat Jepang menduduki Indonesia, Jepang mendirikan sebuah organisasi yang bernama Seinendan, sebuah organisasi barisan pemuda yang dibentuk tanggal 09 Maret 1943 oleh tentara Jepang di Indonesia. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk mendidik dan melatih para pemua Indonesia dalam mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Akan tetapi maksud sebenarnya adalah pemuda Indonesia membantu militer Jepang dalam menghadapi pasukan sekutu. Frans Karangan bergabung dalam organisasi Seinendan pada tahun 1944 di Rantepao.

Setelah Soekaerno-Hatta memproklamirkan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dalam sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), BKR dibentuk pada tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan pada tanggal 23 Agustus oleh Presiden Soekarno.

Dengan demikian resmi berdiri Badan Keaman Rakyat (BKR), anggota dari BKR adalah pemuda Indonesia yang sebelumnya telah mendapat pendidikan militer sebagai tentara Heiho, PETA, KNIL, Seinendan dan lain sebagainya.

Frans Karangan yang sebelumnya pernah mengikuti pelatihan di organisasi  Seinendan memilih bergabung dalam BKR pada tahun 1945. Sejak saat itu, Frans Karangan meniti karir dalam dunia militer sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 BATALYON 720/WOLTER MONGINSIDI

Di Sulawesi Selatan terjadi peristiwa DI/TII dibawah pimpinan Qahhar Mudzakkar. Andi Sose yang awal mulanya bergabung dalam perjuangan prajurit Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) karena kecewa terhadap pemerintahan Soekarno, pasukan KGSS hanya  sekitar 30 % diterima dalam Brigade Hasanuddin, sekitar 70 % tidak diterima karena tidak memenuhi syarat kemiliteran. Setelah kecewa terhadap presiden Soekarno, Qahhar Mudzakkar lebih memilih memproklamirkan Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Andi Sose tampaknya kecewa terhadap Qahhar Mudzakkar, merasa bahwa perjuangan KGSS tidak sesuai lagi dengan cita-cita awal. Maret 1952, Andi Sose bersama pasukannya berbalik haluan, lebih memilih bagian dari NKRI. Pasukan Andi Sose dijadikan satu Batalyon yakni Batalyon 720 yang ditempatkan di Tana Toraja.  Batalyon memilik 4 Kompi, salah satunya Kompi 2 di bawah pimpinan Letnan Satu Frans Karangan. Batalyon 720 awalnya disambut baik oleh masyarakat Toraja, karena beranggapan Batalyon ini  akan mampu menjaga daerah Toraja dari gangguan DI/TII pimpinan Qahhar Mudzakkar, lama kelamaan Batalyon 720 tidak disenangi masyarakat Toraja karena merasa eksistensi etnis dan budaya Toraja terancam. Situasi ini membuat Frans Karangan terpanggil hatinya untuk membela Toraja. Secara diam-diam membentuk perlawanan dan semakin menjauh dari Andi Sose. Situasi semakin memuncak saat Andi Sose mendirikan mesjid raya di kolam Makale, dan memaksa orang-orang Toraja yang pergi ke Gereja pada hari minggu membawa batu kali ke lokasi mesjid yang akan dibangun. Akhirnya terjadilah konflik  pada tanggal 04 April 1954 di Makale, sebelumnya pasukan Frans Karangan berkumpul di Rantepao untuk merencanakan penyerbuan. Frans Karangan memimpin langsung pertempuran ini hingga memaksa Andi Sose dan pasukannya meninggalkan Tana Toraja. Kemudian diganti Batalyon 422 dari Kodam Diponegoro (Bigalke, 1981:408-418).

Kemudian Batalyon 422 Diponegoro ditarik dari Toraja, dan digantikan pasukan Brawijaya dari Jawa Timur. Kompi 2 Frans Karangan kemudian ditempatkan di Palu, Sulawesi Tengah dalam rangka mengatasi gangguan keamaan dari pasukan DI/TII.

SETIA TERHADAP NKRI DAN TERBENTUKNYA BATALYON R

Kompi Frans Karangan yang sebelumnya berada dibawah Batalyon 720 yang bermarkas di Makale, dipindahkan ke Batalyon 719 yang berada di Sulawesi Tengah. Dengan demikian kompi Frans Karangan tidak ada lagi kaitannya dengan Batalyon 720.

Sebelum bertugas di Palu, Frans Karangan dan pasukannya bertugas di Pucue’ (pare pare), untuk menghadapi gangguan keamanan yang ditimbulkan oleh DI/TII. Kemudian pasukan Frans Karangan dipindahkan lagi ke Palu untuk mengatasi gangguan keamanan DI/TII di daerah Sulawesi Tengah.

Pada tanggal 02 Maret 1957 terjadi Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta) sebuah gerakan pemberontakan terhadap pemerintahan Soekarno. Pusat pemberontakan ini berada di Makassar yang pada waktu itu merupakan ibukota Sulawesi, setahun kemudian, pada tahun 1958 Markas Besar Permesta di pindahkan ke Manado.

Batalyon 719 memilik 4 Kompi. Pada waktu Permesta meletus, pasukan Batalyon 719 turut membantu operasi Djakarta II dipimpin Letkol D.J. Somba (Salah satu pimpinan Permesta), yang akan memukul dan menyerbu Jakarta dari arah Indonesia Timur.

Memang sebelumnya Batalyon 719 berada dibawah garis komando Sektor II/Resimen Team Pertempuran (RTP) Anoa (RTP-Anoa) yang mencakup wilayah Sulawesi Tengah, di bawah komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah (KDM-SUT). Resimen ini dibentuk pada bulan oktober 1957 dan dibubarkan pada bulan Agustus 1958.

Pada tanggal 19 Februari 1958, dua hari setelah KDM-SUT memutuskan hubungan dengan Pemerintahan Soekarno, D.J. Somba melantik Mayor Jan Wellem Gerungan sebagai komandan RTP-Anoa bermarkas di Poso.

Inti pasukan RTP-Anoa adalah adalah Batalyon 719 di bawah komando Lukas J. Palar. Kemudin Batalyon 719 dipecah menjadi 2 Batalyon yakni Batalyon “Q “ dan “R”, kemudian disusul Batalyon “N” dan “U”.

Batalyon Q di pimpin Mayor Lukas J. Palar/Frans Karepouan, Sedangkan Batalyon R di pimpin Kapten Frans Karangan.  Batalyon R yang dipimpin Frans Karangan lebih memilih setia terhadap NKRI dari pada ikut PRRI/Permesta. Batalyon R ini menjadi cikal bakal lahirnya  Batalyon 758.

Awalnya Frans Karangan dan pasukannya mendukung Permesta, karena Batalyon 719 merupakan salah inti pendukung Permesta di Sulawesi Tengah, tetapi di tengah jalan pada akhir tahun 1957 Frans Karangan berbalik mendukung Pemerintah Pusat. Berbaliknya Frans Karangan mendukung pemerintah bermula adanya perpecahan internal RTP-Anoa. Frans Karangan merasa bahwa pasukannya selalu dianak tirikan dalam beberapa kebijakan tugas. Semua Pasukan Frans Karangan berasal dari Toraja, merasa dirinya diperlakukan tidak adil, solidaritas kesukuan muncul, akhirnya Frans Karangan memilih bergabung dengan pasukan TNI dan berbalik melawan pasukan Permesta. Batalyon R terdiri dari 5 Kompi, setiap kompi beranggotakan sekitar 120 orang. Bergabungnya Batalyon R dengan pemerintah pusat mendapat dukungan dari Kepala Staff Brigjen TNI Gatot Subroto, dan datang ke Donggala membawa tambahan pasukan TNI dan logistik. (lihat cerita Iring Rombelayuk mantan pasukan Frans Karangan diFacebook Donggala Notutura, sisi lain Permesta di Sulawesi Tengah:Perang pasukan Frans Karangan Vs Resimen Anoa).

Adanya persenjataan lengkap yang disuplai oleh TNI AD yang diserahkan langsung oleh Kepala Staf TNI AD Gatot Subroto membuat Batalyon R secara psikologis menambah semangat berperang melawan pasukan Permesta. Sebelum Mayor Lukas J. Palar meninggal dalam pertempuran 10 Mei 1958, terjadi pertempuran dahsyat selam 2(dua) bulan antara Pasukan Permesta dengan Batalyon R di pengunungan kebun kopi arah menuju Parigi, pengejaran dilakukan hingga ke Toboli dan dari situ pasukan Permesta terpencar. Iring Rombelayuk  yang merupakan salah satu pasukan Frans Karangan yang ikut dalam pertempuran mengatakan “perbandingan jumlah pasukan dari pihak Permesta jauh lebih banyak dari pada pasukan Batalyon R, namun lebih unggul karena mendapat dukungan dari masyarakat dan lebih menguasai medan”.

Tanggal 10 Mei 1958, empat buah kapal  permesta yang sedang dalam perjalan dari poso menuju parigi ditenggelamkan oleh pesawat AURI (TNI AU). Komandan Batalyon Lukas J. Palar bersama anak buahnya gugur dalam peristiwa ini. Pasukan yang berhasil lolos, terpencar, sebagian mengikuti Mayor Jan Wellem Gerungan masuk hutan dan sebagian lagi menggabungkan diri dengan satuan-satuan Resimen Ular Hitam.

Saat Frans Karangan bertugas di Sulawesi Tengah terjadi peristiwa 1958 di Toraja yang dikenal dengan peristiwa Andi Sose’. Untuk mempertahankan harkat dan martabat Toraja, Frans Karangan mengirim beberapa pasukannya ke Toraja di bawah komando Lettu J. Pappang.

Frans Karangan saat berpangkat Letkol, Danyon R/758

PERISTIWA 1958

Awal tahun 1958, masyarakat Toraja kembali dikejutkan bahwa pasukan Brawijaya akan ditarik dari Tana Toraja untuk melawan pemberontakan Permesta di wilayah Sulawesi Utara dan akan digantikan Pasukan Andi Sose. Memang Andi Sose tidak lagi menjabat Komandan Batalyon, tetapi naik pangkat menjadi Komandan Resimen Infanteri 23, yang membawahi tiga Batalyon. Salah satu Batalyon dari Resimen Infranteri 23 akan menggantikan pasukan Brawijaya di Tana Toraja.

Partai Kristen Indonesia (Parkindo) yang merupakan partai politik utama di Tana Toraja saat itu memprotes atas penarikan Pasukan Brawijaya, belum lagi yang menggantikan adalah pasukan dari Andi Sose yang sebelumnya pernah berkonflik dengan masyarakat Toraja.

Parkindo mengutus delegasi ke Jakarta dalam rangka memprotes penarikan pasukan Brawijaya. Sebuah resolusi bersama dengan partai-partai politik lainnya yang ada di Toraja juga dikirim ke Gubernur Sulawesi Selatan dan Mendagri. Namun, usaha semua itu gagal. Akhirnya, pasukan Andi Sose kembali bertugas di Toraja.

Masyarakat Toraja memandang hal ini sebagai penghinaan besar.  belajar dari pengalaman tahun 1954, Pasukan Andi Sose memiliki misi tertentu. Frans Karangan yang bertugas di Sulawesi Tengah dalam menghadapi Permesta merasa kwatir akan penempatan kembali pasukan Andi Sose, karena tidak mungkin meninggalkan tugas,  akhirnya Frans Karangan mengirim pasukan satu kompi di bawah pimpinan Lettu J. Pappang dari Palu ke Toraja. Begitu juga sebagian besar tentara Toraja dari unit-unit lainnya minta cuti dan ada yang dicutikan kembali ke Toraja.

Sebagai bentuk protes terhadap kebijaan pusat penempatan pasukan Andi Sose di Toraja, masyarakat Toraja yang ada di Kota Makale dan Rantepao melakukan boiket dengan  cara mengungsi ke desa-desa yang aman. Tanggal yang disepakati untuk melakukan boikot adalah 20 Mei 1958, bertepatan dengan hari kebangkitan Nasional. Ini antara lain juga untuk menyatakan kepada pemerintah pusat bahwa nasionalisme masyarakat Toraja jangan diragukan.

Pada peristiwa Mei 1958 simbol yang digunakan adalah simbol perjuangan To Pada Tindo Jilid II. Lettu J. Pappang yang dipercaya Frans Karangan untuk memimpin pasukan membentuk Barisan Komando Rakyat (BKR) yang terdiri dari anggota kompinya, Organisasi Pertahanan Desa (OPD), Pelajar dan Penduduk.

Saat pasukan Resimen Infanteri 23 tiba di Makale, apa yang dikwatirkan masyarakat Toraja terulang kembali. Terjadi kontak senjata kecil-kecilan dengan BKR yang dibentuk Lettu J. Pappang. BKR menggunakan taktik mundur penuh hingga ke Pangala’, tempat lahir Pahlawan Nasional Pongtiku, pasukan Resimen Infanteri 23 maju mengejar pasukan BKR seakan-akan tanpa perlawanan. Sepanjang jalan yang dilalui pasukan Resimen Infanteri 23 membakar habis lumbung, Tongkonan, Rumah-rumah penduduk dan Sekolah-sekolah. Tersiar kabar bahwa komandan Resimen Infanteri 23 yang bertugas di Toraja  kebal peluru.

Saat tiba di Pangala’, BKR menghentikan taktik mundur. Kemudian Lettu J. Pappang mengambil alih dan mengkoordinir seluruh pasukan BKR.

Saat pasukan Resimen Infanteri 23 tiba di Pangala dalam keadaan letih tidak menyangka serangan besar-besaran dari pasukan BKR. Pertempuran sengit ini dimenangkan pasukan BKR. Pasukan Resimen Infanteri 23 yang masih tersisa mundur tak teratur meninggalkan banyak senjata, banyak pasukan meninggal, terluka dan tertawan, sedangkan dipihak BKR hanya beberapa orang saja. Menurut cerita yang menyaksikan kejadian tersebut, air sungai Maiting berubah menjadi warna merah, akibat banyaknya darah yang tumpah. Setelah tiga hari kemudian, semua pasukan Resimen Infanteri 23 di tarik dari Makalae dan meninggalkan Tana Toraja. Sebelum terjadi penarikan pasukan, antara pasukan Resimen Infanteri 23 yang ada di Rantepo dan Makale putus komunikasi akibat tekanan pasukan BKR, bantuan ke Rantepo tidak ada, akhirnya pasukan yang ada di Rantepao mundur tengah malam lewat La’bo-Randan Baru-Sanggalla menuju Makale. Pasukan BKR terlambat mengetahui  pelarian itu mencoba mengejar. Sayangnya pasukan BKR hanya berhasil mendapatkan pasukan dibaris terbelakang dan menawannya (lihat Bigalke, 1981:436-446).

Makam Frans Karangan di Taman Makam Pahlawan Buntu Lepong Toraja Utara

KOMPI II /720 CIKAL BAKAL LAHIRNYA YONIF 700/RAIDER  KODAM VII/WIRABUANA

Batalyon Infanteri 720/Wolter Monginsidi yang berkedudukan di Makale, Tana Toraja  di bawah pimpinan Kapten Andi Sose memiliki empat Kompi, yang salah satu kompinya dipimpin Lettu MP Frans Karangan, diresmikan menjadi Batalyon R, yang menjadi cikal bakal lahirnya Batalyon 758 ROI II tahun 1958. Dari sini, disusun sebagai Batalyon Inti dalam rangka pembentukan satu Batalyon RIT (Raider Indonesia Timur), yang menjadi Batalyon 700/RIT, tanggal 20 Maret 1963.

Pada tahun 1967, batalyon ini kembali disahkan sebagai Batalyon yang menggunakan TAP 53-50 (ROI 64). Dan SK Menteri Pangab nomor Kep/966/8/1967 tanggal 17 Agustus 1967 yang menyatakan 28 Maret 1967 ditetapkan sebagai tanggal lahirnya Batalyon Infanteri Lintas Udara (Yonif Linud) 700. Angka 28 ini, diambil dari jumlah “Tali Parasut” yang digunakan untuk terjun pasukan Batalyon 700/RIT. Tanggal 29 Oktober 1970, Batalyon 700/Linud mengalami perubahan nama menjadi “Batalyon Linud 700”.

Kemudian, tanggal 25 Februari 1985, berubah “Yonif 700” dengan tugas pokok sebagai “Satuan Pemukul Kodam XIV/Hasanuddin”. Tahun 1986 nama “Yonif 700” berubah menjadi “Yonif Linud 700/BS”. Status ini tetap hingga terjadi pembekuan sejumlah Kodam, dan Kodam VII/Wirabuana yang dari gabungan Kodam XIV/Hasanuddin dengan Kodam XIII/Merdeka. Dan tahun 2003, berubah lagi menjadi Yonif 700/Raider Kodam VII/Wirabuana.

Frans Karangan setelah melaksanakan tugas di Sulawesi Tengah dalam menghadapi Permesta, berkarir menjadi politisi sebagai anggota DPR/MPRS dan terakhir menjabat Aspri KASAD tahun 1977 – 1982 dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal (Brigjen).

RIWAYAT KEDINASAN

  1. Dan Seinendan, Rantepao, 1944-1945;
  2. Guru SR., Sa’dan, 1944-1946;
  3. Danki BKR, Rantepao, 1945-1946;
  4. Danki Lapris, Makassar, 1946-1949;
  5. Danki III MBR, Makassar, 1949-1952;
  6. Danki II/720, Rantepao, 1952-1953;
  7. Danki Frans, Pare-Pare, 1953-1957;
  8. Dan Sektor IV/RI 24 TT VII, Palu, 1955-1957;
  9. Danyon R/758, Palu, 1957-1961;
  10. Anggota MPRS, Palu, 1960-1966;
  11. Anggota Asisten III Mandala, Makassar, 1962-1963;
  12. Wa. Asisten Kodam XIV/Hasanuddin, Makassar, 1963-1964;
  13. Kapendam XIV/Hasanuddin, Makassar, 1964-1965;
  14. Ka. Iwaskudam XIV/Hasanuddin, Makassar, 1965-1968;
  15. Anggota DPRD Tk. 1 Prop. Sulawesi Selatan, Makassar, 1967-1971;
  16. Irjen Dam XIV/Hasanuddin, Makassar, 1968-1071;
  17. Kabag Lacbang, Makassar, 1969-1971;
  18. Anggota DPR-RI, Jakarta, 1971-1977;
  19. Aspri Kasad, Jakarta, 1977-1982.

TANDA JASA

  1. Bintang K.E.P. Kelas III;
  2. Bintang Sewindu;
  3. Satya Lencana Bakti dalam rangka Operasi PRRI (Permesta) Palu;
  4. Satya Lencana Kesetiaan 16 Tahun;
  5. Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun;
  6. Satya Lencana Perang Kemerdekaan I;
  7. Satya Lencana Perang Kemerdekaan II;
  8. Satya Lencana GOM III, dalam Operasi Andi Aziz/APRA;
  9. Satya Lencana GOM IV, dalam Operasi DI/TII Qahhar Mudzakkar;
  10. Satya Lencana Sapta Marga, dalam rangka penudagasan PRRI/Permesta;
  11. Satya Lencana Setia Dharma, dalam rangka Operasi Mandala;
  12. Satya Lencana Dwija Sistha
  13. Satya Lencana Penegak, dalam rangka operasi G.30 S/PKI

LAYAK MENJADI INPIRASI.

  1. Frans Karangan sangat layak dijadikan Inspirasi bagi generasi muda khususnya bagi generasi Muda Toraja, seorang tokoh yang tidak diragukan kesetiannya terhadap NKRI. Di saat terjadi konspirasi menudu Toraja bagian dari Permesta, Frans Karangan bersama anak buah menunjukkan bahwa tuduhan itu sama sekali tidak benar.
  2. Jiwa dan raganya dipertaruhkan untuk mempertahankan harkat dan martabat Toraja, bisa di bayangkan andai kata tidak ada Frans Karangan, kemungkinan sejarah, adat dan budaya Toraja terancam eksistensinya.
  3. Sosok pemimpin yang selalu menasehati dan mengingatkan anak buahnya termasuk kepada anak-anaknya “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu. Dalam benak masyarakat Toraja selalu mengatakan “Umba ladipaolai tu Penawa Melona Ne’ Karangan”, yang artinya mau dikemanakan budi baik dan ketulusan Frans Karangan.
  4. Frans Karangan selalu disandingkan sama dengan Pahlawan Nasional Pongtiku. Selain simbol perlawanan To Pada Tindo, Kedua tokoh ini selalu dijadikan symbol perlawanan masyarakat Toraja jika terjadi gangguan dalam  mengancam eksistensi Toraja.

Sumber: KNPI Toraja Utara/BT/dihimpun dari berbagai sumber/wawancara salah satu anaknya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here